32-di Mobil

1K 52 3
                                        

Jam istirahat telah tiba. Lily pergi ke lobi, mobilnya sudah menunggu. Nathan juga sudah ada di dalam. Mobil melaju pelan. Nathan menutup tirai yang membatasi antara kursi pengemudi dengan penumpang. Setelah itu ia membawa Lily ke kursi paling belakang. Nathan meremas dada Lily. Lily membulatkan matanya.

"Paman, jangan di sini," bisiknya. Mobil bahkan baru berjalan beberapa meter. Nathan sudah menjalankan aksinya. Pria itu memang tidak bisa bersabar sedikit saja.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mencumbumu,"balas Nathan sambil melepaskan kancing kemeja Lily. Ia mengeluarkan daging lembut dan kenyal itu. Nathan memilin puting Lily hingga mengeras. Ia memainkan lidahnya di sana hingga basah.

Lily menggelinjang. Ia tidak bisa bersuara karena merasa malu pada sopir. Walaupu  mungkin saja sang sopir sudah tahu apa yang terjadi.

Natham melebarkan kedua paha Lily, melepas kaitan celananya. Tangannya menelusup ke dalam celana,mencari kehangatan di antara kedua paha. Jari Nathan menyentuh milik Lily.

"Paman~" Lily memandang keluar sambil merasakan putingnya dihisap. Miliknya dimasuki jari Nathan.

"Milikmu sudah basah. Kau juga sudah menginginkannya, ya," bisik Nathan. Ia melumat bibir Lily dengan kasar. Hasratnya sangat menggebu-gebu. Ia telah menahannya sejak semalam karena urusan mendadak.

Lily mendesah pelan. Lalu, suara musik yang lembut mengalun. Mungkin sengaja dinyalakan agar suara desahannya tidak terdengar atau sebaliknya. Sang sopir merasa tidak nyaman.
Entahlah, Lily tidak perlu terlalu memikirkannya.

"Aku tidak tahan lagi, sayang." Nathan mengigit bibirnya. Ia melepaskan celananya. Miliknya sudah berdiri tegak dan begitu keras. Ia melepaskan celana Lily. Ia membaringkan Lily di atas kursi, lalu menyatukan milik mereka."Ah, hangat sekali~"

Lily memeluk tubuh Nathan erat. Ia tetap mengontrol dirinya agar tidak bersuara. Pria itu menghunjam dengan cepat. Lalu, setelah beberapa saat cairannya menyembur. Ia sudah menahannya sejak pagi, jadi, ia mengeluarkannya dengan cepat. Lagi pula, mereka bisa melakukannya lagi nanti.

Nathan menyingkirkan tubuhnya dengan hati-hati. Lalu mengenakan pakaiannya lagi. Lily melakukan hal yang sama, lalu kembali ke tempat duduk dengan normal. Wajahnya merah menahan malu.

Nathan membuka dompetnya. Ia memeriksa kartu-kartunya dan mengambil salah satunya."Ini kartu untukmu."

"Uang?" Sepertinya Nathan memberinya uang seperti yang Archibald lakukan. Keduanya memanjakan dengan uang, lalu sebagai balasan Lily memberikan tubuhnya. Terkadang Lily merasa seperti sedang menjual diri.

"Iya. Pakailah untuk bersenang-senang. Belilah apa yang kau suka. Rawat dirimu dengan baik. Kau juga boleh membuka usaha atau bisnis. Asalkan jangan bekerja lagi." Nathan mengecup pipi wanita itu.

Lily mengambil kartu itu dengan senang hati. Setelah Nathan pergi nanti, ia akan menemui Mario dan pergi bersenang-senang sebelum Mario bekerja kembali. "Baiklah, Paman. Jangan menyesal jika aku menghabiskannya."

"Jangan menyesal juga jika aku menghabisimu, sayang," balas Nathan.

Mobil sudah mendekati gedung tinggi yang mereka tuju. Mereka akan segera tiba. Nathan mengambil sejumlah uang dan menyerahkannya pada sang sopir sebelum turun.

Mereka tiba di penthouse. Nathan mengambil air dingin dan meneguknya. Cuaca di luar hari ini begitu panas.

Lily melepas sepatunya."Paman kembali ke kantor lagi?"

Nathan menggeleng sambil meneguk air mineralnya."Aku ingin resign dari sana, aku sudah mengajukan resignku. Kamu juga harus mengajukannya. Mereka juga tidak suka padamu, kan. Kau tidak dibutuhkan di sana."

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang