___________________
Update
.
Typo tandai
.
.
Playlist : "Slut!" ~ Taylor Swift
_______________________
.
.
Zara menatap ke samping nya, pria itu menunggu Zara mungkin sejak awal Zara di bawa ke Rumah Sakit. Tangan Zara bergerak menyentuh tangan Cedrik yang berada di sampingnya. Ya, pria itu dengan sadar menatap Zara.
"Sudah lebih baik?" Tanyanya, terdengar datar dengan tatapan yang hanya tertuju pada Zara.
Zara mengangguk. "Sekarang, aku boleh pulang?"
"Aku lebih baik dari sebelumnya ---
"Of course, no!" Cedrik berdiri dari duduknya, ia menatap Zara yang tak sabar ingin melepaskan selang infus di tangannya.
"Nikmati saja waktu di sini. " Zara menghela napas atas jawaban yang Cedrik berikan, harusnya ia di rumah dan bukan berbaring di ranjang Rumah Sakit dengan keadaan yang tak baik-baik saja.
Zara menggeleng. "Bukan tangan kamu yang di infus, jadi gampang bicara begitu. "
Cedrik menarik satu alisnya, Ya memang bukan dirinya yang merasakan apa yang Zara rasakan, tapi ada baiknya Zara tetap mendapatkan perawatan atas kondisi nya. Lagipula kondisi Zara tidak sebaik itu.
"Tapi itu lebih baik untuk kondisi kamu. " Zara menghembuskan napas jengah, andai saja keadaan kehamilannya baik-baik saja tak mungkin Zara keluar masuk Rumah Sakit untuk keadaannya dan kehamilannya.
"Sekarang kamu mau pergi? Ke keluarga kamu?" Zara bertanya memastikan, ia menatap arloji yang melingkar di tangan Cedrik dengan teliti.
Cedrik menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku di sini. "
"Kenapa?" Cedrik menatap Zara atas pertanyaan Zara, itu pertanyaan yang tak masuk akal, padahal jelas-jelas keadaan Zara yang tak mungkin Cedrik tinggalkan.
Ya meskipun keadaan Zara baik-baik saja, Cedrik juga enggan meninggalkan Zara.
"Aku rasa itu bukan pertanyaan yang harus dipertanyakan, right?"
Zara tak menjawab, balasan Cedrik tak salah. Tapi harusnya pria ini tak bersama Zara sekarang, apalagi setelah masalah yang sedang mereka hadapi.
Bahkan Zara tak sanggup untuk memikirkan nya, semua itu memenuhi pikiran Zara sampai ia berbaring dengan selang infus ditangannya seperti saat ini.
"Setidaknya kamu harus datang sebentar, " Zara bicara lagi terdengar seperti sebuah saran, tetapi saran itu nampak diabaikan oleh Cedrik.
"Aku sudah merawatnya selama koma, aku kira itu sudah termasuk berbakti. " Balas Cedrik, tatapannya masih tertuju pada Zara yang mulai mendengar dan menuruti perkataan Cedrik.
"Terserah, itu cuma saran ku. " Balas Zara dengan nada pasrah.
Zara mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit ruangan yang akan ia tempati sampai beberapa hari. Sial, ia mengerutu dalam hati atas apa yang sedang ia alami.
Zara kembali menatap Cedrik ketika merasakan sentuhan di pipinya, tak ada kalimat yang Zara dengar karena pria itu beranjak keluar dari ruangan Zara.
Zara tak menahannya, ia juga sadar jika sebelum nya Zara melakukan kesalahan karena meminta sebuah perpisahan.
"Ah, itu bukan omongan yang benar. " Zara menghela napas. Ia menatap pintu keluar yang baru saja tertutup.
Harusnya Zara tak mengikuti isi hatinya yang membuat keputusan terlalu cepat tetapi tentu saja jauh dari kata tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Favorite Chef
Storie d'amoreRe-Write [Adult - Be wise!!] Orang gila mana yang memiliki kehidupan terjamin dalam keluarganya malah memilih melarikan diri dengan seorang pria yang tak setara dengan nya. Hanya seorang Chef di keluarga nya. Tapi siapa sangka, pria itu menyimpan...
