Bab 37 Curiga

19 2 0
                                        

Pagi itu, Laksa sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa file terlihat berserakan di atas meja. Laptopnya tak pernah padam, seolah ikut bekerja keras menemaninya tanpa henti. Deru pendingin ruangan tak mampu meredam panasnya tenggat waktu yang seakan membelenggunya.

"Halo Laksa..."

Pintu yang menggelegar disusul sapaan Sebastian yang tiba-tiba, membuat Laksa tersentak.

"Kok ello sibuk terus, sih?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.

Laksa sudah terbiasa dengan sikap kurang ajar Sebastian. Namun kali ini, raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang kentara. Bayangan peringatan Oma Tari tentang Sebastian tak pernah lepas dari benaknya.

Laksa menghela nafas panjang. "Ello tu kebiasaan ya, gak pernah ketok pintu dulu sebelum masuk."

Dengan santainya Sebastian menjawab, "Sorry... Sejak kapan lo sensi banget. Bukannya gue emang udah biasa begitu?"

Dalam hati, Laksa bergumam, 'Sejak sikap lo mencurigakan.' Ia memaksa bibirnya tersenyum. "Gue kaget, Bastian..." ujarnya sambil mengeratkan gigi. "Lagian ada apa, sih? Bukannya sibuk kerja, pagi-pagi malah ke sini."

"Gue bukan orang yang gila kerja kayak ello." Sebastian mendekati meja Laksa. Ia duduk bersandar di meja itu. "Lagian, gue kangen sama ello. Udah seminggu ini lo enggak nemuin gue. Ngapain aja sih, lo?"

"Gue sibuk..." Jawab Laksa singkat, lalu membereskan berkas di meja yang hampir di duduki Sebastian.

Sebastian bergeser, meletakkan kedua tangannya di tepi meja, sedikit mencondongkan tubuhnya dengan raut penasaran. "Sibuk ngurus pernikahan?" tanyanya, matanya lekat menatap Laksa.

Laksa mengalihkan pandangannya ke laptop. Ia terus melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat wajah Bastian. "Iya..." Jawabnya singkat.

Sebastian menegakkan badannya. Ia menarik napas panjang, seakan tak suka dengan jawaban Laksa. "Laksa, c'mon...! Serius banget lo soal pernikahan. Ello yakin, beneran cinta sama dia?"

Seketika, Laksa menghentikan jemarinya yang tengah sibuk mengetik. Pertanyaan itu seakan-akan mengusik telinganya. " Maksud lo apa?"

Sebastian menyeringai, berusaha menghilangkan kecurigaan Laksa yang seakan menyadari maksudnya. "Yah... Maksud gue, emang lo semudah itu move on dari Zivanya?" Tanyanya, terbata. Ia mengusap tengkuknya-berusaha menghilangkan grogi. Lalu membuang muka, menghindari tatapan Laksa. "Bukannya lo bilang cinta mati sama dia?"

"Itu dulu, Bastian. Sekarang gue enggak perduli soal Zivanya." Laksa bersedekap, menyandar di kursinya, menatap Bastian dengan dingin.

Kata-kata Laksa menghantam Sebastian. Matanya menyipit, emosi berkecamuk di dadanya. Tangannya terkepal di belakang tubuhnya. Batinnya berkata, 'Dari awal, harusnya gue yang dipilih Zivanya.'

Mata Laksa membulat, melihat Sebastian yang tiba-tiba terdiam tanpa ekspresi. "Ello ngapain bengong? Uda ah, balik sana! Gue mau kerja."

Suara Laksa membuyarkan lamunannya. Seketika, senyum palsu terukir di wajahnya. "Santai aja dong, Bro," ujarnya, menepuk pundak Laksa. "Oke, sekarang gue percaya lo udah dapat pengganti Zivanya. Tapi lo jangan anggurin gue dong. Hari ini gue ulang tahun. Ello bahkan gak nyelamatin gue."

Spontan, Laksa menatap wajah Bastian. Ia menghela napas panjang-memukul keningnya sendiri. "Ya ampun... sorry, Bas. Gue beneran lupa," sesalnya. Ia mengulurkan tangan—tersenyum simpul. "Selamat ya..."

"Gue enggak terima ucapan selamat di sini. Pokoknya, nanti malam lo harus datang ke pesta gue di club."

Belum sempat menjawab ajakan Sebastian, Embun datang membawa es kopi pesanan Laksa. "Mas ini—"

Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang