Hari ini menjadi langkah besar bagi Laksa, sebuah momen yang dipenuhi keberanian. Meski hatinya masih terasa berat, ia akhirnya memutuskan untuk menemui psikiater, memulai terapi yang selama ini ia tunda.
Dengan ditemani Pak Miko dan Embun yang menunggu di luar ruangan, Laksa membawa harapan besar untuk sembuh. Ia mengumpulkan kekuatan demi menghadapi luka lama yang selama ini mengurungnya. Upaya ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk senyuman Oma Tari, satu-satunya keluarga yang selalu ada untuknya. Dalam hatinya, Laksa bertekad untuk membuka diri dan memberi kesempatan pada seseorang untuk mengisi ruang hatinya. Ia berharap, kali ini ia bisa mengatasi bayang-bayang ketakutan yang selama ini membatasi langkahnya.
Ruangan terapis itu terasa tenang, dindingnya dipenuhi warna lembut, krem bercampur sentuhan pastel, menciptakan suasana yang hangat. Sebuah sofa empuk berwarna abu-abu muda berdiri di tengah, diapit oleh kursi kayu dengan bantal-bantal kecil yang tampak nyaman. Meja kecil di antara mereka dihiasi lilin aromaterapi yang menyebarkan wangi lembut lavender, menenangkan jiwa yang gelisah.
Laksa duduk dengan tenang di sofa yang empuk, dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang mendudukinya. Di hadapannya, seorang terapis wanita duduk dengan sikap ramah, wajahnya dihiasi senyum lembut yang memancarkan kehangatan dan pengertian. Suara detak jam di dinding terdengar samar, mengisi keheningan dengan irama yang menenangkan, seolah mengingatkan bahwa di ruangan ini, setiap momen dikhususkan untuk pemulihan dan refleksi. Setelah beberapa saat hening yang penuh makna, sesi pertanyaan pun dimulai.
"Halo Laksa... Terima kasih sudah datang hari ini. Saya tahu mungkin tidak mudah untuk berbicara tentang apa yang kamu alami. Bagaimana perasaan kamu saat ini?"
"Saya merasa lelah, Dok... sudah lima tahun sejak hubungan terakhir saya, tapi rasanya seperti luka itu belum benar-benar sembuh."
"Itu sangat wajar, Laksa. Terkadang, luka emosional membutuhkan waktu dan proses untuk benar-benar pulih. Apa yang menurut kamu membuat luka itu terasa belum sembuh?"
"Saya tidak bisa melupakan bagaimana dia mengkhianati saya, Dok. Saya merasa sulit mempercayai siapa pun lagi, dan setiap kali seseorang mencoba mendekati saya, saya mundur. Saya takut akan disakiti lagi."
"Saya mendengar rasa sakit dan ketakutanmu, Laksa. Pengkhianatan memang bisa meninggalkan bekas yang dalam. Ketakutanmu adalah cara pikiran kamu mencoba melindungi diri dari rasa sakit yang serupa. Apakah kamu merasa ketakutan ini memengaruhi aspek lain dalam hidupmu?"
"Iya. Saya jadi menutup diri, bahkan dengan teman-teman saya. Saya merasa lebih nyaman sendiri, tapi terkadang saya juga merasa sangat kesepian."
"Kesepian bisa menjadi tanda bahwa ada bagian dari diri kamu yang ingin terhubung kembali dengan orang lain, meskipun ada rasa takut. Menurut kamu, apa yang membuatmu ingin membuka hati lagi saat ini?"
"Saya ingin membahagian nenek saya, Dok. Saya sudah terlalu sering mengecewakannya. Oma ingin saya segera menikah dan hidup bahagia. Tapi saya tidak tahu harus memulai dari mana."
"Langkah pertama sudah kamu ambil dengan datang ke sini dan menyadari bahwa kamu ingin perubahan. Itu luar biasa. Untuk membantumu membuka hati lagi, mari kita coba memahami apa yang kamu butuhkan agar merasa aman dalam hubungan baru. Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan yang sehat dan penuh kepercayaan?"
"Mungkin hubungan di mana saya bisa merasa dihargai dan tidak khawatir akan dikhianati lagi. Sebenarnya, saya bingung, Dok. Ada seorang wanita yang saya suka. Setiap kali bertemu dia, jantung saya terus berdebar. Rasanya seperti... saya ingin selalu berada di dekatnya. Tapi, setiap saya mulai berpikir untuk menjalin hubungan, rasa takut itu kembali muncul."
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana Embun ( On Going Dan Proses Revisi )
RomanceLaksa, mengalami trauma jatuh cinta akibat dihinati pacarnya, Zivanya. Ia rela menyelingkuhi Laksa dengan seorang sutradara demi mengejar karirnya sebagai artis. Akibatnya, Laksa selalu menolak perjodohan yang diatur oleh neneknya, Oma Tari. Sampai...
