Bab 41 Di Ujung Tanduk

22 2 0
                                        


"Gue gak akan pernah maafin Ello, Bas..." ucapnya dengan suara serak dan dingin, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Embun keluar dari toilet, pintu berayun pelan di belakangnya. Matanya bergerak cepat, menyusuri setiap sudut ruangan, mencari sosok Laksa. Ia meremas ujung gaunnya, napasnya tersengal. Punggungnya naik turun dengan cepat. Pak Miko masih berdiri di sana, menunggunya dengan raut wajah khawatir. "Mas Laksa di mana Pak Miko?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Den Laksa sudah pergi duluan, Mbak."

Tanpa menjawab, Embun berbalik dan berlari keluar kamar, langkahnya tergesa-gesa. Pak Miko mengikutinya dari belakang.

Tak lama setelah Embun dan Pak Miko menghilang di balik pintu, seorang wanita masuk ke kamar. Langkahnya mantap, ekspresinya dingin.

"Makasih, kamu sudah tepatin janji," ucapnya pada Sebastian yang masih bersimpuh di lantai.

Sebastian memalingkan wajahnya yang memar. Ia menyentuh bibirnya yang berdarah, lalu mengusapnya dengan punggung tangan. Ia bangkit perlahan, meraih kemejanya yang tergeletak di lantai dan mengenakannya.

"Ello jangan senang dulu. Membuat mereka bertengkar, tidak berarti Ello akan punya kesempatan untuk kembali pada Laksa," ucap Sebastian sinis, mengancingkan kemejanya dengan gerakan kasar—matanya menyipit.

"Itu urusanku," balas wanita itu. Ia meraih sebuah flashdisk dan melemparkannya ke atas ranjang. "Itu adalah rekaman yang aku janjikan kemaren. Aku jamin, Laksa tidak akan pernah tau bahwa kamu adalah dalang di balik kecelakaan orang tuanya."

Sebastian melirik flashdisk itu sekilas, lalu kembali menatap wanita itu. Senyum sinis terukir di wajahnya. "Zivanya, Zivanya. Sekeras apapun Ello berusaha membela diri, Ello tetap aja selingkuh. Jadi jangan harap, Ello bisa bahagia sama Laksa setelah ngehancurin hubungan gue." Ia berjalan ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan wiski ke gelas, lalu meneguknya dalam satu tegukan. Cairan itu membakar tenggorokannya.

"Aku selingkuh karena dijebak sama kamu," balas Zivanya, suaranya dingin dan menusuk.

"Hah..." Sebastian tertawa hambar, mengusap bibirnya lagi. Ia kembali menuangkan wiski, kali ini lebih banyak. "Itu bedanya Lo sama Embun. Kalau Lo emang setia, Lo gak akan pernah sampai bercinta dengan orang lain. Sedang Embun, dalam keadaan tak sadar saja. Dia masih menyebut nama Laksa. Jadi Ello gak akan pernah punya kesempatan lagi buat dapetin dia." Ia meneguk habis wiskinya.

Zivanya menatap Sebastian dengan tatapan tajam, rahangnya mengeras. "Aku akan buktikan, Laksa akan kembali padaku," ujarnya mantap, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar, heelsnya berdentang di lantai koridor.

Sebastian tersenyum meremehkan, sudut bibirnya terangkat sinis. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup, bayangan Zivanya sudah lenyap di balik sana. Ia kembali ke meja bar, menuangkan wiski hingga hampir tumpah. Gelas kristal itu berdentang kecil saat bersentuhan dengan botol. Ia berjalan ke jendela besar, menghadap pemandangan di luar hotel. Matanya tertuju pada dua sosok yang bergerak cepat di kejauhan: Embun yang berlari mengejar Laksa. Ia meneguk wiskinya perlahan, cairan pahit itu membasahi lidahnya. Matanya menyipit, alisnya bertaut. Pikirannya berkecamuk, namun ekspresinya tetap datar, sulit dibaca.

Sementara di luar hotel, Embun berlari sekuat tenaga. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia memanggil, suaranya parau dan bergetar. "Mas... Mas Laksa. Tungguin Embun," teriaknya, langkahnya semakin cepat.

Laksa berhenti mendadak. Punggungnya menghadap Embun. Ia tidak menoleh.

"Mas... Apapun yang Mas Laksa lihat, Embun ndak tau apa-apa. Embun ndak tau bagaimana bisa ada di sini sama Mas Bastian."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang