36. Thought

2.4K 107 28
                                        

_______________

Typo tandai
.
.
Cry ~ C.A.S

Happy Reading

_____________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_____________________
.

.

.

"Lima lewat dua puluh menit, " Zara bergumam, lalu meletakkan ponselnya di atas kitchen land yang memang sudah rapi, perbuatan yang agak teledor, tapi Zara sedang mencuri waktu agar dapat bekerja di dapur layaknya istri pada umum nya tanpa sepengatahuan Cedrik.

Pria itu, akhir-akhir ini selalu melarang Zara melakukan banyak hal, terutama sejak mereka tahu bahwa Zara di kehamilan pertama nya mengalami kondisi Hipertensi Gestasional, tekanan darah pada ibu hamil yang melebihi batas normal.

Zara tak terlalu panik untuk dirinya sendiri, ia hanya ingin melahirkan anaknya dengan selamat, tentang selamat atau tidaknya dirinya Zara hanya dapat menghela napas ketika ia tahu risiko yang akan terjadi pada dirinya.

Selagi ia bisa melahirkan anaknya untuk Cedrik, ia sudah merasakan ketenangan. Mungkin sebagai bayaran atas kesalahan sang Ayah.

"Masih terlalu pagi, "

"Kenapa tidak istirahat?" Zara mendongak menatap pria yang tiba-tiba berdiri tak jauh darinya. Sial, bahkan tadi pria itu masih ada di alam mimpinya tapi sekarang malah mengawasi Zara.

"Aku pikir kamu masih tidur. " Ucap Zara dengan senyuman manis di wajahnya, dapat Zara rasakan aura ketidaksukaan Cedrik melihat Zara yang siap beraktivitas pagi hari seperti saat ini.

Posisi mereka masih berjauhan, tapi Cedrik dapat dengan jelas melihat bahan-bahan yang tertata rapi di belakang Zara.

"Aku sudah membayar orang untuk melakukan pekerjaan di dapur, "

"Dan di sisi lain aku bisa melakukannya sendiri. "

Zara menghembuskan napas berat, tapi senyuman tak luntur di bibirnya. "Sesekali aku mau seperti perempuan di luar sana--"

"You can't. " Cedrik menatap intens netra Zara. "Kamu berbeda. "

"Hanya karena kondisi ku kemarin?" Balas Zara, ia menatap Cedrik, ia mengerti pria itu terlalu mengkhawatirkan dirinya, tapi itu bukan hal yang menurut Zara tak perlu terlalu dikhawatirkan.

"Hanya?" Cedrik mengulang perkataan Zara, bagaimana bisa wanita itu menganggap bahkan keadaan nya adalah hal yang sepele.

"Kamu tahu apa risiko nya?"

Zara menelan ludah kasar, ia menatap Cedrik, lalu mengangguk kecil.

"Gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, "

My Favorite Chef Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang