13- Tukar Cincin

951 73 1
                                        

Lily turun dari atas meja. Ia melihat lantai yang basah. Cairan bening miliknya bercampur dengan cairan milik Archibald. Itu memalukan jika orang lain melihat. Lily ingin membersihkannya. Tapi, tidak ada alat kebersihan sama sekali di dalam ruangan ini.

"Kau cari apa?"

"Alat pel atau sesuatu yang bisa untuk mengeringkan lantai ini."

"Tidak perlu, sayang. Ayo bersihkan tubuhmu." Archibald menggendong Lily.

"Paman, kamar kita kotor sekali. Kasihan yang membersihkannya. Setidaknya kita membersihkan sedikit. Itu kan akibat perbuatan kita."

Archibald menyemprot milik Lily dan membersihkannya. Ia memastikan tidak ada cairan yang tertinggal."Aku akan memberi bonus pada pekerja yang membersihkan kamar kita. Selain itu mereka boleh mengajukan cuti sesuai syarat dan ketentuan Perusahaan."

"Baiklah. Tapi, aku malu kalau ketemu dengan mereka saat membersihkan nanti."

"Kebetulan kita akan pergi. Mereka tidak akan melihatmu, sayang." Archibald mengeringkan paha Lily.

Lily menatap Archibald."Pergi kemana, Paman?"

"Mencari cincin pernikahan dan mencoba gaun pengantin." Pria itu membawa Lily ke sofa dan duduk bersama.

"Baju pengantin? Untuk apa?"

"Kita kan mau menikah."

Hati Lily terasa berbunga-bunga. Padahal sejak awal ia membenci Archibald. Tapi, hatinya justru merasa senang karena sebuah kata pernikahan. "Tapi, sebentar lagi sudah hari senin. Paman juga sudah harus berangkat, kan?"

"Aku akan menunda beberapa hari agar kita bisa menikah."

"Kenapa ditunda? Paman sudah menundanya selama aku ada di sini."

"Aku ingin bertemu denganmu terus."

"Paman, semakin Paman menundanya, bukankah kita semakin lama bertemu?" Lily tersenyum geli.

Archibald menyandarkan kepala di pundak Lily "Benar, tapi, bagaimana dong. Aku takut sekali. Kamu ikut saja, tidak usah kerja."

"Aku tidak punya pasport, Paman. Butuh waktu untuk mengurus visanya juga, kan?"

Archibald mengangguk."Benar. Kalau begitu, aku akan pergi sesuai jadwal. Aku akan mengerjakan seluruh urusanku dengan cepat. Lalu kembali bersamamu."

"Itu lebih baik, Paman. Aku juga akan bekerja dengan baik di sini." Lily berjanji.

"Ayo kita bersiap-siap untuk pergi."

Lily mengangguk. Ia tidak tahu apa rencana Archibald. Ia hanya cukup menjadi pasangan yang penurut.

Archibald membawa Lily ke toko perhiasan lebih dulu. Pria itu membeli cincin pernikahan mereka. Model yang diinginkan harus dipesan secara khusus dan memakan waktu beberapa minggu. Archibald tetap memesannya. Lalu, ia membeli sepasang cincin sementara.

"Kau harus mengenakannya, ya. Ini sebagai tanda bahwa kita sudah bertunangan." Archibald memasangkan cincin ke jari Lily.

Wanita itu memandang cincinnya yang berkilauan. Harganya pasti mahal,batinnya.

"Sekarang, pakaikan di tanganku,"pinta Archibald.

Akhirnya keduanya bertukar cincin di toko perhiasan disaksikan pegawai di sana.
Setelah itu mereka berkeliling.

"Paman, aku ingin membeli baju untuk ke kantor."

"Beli saja semaumu. Kekasihku harus terlihat cantik dan mewah. Lupakan semua pakaian lamamu. Tunjukkan bahwa kau ini pemilik saham di Perusahaan itu."

"Apa? Pemilik saham? Bagaimana bisa?" Lily memandang Archibald bingung.

Archibald menggenggam tangan Lily."Aku membeli beberapa bagian, itu agar kau bisa kembali ke sana dan tidak ada yang berani padamu."

"Paman, tidak perlu sejauh itu."

"Aku akan melakukan yang terbaik, Lily."

"Terima kasih, Paman."

"Belilah, pakaian, tas, sepatu, make up dan skincare sepuasmu. Lalu, aku menunggu di coffe shop sambil bekerja. Kau juga butuh kenyamanan berbelanja, kan? Bagaimana?" Archibald menyodorkan kartunya.

Lily meraih kartunya dengan senang hati."Baik, Paman. Aku akan menjadi anak yang penurut."

Lily melangkah dengan riang. Ia akan kembali bertemu dengan orang-orang yang menyepelekannya. Mereka harus kaget dengan penampilan terbarunya. Lily yang sekarang adalah bagian dari keluarga Billionaire itu.

Kali ini Lily tidak ragu sedikit pun menghabiskan uang Archibald. Pria itu sudah menyentuhnya. Jadi, tidak akan apa-apa jika ia menyentuh isi rekeningnya.

Lily menemui Archibald setelah dua jam berlalu. Ia agak kerepotan membawa tas belanja. Yang ia beli cukup banyak.

"Capek, sayang?" tanya Archibald sambil melepas earpods-nya.

"Lumayan, tapi, menyenangkan," balas Lily.

"Aku senang melihatmu seperti ini. Oh ya, tadi aku sudah berkomunikasi dengan Direkturmu. Kau bisa langsung masuk seperti biasa besok. Jika ada yang menyakitimu, kau bisa laporkan padaku. Aku akan berangkat besok setelah mengantarkanmu ke kantor," jelas Archibald panjang.

Lily mengangguk mengerti."Aku mengerti, Paman. Paman pikirkan saja pekerjaan Paman. Nanti kesehatan Paman terganggu."

"Kesehatan jiwaku yang terganggu karena kau tidak ada di sisiku." Archibald menatap Lily lembut."Waktu kita hanya malam ini. Jadi, maafkan aku jika menguras seluruh tenagamu, ya."

Lily tertunduk malu."Astaga~ kenapa membicarakan itu di sini."

"Tidak ada yang mendengar. Suara kita pelan."

"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Paman harus banyak istirahat karena akan melakukan perjalanan jauh." Lily mengalihkan pembicaraan. Tangannya sibuk menyusun tas belanjanya.

Archibald terkekeh."Ayo kita pulang. Sini, aku bawakan sebagian."

Lily sudah tidak sabar dengan hari esok. Ia penasaran dengan reaksi rekan kerja yang sering menghinanya saat ia kembali. Mereka pasti kaget. Lalu, tetap menghinanya. Tapi, sekarang ia memiliki sosok lelaki yang melindunginya. Hatinya menjadi tenang. Sekali pun seisi kantor menghujatnya, ia tetap akan berbahagia. Karena ia kekasih Archibald, memiliki banyak uang dan saham, dan juga tinggal di Hotel mewah. Tidak ada hal yang harus disesali. Ia hanya harus melawan mereka.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang