Ponsel Pak Miko yang digenggamnya hampir terjatuh ketika mata Laksa menangkap berita itu—judul besar yang memuat nama Zivanya dan seorang pengusaha yang mengarah pada dirinya, terpampang di layar. Napasnya memburu, tak percaya Zivanya telah melakukannya. Wajah Laksa mengeras, rahangnya mengatup rapat. Tanpa pikir panjang, ia meraih jaket dan bergegas mengajak Pak Miko menuju kantor manajemen.
"Ayo, Pak. Antar saya ke kantor menejemen," pintanya dengan nada tajam dan mendesak.
Pikirannya berkecamuk sepanjang jalan. Ia mencoba menenangkan diri, tetapi bayangan rumor yang disebarkan Zivanya terus menghantui. Kata-kata dalam berita itu seperti pisau yang mengiris reputasinya. Apa jadinya jika perusahaan Laksa ikut dikaitkan dengan sekandal yang dia lakukan? Lebih dari itu, ini bukan hanya tentang dirinya—melainkan Embun. Hubungan yang baru saja ia bangun dengan hati-hati bisa hancur seketika karena ulah Zivanya.
Kali ini, ia tak akan tinggal diam. Rumor yang sengaja disebarkan Zivanya bukan hanya merugikannya secara profesional, tetapi juga mengancam sesuatu yang lebih berharga: cinta yang baru ia temukan.
Sesampainya di sana, ia mendorong pintu dengan tegas. Laksa melangkah masuk ke lobi kantor manajemen dengan langkah berat, bahunya tegang dan rahangnya mengatup erat. Pandangannya langsung tertuju pada meja resepsionis di ujung ruangan. Tanpa membuang waktu, ia menghampiri wanita muda di balik meja itu, wajahnya mencerminkan amarah yang berusaha ia kendalikan.
"Aku mau bertemu manajer Zivanya," katanya tegas, suaranya dingin dan tajam, membuat si resepsionis menelan ludah gugup.
"Maaf, Pak. Apa Bapak sudah ada janji?" tanya wanita itu dengan sopan, suaranya sedikit bergetar.
Laksa menghela napas pendek, dadanya naik-turun menahan emosi yang kian membuncah.
"Aku gak perlu janji," ucapnya sambil memukul meja, suaranya meninggi. "Cepat pertemukan aku dengannya!"
Suasana lobi yang semula tenang mendadak sunyi. Beberapa karyawan berhenti di tengah langkah mereka, menoleh dengan tatapan waspada. Bisik-bisik mulai terdengar di sudut-sudut ruangan, sementara mata-mata penuh rasa ingin tahu tertuju pada Laksa.
"Ma-maaf, Pak," jawab resepsionis dengan suara nyaris berbisik. Ia terlihat jelas gemetar, kedua tangannya berusaha tetap tenang di atas keyboard. "Tapi peraturan di kantor kami, semua pertemuan harus dijadwalkan terlebih dahulu."
Laksa menggeram, matanya menyala penuh kemarahan. Napasnya berat, nyaris seperti api yang siap melalap apa pun di hadapannya. Ia sudah tak peduli pada tatapan orang-orang di sekelilingnya—amarah yang ia pendam sejak membaca berita itu kini meluap, tak lagi bisa dibendung.
Langkah-langkah berhak tinggi yang menuruni tangga menarik perhatian seluruh ruangan. Zivanya muncul bersama manajernya, Prita, wajahnya tampak penasaran mendengar keributan yang terjadi. Dari atas, matanya menangkap sosok Laksa yang berdiri tegap di depan meja resepsionis, dikelilingi tatapan penasaran para karyawan. Namun, alih-alih panik atau khawatir, senyuman tipis justru menghiasi wajah Zivanya, seolah ini semua adalah bagian dari permainan yang menyenangkan.
Dengan santai, dia turun dan melangkah mendekat, sikapnya penuh percaya diri seperti biasa. Wajahnya sumringah saat akhirnya berhadapan dengan Laksa yang masih tampak murka.
"Halo, Laksa... Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini? Aku kan bisa minta resepsionis antar kamu ke ruanganku," katanya dengan nada ramah yang dibuat-buat, seolah tidak ada yang salah.
Laksa menatapnya tajam, senyum masam tergurat di wajahnya. "Hah... Bisa-bisanya kamu terlihat baik-baik saja setelah membuat onar," jawabnya dingin, suaranya rendah namun sarat emosi.
Tanpa rasa gentar, Zivanya malah mendekat lebih dekat, senyumnya tak pudar sedikit pun. Dia menggenggam tangan Laksa yang bertolak pinggang, seolah mencoba melunakkan suasana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
