Sebelum lupa, follow dulu dan vote...
.
.
Pagi itu, Embun menyeimbangkan tumpukan kardus berisi makanan ringan di kedua tangannya. Langkahnya mantap, ia menyusuri koridor kantor. Aroma gurih dan manis dari makanan itu menyeruak, bercampur dengan aroma parfum dan pendingin ruangan khas gedung perkantoran. Ia berniat membagikan makanan-makanan ini pada para endorser. Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada seorang wanita yang berjalan anggun di lobi.
Jantung Embun berdebar kencang. Ia mengerjap, memastikan penglihatannya. Wanita itu... Zivanya Florence? Artis sinetron yang wajahnya sering menghiasi layar kaca di rumahnya dulu? Embun merasa darahnya berdesir. Ia seperti melihat ilusi.
Tanpa sadar, kardus di tangannya sedikit bergeser. Ia nyaris menjatuhkannya. Dengan gerakan cepat, Embun menstabilkan tumpukan kardus itu, lalu, tanpa pikir panjang, ia berlari kecil, meneriakkan nama sang idola, "Zivanya!" Suaranya menggema di koridor yang mulai ramai.
Zivanya, yang sedang berbicara dengan seseorang, tersentak dan menoleh. Ekspresi bingung tergambar di wajahnya. Ia melihat seorang gadis berlari ke arahnya dengan napas tersengal.
Embun berhenti tepat di hadapan Zivanya, dadanya naik turun. Ia mencoba mengatur napas, sebelum akhirnya bisa bersuara, "Mbak... Ini Mbak Zivanya, kan? Artis... Kupeluk Engkau dari Jauh... kan?" Ia tersenyum lebar, matanya berbinar.
Zivanya tersenyum lembut. "Hai. Iya. Kamu tidak apa-apa? Tarik napas dulu," ujarnya sambil menatap Embun dengan ramah.
Embun menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk cepat. "Maaf, Mbak. Saya... saya terlalu senang. Saya penggemar berat Mbak Vanya," ucapnya dengan nada bersemangat. "Di kampung... semua keluarga saya juga mengidolakan Mbak. Mereka pasti tidak percaya kalau saya bertemu Mbak Vanya langsung."
Zivanya menatap Embun dengan hangat. "Embun? Itu nama kamu?"
Embun mengangguk malu-malu. "Iya, Mbak."
"Nama yang indah," puji Zivanya. "Terima kasih sudah menjadi penggemar saya. Tapi lain kali hati-hati ya, kalau berjalan. Bisa jatuh."
Mata Embun semakin berbinar. "Ya ampun, Mbak... Mbak Vanya tidak hanya cantik, tapi juga baik sekali!" serunya.
Zivanya terkekeh pelan. "Salamku untuk keluarga kamu, ya, Embun. Sekarang aku harus pergi. Ada pekerjaan yang menunggu."
"Baik, Mbak. Eh... boleh minta foto dulu?" pinta Embun dengan ragu, namun penuh harap.
Zivanya mengangguk. "Tentu saja. Ayo!"
Wajah Embun langsung berseri-seri. Ia dengan hati-hati menurunkan kardus-kardus itu ke lantai. Tangannya dengan cepat merogoh tas, mengeluarkan ponselnya. Ia berpose dengan berbagai gaya bersama Zivanya, senyumnya tak pernah luntur.
"Sudah ya, Embun. Aku benar-benar harus pergi sekarang," kata Zivanya, melirik jam tangannya.
"Baik, Mbak. Terima kasih banyak, Mbak Vanya!" ucap Embun tulus.
Zivanya tersenyum sekali lagi sebelum berbalik dan melangkah menuju lift. Embun terpaku, menatap punggung Zivanya hingga pintu lift tertutup. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya masih berdebar kencang.
Dengan tangan gemetar, Embun membuka galeri ponselnya. Senyumnya kembali merekah melihat foto-foto bersama idolanya. Tanpa ragu, ia membuka aplikasi pesan dan mengunggah foto-foto itu sebagai status.
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
