Lily pergi ke toilet dan mengisi bathup dengan air hangat. Sulit dipercaya jika Archibald menjadi frustrasi hanya karena takut kehilangan dirinya. Apakah itu masuk akal? Lalu, siapa yang dia temui barusan sampai membuatnya sedih seperti sekarang.
Lily menemui Archibald yang tidak mengubah posisinya sedikit pun."Paman, ayo kita berendam air hangat. Supaya Paman lebih rileks."
"Tidak, Lily." Archibald menolak dengan suara yang lembut.
"Ayo berendam bersama,"ajak wanita itu dengan suara lembut.
Archibald melirik. Ia melihat keseriusan di wajah Lily. Ia segera bangkit dan menarik Lily. Ternyata wanita itu memang sudah menyiapkan airnya.
Karena mereka sudah di sini, Lily harus bergerak cepat. Lily melepaskan pakaiannya satu persatu. Lalu masuk ke dalam bathup."Paman, ayo masuk."
Archibald melepaskan pakaiannya lalu masuk ke bathup. Tatapannya tak lepas dari wanita itu. Lily terlihat seperti wanita yang sedang menggodanya, lalu mengajaknya tidur bersama.
"Aku tidak tahu minuman apa yang Paman suka. Tapi, aku melihat botol di ruang kerja Paman dan membawanya ke sini." Lily menyerahkan botol minuman. Ia sendiri tidak tahu jenis minuman tersebut. Sepertinya alkohol.
Archibald tersenyum."Terima kasih, ya, aku sudah sedikit tenang sekarang."
"Syukurlah. Airnya hangat, kan?" Lily mengusap-usap dada Archibald dan menyiramkan air di sana secara perlahan.
Archibald meraih botol, lalu meminumnya langsung. Ia tidak langsung menelan minuman tersebut. Ia menarik Lily dan melumat bibirnya. Minuman dari mulut Archibald berpindah ke mulut Lily. Mau tidak mau Lily menelannya. Rasanya begitu pahit dan terasa panas di tenggorokan.
Lily mengerutkan keningnya. Tenggorokannya terasa tidak nyaman. Itu merupakan minuman yang seharusnya tidak dinikmati.
"Gadis pintar."Archibald mengusap bibir Lily sembari menyeringai. Ia menyandarkan kepalanya. Lily memegang kaki Archibald dan mengusapnya lembut. Archibald memejamkan mata menikmati sentuhan wanita itu. Sedikit demi sedikit miliknya mengeras. Ujungnya muncul di permukaan air.
Lily ingat bahwa ada sesuatu yang tertunda. Ia tertunduk dengan wajah yang panas. Ia memegang milik Archibald seperti sebelumnya. Wanita itu mengulum milik Archibald. Ia pernah menonton film dewasa dimana seorang perempuan melakukan ini. Lalu sang pria melakukannya. Lily sedikit kesulitan karena milik Archibald yang tidak masuk seutuhnya ke dalam mulut.
"Argh!" Archibald menengadah. Meskipun hanya sedikit yang masuk ke mulut, ia sudah merasa sangat bergairah. Mungkin karena Lily yang melakukannya.
Lily menyudahinya, lalu mengusap-usap milik Archibald dan menggenggamnya seperti malam-malam kemarin.
Archibald menatapnya dengan penuh hasrat."Kau tidak berniat mengeluarkan dengan tanganmu, kan?"
"Ah, itu~ aku tidak tahu. Aku ingin Paman yang menentukannya," balas Lily.
"Aku ingin kau yang menentukan. Kau berjanji akan menjadi milikku, kan?"
Lily mendekat, kemudian duduk di pangkuan Archibald. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Archibald meremas dada Lily. Keduanya berciuman dengan begitu panas. Napas keduanya terdengar memburu dan menggema di sana.
Archibald menghisap dada Lily dengan kuat dan meninggalkan banyak bekas di sana. Rasanya ia ingin membuat jejak di seluruh tubuh Lily.
"Kita semakin basah dan hangat,"bisik Archibald di telinga Lily. Ia menjilati belakang telinga wanita itu.
"Kita kembali ke tempat tidur, ya. Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi." Archibald menggendong Lily dan meletakkan di atas ranjang dengan lembut. Ia menindih tubuh Lily dan menciumi seluruh permukaan wanita itu tanpa jeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
