________________
Typo tandai
.
.
Happy Reading
____________________
.
.
.
Tak ada suara lain yang terdengar selain suara mesin mobil yang sedang melewati jalanan panjang menuju tempat tujuan sang pengemudi, di tengah malam seperti ini jalanan panjang ini nampak sepi, mungkin hanya beberapa kendaraan yang melintas nyaris tak ada.
Helaan napas berat Zara hembuskan, ia duduk di kursi belakang pengemudi, sesekali ia memperhatikan pria yang sedang mengemudi. Tak ada pembicaraan apapun, mungkin sedang bergelut dengan pikiran masing-masing atau mungkin karena kesalahan yang baru saja terjadi.
Zara akui kesalahannya yang berusaha kabur atau mungkin pergi dari Cedrik, bahkan ia pergi dengan pria dari masa lalunya. Sebuah kesalahan fatal, tapi malam itu Zara juga mengetahui sesuatu yang tak pernah ia tahu tentang latar belakang suami nya bahkan pernikahan yang mereka jalani.
Bahkan satu katapun tidak keluar dari mulut Cedrik semenjak ia mendatangi Zara yang sedang bersama Mario, hubungan mereka terlalu rumit, tetapi siapa yang mau mengakhirinya.
_______________________
Ketika mereka tiba di kediamannya, Zara harusnya bicara pada Cedrik, tapi sebelum Zara melakukan nya, Cedrik lebih dahulu keluar dari dalam mobil. Di susul oleh Zara, yang langsung menahan salah satu tangan Cedrik.
"Jadi, hanya dengan cara seperti ini kamu menyelesaikan masalah?" Cedrik menarik satu alisnya, ia memutar badan menatap Zara.
"Setelah orang dari masa lalu kamu bicara tentang latar belakang kamu, bahkan latar belakang pernikahan kita?"
"Dan jangan lupakan cara mu menyelesaikan masalah, " Cedrik menyahut perkataan Zara, ekspresi yang datar bahkan nada yang terdengar dingin. Terdengar asing untuk Zara yang masih berusaha menahan tangan Cedrik.
"Pergi dengan mantan kekasih mu. " Cedrik tersenyum ironi di hadapan Zara, ia menatap tangan Zara yang menahan tangannya agar tak pergi. Sayangnya Cedrik justru melepaskan tangan Zara yang menahannya.
"Aku punya alasan, bukan tiba-tiba----"
"Karena perkataan orang tua mu, right?" Cedrik menatap Zara sekilas, lalu pergi terlebih dahulu. Ada kebeneran pada apa yang Cedrik katakan, selain itu perkataan tersebut juga membuat Zara merasa bodoh.
Zara berdiam diri di tempat nya sementara Cedrik semakin jauh darinya. Zara menghela napas berat, meratapi kebodohannya. Tapi Zara memiliki alasan, ia seperti orang yang tak berpendirian.
Zara tak tahu mana yang akan ia ikuti, keluarga nya atau justru pria yang sudah berstatus suaminya.
Zara memejamkan matanya sejenak, berusaha melupakan apa yang sedang terjadi. Tangannya mengusap perutnya perlahan.
Ya, ia sudah berbadan dua sekarang. Di situasi yang sangat amat tidak tepat ini.
____________________
Zara mengarahkan tatapannya kepada Cedrik yang duduk diam di sofa panjang, posisi yang membelakangi Zara yang berada di ujung pintu.
Seperti nya tak ada lagi kata yang perlu untuk Zara ucapkan, Cedrik tak akan menanggapinya.
Zara melanjutkan langkahnya, suasana yang sebelumnya hangat berubah menjadi dingin dan asing dalam hitungan jam. Sesuatu berubah dengan sangat cepat, bahkan dengan cara yang tak pernah dipikirkan.
Zara sempat menatap Cedrik sejenak, pria itu sama sekali tak menatapnya, sia-sia jika Zara berbicara tentang apa yang mereka alami.
Harusnya Zara tak pergi dengan Mario, mungkin semuanya bisa sedikit lebih membaik.
____________________
Zara merebahkan dirinya di atas ranjang, nyaman tetapi terasa lebih dingin daripada malam-malam yang pernah ia lewati sebelumnya. Helaan napas panjang selalu terdengar darinya, ia mengusap perutnya beberapa kali sampai pada akhirnya Zara menangis.
Sulit untuk ia percaya, apa yang ia lewati selama ini, bersama pria yang sangat ia cintai, itu sangat menyakitkan jika semua itu hanyalah cinta berlatar dendam.
Dan Zara sejauh ini, ia sejauh ini mencintai pria itu. Bahkan mungkin cinta antara mereka bukan hanya sebuah cinta yang di bangun berlandaskan perasaan biasa, melainkan sebuah obsesi.
Mereka tak akan menyadarinya.
Zara menatap ke sebelahnya, ia tak akan berharap Cedrik ada di sini malam ini setelah kesalahan yang Zara telah lakukan.
__________________
Zara ingat betul jika semalam ia berbaring sendiri dalam kesedihannya, bahkan sampai menangis. Tetapi pagi itu ia merasa memeluk sesuatu, terasa seperti sedang menyentuh kulit manusia. Bahkan saat Zara meraba-raba nya lagi , Zara merasakan urat-urat di tubuh yang sedang ia rangkul dalam tidurnya.
Perlahan Zara membuka matanya, hari sudah terang setelah malam buruk yang ia lewati. Selain terang nya hari, Zara juga melihat sosok pria yang sedang ia peluk. Pria itu sudah membuka matanya, tak terlihat wajah baru bangun tidur di wajahnya, bahkan pria itu sedang membaca sebuah lembaran yang ia pegang.
"Kamu di sini?" Zara bertanya dengan suara khas baru bangun tidur, ia membuka selimut yang seingat Zara semalam ia tak menyelimuti tubuhnya melainkan langsung terlelap.
Cedrik hanya melirik Zara sebagai jawaban yang harusnya sudah Zara ketahui.
Zara mengubah posisinya menjadi duduk, sementara Cedrik masih di posisinya, bersandar pada leher ranjang sambil membaca lembaran di tangannya.
Zara segera beranjak dari tempat tidurnya, tak mengucapakan apapun karena ia tahu jika Cedrik tak akan membalasnya, dan mari lupakan tentang Zara yang memeluk Cedrik dalam tidurnya. Itu hanya sebuah ketidaksengajaan.
"Positif hamil, " Zara berhenti ketika mendengar suara Cedrik, entah dengan siapa pria ini berbicara. Zara memutar posisinya, ia menatap Cedrik.
Cedrik mendongak menatap Zara, "Setelah Dokter menyatakan positif hamil, kamu malah pergi dengan Mario?"
Zara menunduk menatap netra Cedrik, netra yang tertuju padanya seolah mencari jawaban dari Zara. Kejadian semalam tentu akan tetap menjadi pembahasan, sampai Zara harus menyimpan banyak pertanyaan tentang perkataan Emily padanya.
"Bukan pergi seperti itu yang aku mau, " Ucap Zara, perlahan tetapi tak ada keraguan meski nyawanya baru terkumpul.
"Lalu?"
"Sebelum kamu yang pergi, ada baiknya aku yang lebih dulu pergi dari pernikahan ini. " Netra Cedrik tetap tertuju pada Zara semalam Zara berbicara. Perkataan yang sudah Zara rangkai dari sebelum ia pergi bersama Mario.
"Sudah mendengar dari Emily, kan?" Zara menatap ke arah lain sejenak, lalu kembali menatap Cedrik sekilas. Zara mengangguk.
"Iya, itu di luar ekspektasi ku tentang pernikahan kita. "
Cedrik menuruni ranjangnya, ia menatap Zara, lalu berdiri tepat di hadapan Zara yang terlihat gelisah.
Tak ada suara yang Cantik lontarkan lagi pada Zara, sementara Zara hanya menatap ke beberapa sudut ruang tanpa alasan yang jelas.
"Ya, dan sayangnya tidak seindah yang kamu pikirkan sebelumnya. "
Zara menghela napas panjang, ia menatap Cedrik.
"Benar, "
"Berlatar dendam yang sama sekali aku belum tahu, " Zara tertawa lirih, tawa yang ironi seolah mengasihani dirinya sendiri.
"Dan kamu membenci ku atas itu. "
"Apa kamu membenci ku atas semua ini?" Pernyataan yang sama, tetapi berbeda makna terlontar dari mulut kedua nya secara bergantian. Pernyataan yang seperti menjadi penentu atas pernikahan mereka.
__________________
Bersambung
_________________
Maaf baru up lagi.. mau unpublish ini tapi malah yang baca nambah😓😓
.
.
Terima kasihh♥️
KAMU SEDANG MEMBACA
My Favorite Chef
RomanceRe-Write [Adult - Be wise!!] Orang gila mana yang memiliki kehidupan terjamin dalam keluarganya malah memilih melarikan diri dengan seorang pria yang tak setara dengan nya. Hanya seorang Chef di keluarga nya. Tapi siapa sangka, pria itu menyimpan...
