_________________
Typo tandai
.
.
Playlist: Airplanes~Adam Ulanicki
__________________
.
.
"Setelah beberapa hari, pernikahan kamu?" Sheerin memberi senyuman sarkas pada sang adik yang duduk lima belas menit lalu setelah tiba di kediaman keluarga. Zara sudah menduga pertanyaan seperti ini.
"Susah? Belum terbiasa--
"Kak, dia nggak se-miskin itu" Sahut Zara, ia memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang menyerang. Kehidupan akhir-akhir ini, Zara merasa baik-baik saja hanya saja terkadang kesulitan berjalan.
Semua orang tahu penyebabnya.
"Zara, pernikahan itu dilakukan tanpa rencana, ya meskipun karena kesalahan kalian. " Sheerin menatap Zara serius, ia tahu jika tak baik ikut campur dalam kehidupan baru yang Adik nya jalani, tapi Sheerin tetaplah seorang Kakak yang peduli dengan Adiknya. Bahkan latar belakang pernikahan Zara membuatnya bergidik.
"I know, tapi semua berjalan nggak seburuk yang kakak bayangkan. " Zara menyesap secangkir minuman di hadapannya, ia suka di sini meski hidup dengan pria yang ia cintai memanglah impiannya, hanya saja Zara merindukan rumah nya.
"Mungkin lebih buruk hubungan ku sebelum menikah, " Sheerin menghela napas panjang, tak ada salah nya kalimat yang Zara ucapkan, ia bersyukur jika Zara selamat dari Mario hanya saja nampak jika saat ini Zara memiliki masalah lain. Ah, atau mungkin Sheerin yang terlalu mengikuti kehidupan sang Adik, ia khawatir jika tempat tinggal Zara yang baru mungkin saja tak nyaman bahkan jauh dari kata nyaman.
"Kamu benar, sebagai keluarga kita hanya memastikan, kamu tahu sendiri laki-laki itu datang ke sini mohon ke Papa, "
"Untuk sebuah pekerjaan yang kita tidak butuh. " Zara mengangguk, ia salah yang belum memberi tahu tentang kehidupan baru nya, tentang kehidupan yang Cedrik berikan padanya. Itu lebih dari yang pernah ia bayangkan meskipun pada saat belum berencana menikah.
"Aku paham, I got more than that." Sheerin menarik satu alisnya, ia menatap Zara bertanya dengan apa yang Zara maksud barusan.
"Dimana Mama?" Zara beranjak dari duduknya, ia melirik jam besar yang tergantung di dinding, baru jam empat sore, mungkin ia bisa lebih lama , lagipula Cedrik tak akan tahu keberadaannya. Zara sengaja tak memberi tahu tentang kepergiannya kepada suaminya.
"Halaman belakang. " Zara mengangguk paham, lalu berjalan menuju tempat dimana sang Ibu berada.
Hanya ada Sheerin di ruang tamu, berusaha mencari kesibukan lain selain mengkhawatirkan kehidupan Zara.
Selang beberapa menit kepergian Zara, suara bel pintu berbunyi. Sheerin melihat sekeliling, tak ada yang bisa ia mintai tolong untuk membuka pintu, ia malas beranjak dari duduknya. Tak mungkin jika Ayah nya, jika sang Ayah pulang tentu akan langsung membuka tanpa memencet bel lebih dulu.
"Huft!" Dengan langkah malas Sheerin beranjak ke arah pintu seiring bunyi bel yang makin terdengar lebih banyak dari sebelumnya.
Clik
"Ya-"
"Kamu. " Raut wajah Sheerin nampak berubah kaget sekaligus familiar dengan orang yang berdiri di depan pintu, pria itu menggunakan setelan formal yang jarang Sheerin lihat semenjak pria itu bekerja di sini sebelum menikah dengan Adik nya.
"Untuk apa kamu datang ke rumah saya!?" Tanpa menjawab pertanyaan Sheerin, Cedrik menepis keberadaan Sheerin yang menghalanginya langkahnya.
Ia tak suka saudari istrinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Favorite Chef
RomansaRe-Write [Adult - Be wise!!] Orang gila mana yang memiliki kehidupan terjamin dalam keluarganya malah memilih melarikan diri dengan seorang pria yang tak setara dengan nya. Hanya seorang Chef di keluarga nya. Tapi siapa sangka, pria itu menyimpan...
