36- Tentang Ayah

498 57 1
                                        

Lily bingung kenapa Archibald memintanya datang ke rumah Nathan. Pria itu tidak datang menjemputnya melainkan mengirim sopir. Tapi, setidaknya ia bisa pergi dan melihat dunia luar.

Lily tiba di kediaman Orang tua Nathan saat sudah larut malam. Ia hanya disambut oleh Archibald dan Nathan.

Archibald membantu Lily turun dari mobil."Maaf, ya, tidak menjemputmu. Kurasa lebih efektif jika kau yang datang dan aku menunggu di sini."

"Tidak apa-apa, Paman. Sepanjang jalan juga aku tidur nyenyak," balas Lily yang kemudian melihat ke arah Nathan.

"Ah, Paman Nathan ada di sini juga. Paman apa kabar?"

Nathan tidak kuasa menahan kerinduannya. Ia memeluk Lily dengan erat. Ia tidak tahu apakah perasaan ini untuk keponakan atau kekasihnya. Ia sulit membedakannya. Ia masih berharap semua ini mimpi. Semoga saja Lily bukan anak dari Kakaknya. Tapi, bagaimana pun surat kelahiran sudah jelas. Haruskah ia melakukan tes DNA agar semuanya lebih jelas. Seharusnya tidak perlu, karena mereka hanya perlu mencocokkan data. Lalu mempertemukan Lily dengan Ayah kandungnya. Semua akan terungkap. Tapi, Nathan merasa tidak siap.

"Paman Nath kenapa?" bisik Lily sambil melirik Archibald yang hanya diam menyaksikan mereka.

Nathan menggeleng dengan wajah sembapnya."Aku hanya rindu."

Lily membelai pipi Nathan."Kita sudah bertemu sekarang. Jadi, bisa melepas rindu."

Nathan melirik ke arah perut Lily. Perut yang sebelumnya terdapat janin. "Bagaimana keadaanmu. Kau pasti kesakitan, ya. Maaf aku tidak mendampingimu."

Lily mengusap perutnya."Itu memang sakit sekali, Paman. Tapi, aku bisa melewatinya. Paman juga pasti sibuk."

"Ini sudah malam, ayo kita istirahat dulu." Archibald mengajak Lily ke kamar yang sudah disediakan untuknya. Ia akan tidur bersama kekasihnya itu. Sementara Nathan tidur di kamar terpisah.

Archibald mengajak Lily duduk dan bicara."Lily, aku ingin bertanya sesuatu."

"Ya, silakan, Paman." Lily menatap wajah Archibald yang tegang.

"Kau ingat siapa Ayahmu?" tanya pria itu.

Lily sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Archibald bertanya tentang Ayahnya. Ia menggeleng. "Mereka sudah berpisah sejak aku berusia tiga tahun. Aku tidak ingat wajahnya. Tapi, aku tahu namanya."

"Kau tahu namanya. Apa kau juga punya fotonya?"

Lily menggeleng pelan."Iya, aku memiliki copy-an kartu keluarga. Kalau fotonya sudah hilang. Aku tidak terlalu ingat. Ibu juga jarang menceritakan tentang Ayah."

"Kenapa mereka bercerai?" Archibald lanjut bertanya.

"Ayah memiliki wanita lain. Sejak saat itu Ibu menganggap dia sudah meninggal." Lily memperhatikan raut wajah Archibald. "Memangnya ada apa, Paman? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Ayahku. Apa ada orang yang datang mencariku?"

Archibald menggeleng."Kau akan tahu jawabannya besok. Kau pasti lelah dalam perjalanan ke sini. Maaf, ya."

"Nggak kok, aku senang bisa melakukan perjalanan jauh. Tempatnya juga bagus. Aku suka." Lily mengusap permukaan ranjang. Ia memikirkan sesuatu. Sudah lama ia tidak disentuh oleh Archibald. Tapi, seoertinya hal itu tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat. Ia harus menunggu paling tidak dua minggu.

Archibald mengusap lengan Lily."Ya sudah istirahatlah."

"Tapi, kenapa Paman menanyakan hal itu. Apa Ayahku datang mencari keberadaanku?"

"Kita bicarakan besok."

Lily merasa sesuatu telah terjadi."Tidak, katakanlah sekarang. Jika Paman memanggilku sejauh ini, artinya ada sesuatu yang sangat penting. Katakan saja, aku tidak apa-apa."

"Aku tidak mau mengatakannya karena aku takut kau pergi dan marah."

"Berarti benar, ini tentang Ayahku?" tebak Lily.

"Iya."

"Tidak apa-apa jika memang dia datang dan ingin bertemu. Hanya bertemu saja, kan, tidak ada masalah. Sekali pun dia meminta harta, aku juga tidak punya apa-apa." Lily menjawab dengan santai.

"Iya benar. Kau mau bertemu dengannya besok, kan?"

"Tidak masalah."

Archibald mengembuskan napas lega. Ia hanya bisa memberikan informasi sebatas itu saja. Sisa informasinya akan ia jelaskan besok, sekaligus mempertemukan wanita itu dengan Ayahnya. Namun, hal yang lebuh sulit adalah menjelaskan kalau Nathan adalah Paman kandungnya.

"Aku boleh berbaring sekarang?"

"Silakan, sayang." Archibald tersenyum sambil menyelimuti kekasihnya itu.

Sementara itu, di kamar sebelah, Nathan tidak bisa tidur. Hatinya benar - benar kacau dan patah hati. Pria itu bangkit dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Lalu, ia berpapasan dengan Nelson, Kakak kandung sekaligus Ayah kandung Lily.

Nelson memandang Nathan dengan bangga. Adiknya tumbuh dengan sehat dan tampan. Sangat berbeda dengan dirinya yang hidup tanpa asuhan keluarga. Tapi, itu adalah pilihannya sendiri. Ia ingin hidup tanpa diatur keluarga dan menikah cepat. Namun, akhirnya hidupnya berantakan.

"Kakak, ayo sarapan bersama besok pagi," kata Nathan tanpa berbasa-basi.

"Wah,tumben sekali kau mengajakku bicara duluan. Ada apa?"

Nathan memandang sang Kakak dengan benci. Seharusnya semua ini tidak terjadi jika Kakaknya hidup dengan benar. Sekarang ia menjadi korbannya."Ada hal yang ingin kubicarakan."

"Sepertinya serius."

"Benar. Oh, ya, ini pernikahan keduamu, kan? Dimana istri pertamamu?"

Nelson menggeleng cuek."Entahlah, aku tidak tahu keberadaannya. Setelah bercerai, dia menghilang bersama Putriku. Mungkin setelah itu dia menikah dengan pria kaya. Makanya tidak ingat denganku."

Nathan mendecih."Kau kan selingkuh, kenapa menuduhnya seperti itu."

"Ya, mungkin saja kan."

"Lalu, kau tidak memikirkan putrimu, kah?"

Nelson mengembuskan asap rokoknya ke atas. "Andai Ibunya mengantarkan Lily padaku, aku akaj mengurusnya. Tapi, sampai detik ini hal itu tidak terjadi. Artinya mereka hidup bahagia  kan?"

Tangan Nathan mengepal. Ia tahu kisah Lily dan Ibunya dari Archibald saat baru menikah dengan Kakaknya. Kisahnua sedih dan memilukan. Ibu dan anak itu mengalami kesulitan. Lalu, Nelson menganggap wanita itu baik-baik saja dan hidup bahagia.

"Bagaimana pun dia anakmu. Dia juga berhak mewarisi harta keluarga ini. Apa lagi dia cucu pertama Ayah. Kau malah mengunggulkan anak laki-lakimu seolah-olah Lily tidak berharga."

"Aku menganggap semua anakku sama. Tapi, aku sudah lama tidak bertemu dengan Lily. Nasibnya bagaimana dan ada di mana aku yidak yahu. "

"Kau tidak berniat mencari tahu!" kata Nathan dengan nada tinggi.

"Aku sudah berniat mencarinya. Tapi, aku harus cari kemana. Aku kehilangan jejak mereka."

"Aku akan mempertemukanmu dengan Lily!" kata Nathan tidak sabar.

Nelson terdiam sejenak."Lily? Kau sudah bertemu dengannya? Kau mencari tahu keberadaannya."

"Iya. Jika kau menyadari kesalahanmu, kau harus menghadapinya. Jangan pernah berlari lagi dari kesalahan-kesalahanmu," kata Nathan memperingatkan.

Nelson tertunduk. Dadanya berdebar-debar kencang karena akan bertemu dengan putrinya. Mungkin ia juga akan bertemu dengan mantan istri. Seperti apakah wajahnya sekarang. Pria itu penasaran.

"Jam delapan pagi di teras belakang," kata Nathan yang kemudian pergi.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang