26- Aku juga bisa

901 50 7
                                        

Archibald menggendong Lily ke dalam toilet. Ja meletakkan ke bathup agar lebih mudah membersihkan tubuh wanita itu. Lily terlihat lemas, tapi, tampaknya ia masih dalam pengaruh obat itu.

"Paman~" Lily memegang wajah Archibald haru. Ia bisa menyentuh pria itu lagi.

Archibald mengusap-usap paha Lily yang lengket. Ia menyeka dengan air hangat. "Kamu baik-baik saja, kan, sayang?"

Lily mengangguk pelan."Paman, bagaimana ini? Aku sudah tidur dengan Paman Nathan. Dia sudah menculikku ke sini."

"Tenanglah, jangan pikirkan soal itu. Aku akan menanganinya."

"Tapi, aku tidak mau kalian bertengkar. Aku tidak mau Paman terluka. Aku sudah lelah dengan pertengkaran dan kehidupan yang tidak menyenangkan," kata Lily lirih.

Nathan muncul di ambang pintu mendengarkan percakapan keduanya. Archibald melirik pria itu kesal. Nathan hanya tersenyum mengejek.

"Bagaimana pendapatmu tentang Paman Nath?"

Mata Lily terpejam, tubuhnya mulai sedikit rileks karena air hangat."Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir apa pun tentangnya. Yang aku tahu dia adalah teman Paman."

Archibald menatap Nathan, kali ini ia membalikkan tatapan mengejeknya.

"Hanya saja aku tidak menyukai caranya yang terus memaksaku. Aku takut padanya."

Archibald tertawa. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan itu. Nathan mendengkus, wajahnya terlihat kesal. Lily membuka mata dan terkejut. Ternyata Nathan ada di sini. Ia menatap Archibald dan Nathan bergantian. Mereka terlihat akur, tapi, bermusuhan. Ia sulit mendeskripsikannya.

Lily menelan ludahnya."Aku tidak tahu kalau Paman ada di sini."

"Abaikan saja, dia tidak penting," kata Archibald.

"Sebenarnya, kalian ini berteman atau bermusuhan, sih?"

Nathan mendekat dan duduk di sisi bathup."Kami saling membenci, tapi, kami tidak bisa jauh satu sama lain. Kau tahu,kan, itu artinya apa? Kedekatan kami lebih dari saudara."

"Oh~" Lily merasa sedang dipermainkan keduanya."Jadi, kalian sepakat untuk menjadikan pelampiasan hasrat kalian berdua?"

"Itu tidak benar. Aku mencintaimu!" kata Archibald cepat,"aku akan menikahimu."

"Tapi, Paman sama sekali tidak marah ketika Paman Nath melakukannya padaku."

"Aku sudah ingin membunuhnya. Kau yang melarangku." Archibald mencebik kesal. Ia mendorong Nathan agar menjauh.

Nathan tertawa, ia kembali ke posisi semula dan menyentuh kaki Lily."Haruskah aku memandikanmu juga?"

Lily menarik kakinya cepat."Kalian berdua keluar saja. Aku akan mandi sendiri."

"Ini sudah malam, tidak baik berlama-lama di dalam air." Archibald mengusap tubuh Lily dengan cepat. Ia mengambil bathrobe dan memakaikan ke tubuh Lily.

"Ayo kita makan malam. Kau belum makan, kan, Arch?"

Archibald mengangguk."Ini semua karena kau, sialan!"

Nathan memeluk pundak Archibald."Tapi, kau menikmatinya, bukan? Pikiran kita ini sama."

Archibald mendorong Nathan dan menghampiri Lily. Archibald dan Nathan juga mengenakan bathrobe. Mereka makan bersama di teras yang menghadap ke laut.

"Paman pasti capek setelah perjalanan jauh?" Lily bicara pada Archibald. Ia mengabaikan Nathan yang sudah menculiknya.

Archibald membelai rambut Lily yang menjuntai."Iya, aku sangat lelah. Tapi, lelahku hilang setelah bertemu denganmu."

"Apa kita akan terus di sini? Aku ingin menjalani kehidupanku seperti biasa," kata Lily. Baru beberapa hari ia menjalani kehidupan normalnya. Sekarang ia terperangkap di Pulau ini bersama dua pria yang terobsesi padanya.

Nathan menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggung dan melurukan kakinya."Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini tanpa kesepakatan."

"Kesepakatan seperti apa yang Paman inginkan? Apakah aku harus terlibat?" Lily memandang Archibald, memohon agar ia tidak terlibat dalam hal rumit ini. Archibald saja sudah cukup baginya. Jangan ada pria lain."Paman Archibald~"

Nathan menatap Archibald hingga pria itu berada di situasi yang membingungkan.

"Sialan~ kenapa kau harus menyukai Lily juga. Kau harus mencari wanita lain!" Archibald menggeram.

"Aku tidak mau tuh. Sejak awal aku sudah memberikan penawaran bagus. Kita memilikinya bersama. Tapi, kau menolaknya. Jika kau menerimanya sejak awal tidak akan terjadi seperti ini." Nathan mengambil gelas dan menggoyangkannya sebelum menyesapnya.

Lily memandang Archibald dengan penuh tanya."Sebenarnya, kenapa Paman membiarkan Paman Nath berbuat sesuka hatinya?"

"Paman Nathan menyukaimu, sejak dulu. Ya, sejak dulu~ kita memang menyukaimu. Bahkan~ beberapa pria yang mendekatmu terluka karenanya. Tidak semua disebabkan oleh aku."

Lily menatap Nathan ngeri."Tapi, Paman Archibald, kan Paman bilang suka padaku. Seharusnya Paman tidak membiarkan dia bersikap seperti itu padaku."

"Itu karena~" Tangan Archibald mengepal.

"Haruskah aku yang menceritakannya?" Wajah Nathan terlihat datar. Ia tidak sabar menunggu Archibald menjawab pertanyaan Lily.

"Kalian kenapa? Kalian menyembunyikan rahasia besar tentang aku? Sudahlah, kita sudah berkumpul di sini. Tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi," kata Lily tak sabar.

"Nathan memiliki fantasi yang berbeda terhadap kamu. Dia terobsesi memilikimu. Dia ingin~"Archibald memejamkan matanya sejenak,"dia selalu membayangkan bisa bercinta bertiga denganmu. Maksudnya, melakukan threesome seperti tadi."

"Apa?"

"Karena itu tidak mungkin pria lain, maka dia memintaku menjadi salah satunya. Aku sudah menolaknya sejak lama. Tapi, kau lihat, kan~ dia lebih nekad dariku," jelas Archibald.

"Itu sangat aneh, Paman." Lily menatap Nathan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tapi, kita sudah melakukannya tadi. Kau terlihat sangat menyukainya. Itu luar biasa, kan?" Nathan tersenyum puas. Ia ingin melakukannya lagi setelah ini.

Lily menggebrak meja dengan kedua tangannya pelan."Obsesi kalian menyulitkan hidupku."

Nathan menghampiri Lily."Daripada menyuruh kami berhenti, bagaimana kalau kamu belajar menerima saja. Ada dua pria di sini, kau bisa memilih kapan pun."

"Aku tidak tertarik. Lebih baik kita semua berteman saja. Status kita hanyalah seorang keponakan dan Paman." Lily menatap Nathan tajam.

"Aku akan membuatmu menerima kami sekaligus." Nathan meminumkan segelas air pada Lily. Pria itu segera melumat bibirnya agar Lily tidak memuntahkan airnya.

Lily menyeka bibirnya yang basah. Ia merasa tidak terima."Itu pasti ada obatnya, kan?"

Archibald memijit pelipisnya."Aku akan membawa Lily pulang sekarang juga." Ia menarik tangan Lily.

"Hei, kau tidak akan bisa melakukannya."

"Keinginanmu sudah tercapai, kan. Kita bertiga sudah melakukannya. Jadi, aku akan membawanya pulang."

"Aku ingin melakukannya sekali lagi. Memangnya kau sanggup menghadapinya sendirian? Aku menambah dosis obatnya lagi." Nathan menyeringai.

Lily menggeram. Ia meraih obat yang digunakan Nathan. Obat itu ada di atas meja berbentuk tablet. Nathan melarutkannya dalam air. Lily melarutkan ke dalam air sebanyak dua gelas.

"Jika kalian bisa memberikan obat itu padaku. Kalian juga harus meminum obat itu,"paksa Lily.

Archibald terbelalak."Sayang, kenapa?" Jika ia meminum obatnya, maka ia akan bercinta lagi dengan Lily. Sementara ia lumayan lelah setelah perjalanan panjang.

Lily meminumkan obat itu ke Archibald lebih dulu. Ia menahan rahang pria itu dan memaksa menelannya. Ia melakukan hal yang sama pada Nathan. Kedua pria itu terdiam karena kaget.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang