Siang itu, Laksa dan Embun memilih untuk menikmati makan siang di Roemah Rempah-Plaza Senayan Jakarta Pusat. Sebuah restoran dengan suasana hangat yang memadukan nuansa tradisional dan modern. Lampu gantung dari anyaman rotan yang menerangi ruangan memberikan kesan nyaman, sementara aroma rempah menggugah selera sejak mereka melangkahkan kaki ke dalam restoran tersebut.
Embun, dengan senyum antusias, memesan Nasi Campur Bali, lengkap dengan lauk khas seperti sate lilit, ayam betutu, dan sambal matah. Untuk pencuci mulut, ia memilih Tape Bakar Gula Kelapa yang terbayang legitnya, serta segelas Es Teler untuk menyegarkan siang hari. Sementara itu, Laksa memutuskan untuk menikmati hidangan sederhana namun menggugah selera, yaitu Nasi Liwet yang kaya rasa ditemani segelas Lychee Iced Tea yang manis dan menyegarkan
Sambil menunggu makanan mereka datang, percakapan pun mengalir. Mereka membahas rencana pernikahan yang akan segera digelar, membicarakan detail undangan, lokasi, hingga tema yang akan mereka pilih. Embun menggigit bibir bawahnya, keningnya sedikit berkerut saat mencatat sesuatu di note dalam ponselnya.
Laksa tersenyum, matanya tak pernah berhenti menatap Embun. Garis-garis halus di sekitar matanya semakin terlihat saat senyum itu tersungging di wajahnya. Sesekali ia mengangguk kecil, menyetujui ide-ide Embun. Di tengah pembicaraan mereka, suasana restoran yang syahdu seolah mendukung momen intim itu, membuat siang yang biasa menjadi penuh makna.
Ketika makanan akhirnya datang, aroma harum rempah memenuhi meja mereka, membuat pembicaraan sejenak terhenti.
Embun menghirup aroma makanan itu dengan mata berbinar. "Emm... Baunya enak sekali, Mas."
"Iya, sepertinya enak," sahut Laksa sepakat.
Laksa dan Embun saling bertukar senyum, lalu memulai makan siang mereka, menikmati setiap gigitan yang kaya rasa.
Di tengah menikmati makan siangnya. Tatapan Laksa terus tertuju pada wajah Embun. Bahkan, sisa makanan yang belepotan di bibir kekasihnya itu, tak luput dari pantauannya.
Laksa mengulurkan tangannya, mengusap lembut bibir Embun tanpa banyak kata. Hal itu membuat pelanggan lain di sekeliling mereka menatap penuh iri. Mereka berbisik sambil sesekali tersenyum menyaksikan keromantisan Laksa dan Embun.
Namun tak di sangka, seorang pelanggan wanita paruh baya tiba-tiba datang menghampiri.
"Maaf, apa benar kamu Laksana?" tanyanya—menatap wajah Laksa dengan seksama. "Kamu pacar Zivanya, kan? Apa kalian akhirnya benar-benar berselingkuh?" tuduhnya, tanpa memerdulikan Embun.
Laksa menarik napas panjang, ia meletakkan sendoknya perlahan lalu menatap wanita itu tajam. "Buk, terlepas tuduhan Anda itu benar atau tidak, yang jelas—Anda sangat menganggu kami."
"Saya cuma tidak suka saja melihat tingkah kalian yang munafik," tuduhnya lagi.
Laksa mendorong kursinya ke belakang dengan kasar, beranjak berdiri. Darah seolah naik ke wajahnya, membuat matanya memerah dan urat-urat di lehernya menegang. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, buku-buku jarinya memutih.
Embun segera berdiri dan menghampiri Laksa. Ia meraih tangannya yang mengepal, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Matanya menatap Laksa dengan cemas, bibirnya sedikit bergetar. "Mas... sudah. Ndak perlu diladeni," bisiknya lirih.
"Buk... lebih baik Anda pergi sebelum saya memanggil pihak restoran," ancam Laksa, dengan napas bergemuruh.
Wanita itu melirik sinis, sebelah ujung bibirnya terangkat. "Kalian akan mendapat balasan karena menyakiti gadis sebaik Zivanya," desisnya, lalu pergi begitu saja.
Laksa kembali mengepalkan tangan, siap mengejar wanita itu. Namun dengan cepat, Embun meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat. "Mas... sudah. Jangan. Biarkan saja dia," bujuknya—memohon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
