____________
Typo tandai
.
.
Happy Reading
___________________
.
.
"Dan sebenarnya aku bukan pria yang baik. "
Zara mengambil napas dari udara di sekitarnya, ia menoleh ke arah pria yang memangku nya, alat itu seolah mulai bereaksi padanya.
"To the point, "
"Alat ini jauh dari kata nyaman. " Ujar Zara dengan maksud protes, tapi sungguh Cedrik malah tersenyum atas ucapan sang istri.
Dia mengatur atau lebih tepatnya menambah kecepatan dari alat itu, lalu mengusap rambut Zara dengan lembut. Wanita itu sedang berjuang atas dirinya sendiri.
"I'm sorry. " Tatapan mata Cedrik tertuju pada wanita yang duduk di pangkuan nya, jantungnya berdetak lebih kencang, tapi ia yang memegang kendalinya.
Harusnya ia lebih terbuka, tapi terlalu terbuka terkadang membuat seseorang merasakan sebuah kehilangan.
"Kamu sudah menebaknya, kan?"
Zara mengepalkan jari-jarinya ke telapak tangan, ia memejamkan mata berusaha mencerna satu-persatu apa yang sedang ada pada dirinya, dengan kesadaran penuh ia mendengar perkataan yang Cedrik katakan.
"Jauh dari yang kamu kira, bukan?"
"Iya, semua ini jauh dari yang ku bayangkan. " Balas Zara, suaranya masih terdengar jelas tanpa ada gemetar sedikitpun, bahkan keterbukaan suami nya adalah hal terpenting untuk Zara pada saat ini.
"I'm just a guy who does what I want."
"Menjalani kehidupan normal tanpa halangan apapun, " Jemari Cedrik menyisir dengan lembut rambut Zara, ia menatap wanita itu dengan perasaan keberatan atas apa yang ia katakan sekarang.
"Dan sayangnya beberapa bulan lalu.. " Zara membuang napas merasakan kecepatan itu berkurang, tetapi Cedrik menjeda perkataannya. Zara melihat ke belakang menatap suami nya yang nampak berpikir.
"Ya? Berapa bulan lalu? Ada apa?" Zara menatap Cedrik memberi jawaban atas pertanyaannya, beberapa bulan lalu memangnya ada apa sampai pria itu nampak berpikir sebelum berbicara.
"Ibu ku mengalami kejadian yang fatal. " Zara terdiam, ia menatap Cedrik, ada perasaan bersalah di hatinya telah memulai pembicaraan ini. Mungkin ini akan menjadi pembicaraan mendalam antara ia dan Cedrik. Sebuah perasaan asing Zara mulai rasakan, ini akan sangat sakit, Zara tak mengerti perasaan ini.
"Maaf--"
"Dia mengalami kecelakaan, seseorang merencanakan nya dengan sangat baik. " Zara tak berani bersuara lagi, ia tak merasakan apapun lagi dalam inti nya melainkan sesuatu yang menusuk dada nya, entah perasaan apa ini. Zara ikut merasakan sakit itu.
"Sampai sekarang dia koma, " Cedrik mengalihkan pandangannya ke depan, ia nampak biasa-biasa saja saat berbicara, tapi tak ada yang tahu hati seseorang sebelum merasakannya.
"Dokter bilang kemungkinan hidupnya kecil, tapi kita masih berharap pada takdir. " Zara menundukan tatapannya, mungkin ia terlalu emosional seolah mendengar cerita seorang anak tentang ibu nya. Tapi Zara merasa jika ini sakit sekali, perasaan takut yang menyelimuti hatinya, kini justru berubah menjadi rasa sakit luar biasa.
"Aku pikir tidak ada salahnya berharap pada takdir. " Zara menatap Cedrik lagi atas perkataan pria itu.
"Aku juga selalu begitu. " Ucap Zara, suara nya terdengar sedikit gemetar, berusaha tetap tenang bahkan tersenyum tipis di hadapan suami nya dengan cerita yang tak membahagiakan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Favorite Chef
RomansaRe-Write [Adult - Be wise!!] Orang gila mana yang memiliki kehidupan terjamin dalam keluarganya malah memilih melarikan diri dengan seorang pria yang tak setara dengan nya. Hanya seorang Chef di keluarga nya. Tapi siapa sangka, pria itu menyimpan...
