33- Sesuatu yang buruk terjadi

710 55 3
                                        

Pukul delapan malam, Archibald tiba. Ia berpikir akan pulang lebih lama, ternyata ia bisa menyelesaikan urusannya dengan cepat. Lily menyambut kepulangan Archibald dengan antusias. Ia berlari kecil menghampiri pria itu dan memeluknya.

"Paman pulang lebih cepat?"

"Iya, untunglah urusannya bisa cepat selesai." Rasa lelah Archibald hilang seketika melihat Lily.

Lily menyodorkan segelas air mineral pada Archibald."Minum, Paman."

"Terima kasih, sayang." Archibald meneguk segelas air penuh cinta itu."Dimana Nath? Kudengar dia sudah kembali dan bersamamu tadi."

"Dia tidur di kamar, saking lelah dan stresnya sampai belum bangun."

Archibald tersenyum, kemudian mengajak Lily duduk. Ia memangku wanita itu sambil membelai pahanya.

Suara Nathan terdengar menggelegar. Pria itu terdengar seperti sedang bicara di telepon. Lalu marah-marah.

Lily tersentak dan melirik ke arah kamar. "Paman Nath kenapa, ya?"

"Abaikan saja. Dia memang seperti itu," jawab Archibald.

Beberapa menit kemudian Nathan keluar dengan buri-buru. Wajahnya merah dan terlihat santat emosional.

"Kenapa, Nath?" tanya Archibald heran.

Nathan melihat sekilas."Aku harus pergi ke rumah Ayahku sekarang. Aku tidak tahu berapa lama di sana. Jangan hubungi aku," katanya yang kemudian langsung pergi.

"Nggak boleh hubungi?" Lily menatap pintu yang sudah tertutup dengan heran. Nathan selalu pergi dalam keadaan terburu-buru dan marah. Pria itu juga tidak tahu bagaimana cara berpamitan yang benar.

Archibald mengecup bibir Lily."Iya, sayang. Biarkan dia datang dan pergi sesuka hati. Ada aku di sini."

Lily bersandar manja di dada Archibald. "Oh iya, Paman, aku sudah resign."

"Syukurlah kalau begitu. Kau mau kubuatkan Perusahaan saja atau bagaimana?"

Wanita itu menggeleng pelan."Aku tidak punya kemampuan untuk mengelola Perusahaan."

"Baiklah, kau santai saja di rumah. Kau boleh bekerja lagi suatu saat nanti."

"Paman kan lelah, jadi, istirahatlah. Atau Paman ingin dipijat?" Lily menyentuh tangan lelaki itu dengan lembut. Ia memberikan pijatan ringan di sana.

"Kau bisa membantuku?"

"Aku pasti membantu Paman."

"Milikku lelah, jadi, ingin dipijat dengan mulutmu." Archibald membuka celananya. Miliknya sudah berdiri.

Lily berlutut di hadapan Archibald yang sedang duduk. Ia menundukkan kepalanya, lalu mengulum milik Archibald. Archibald menengadah. Ia melepaskan kemejanya karena merasa suhu tubunnya meningkat.

"Aku sangat menyukainya, sayang," erang Archibald."Arghh!!"

"Haruskah aku mengeluarkannya di mulutku?" tanya Lily.

Archibald meraih wajah Lily meminta wanita itu berhenti.  Ia membaringkan Lily di atas sofa. Ia menyatukan kedua tangan Lily dan menaikkan ke atas. Ia meraih kemejanya. Karena tidak ada dasi, ia menggunakan kemeja itu untuk mengikat tangan Lily.

"Kenapa diikat? Aku tidak akan kabur, kan?"

"Aku ingin melakukannya saja." Archibald membuka paha Lily dan meletakkan kaki wanita itu di atas pundaknya. Milik mereka menyatu, lalu Archibald menghunjamnya dengan keras.

"Kenapa kau menghimpitku begitu erat, sayang?" Archibald meracau."Ini, kan bukan yang pertama kalinya."

Lily memeluk tubuh Archibald. Kenikmatan yang ia rasakan tiba-tiba berubah. Ia menjadi sedikit tidak nyaman. Tubuhnya terasa pegal-pegal padahal sebelumnya ia merasa baik-baik saja.
Tetapi, ia tidak tega menghentikan Archibald yang menghunjamnya dengan brutal. Pria itu membalikkan tubuh Lily dengan begitu mudah dan terasa ringan.  Archibald mengganti posisi beberapa kali sampai Lily merasa lemas. Ikatan di tangannya sudah terlepas karena Archibald sudah tidak terkontrol lagi.

"Sayang, terimalah kenikmatan ini!"

Lily merasakan cairan Archibald memenuhi dirinya. Secara perlahan cairan Archibald keluar dan membasahi pahanya. Archibald mengatur napasnya. Ia terduduk lemas.

Lily merasa pinggangnya pegal sekali. Bahkan seperti habis melakukan pekerjaan yang sangat berat. Ia bangkit dan memegang pinggang dan pinggulnya.

"Kamu kenapa?"

Lily menggeleng."Sepertinya aku kelelahan. Hari ini aku juga melayani dua pria. Jadi, aku lelah."

Archibald bangkit, kemudian membopong Lily."Ya sudah kita tidur."

Archibald membantu Lily membersihkan badannya dan berpakaian. Setelah itu, Lily berbaring. Tapi, kini perutnya yang sakit. Semua anggota tubuh bagian bawah terasa sakit. Lily berpikir mungkin saja ia akan datang bulan. Tapi, rasanya tidak pernah sesakit ini.Wanita itu meremas perut dan memegang pinggangnya. Ia meringis kesakitan. Tapi, jika dihitung-hitung lagi, ia sudah terlambat datang bulan. Mungkin sekarang saatnya. Karena terlambat, maka rasanya begitu sakit saat akan keluar.

Lily bangkit dan pergi ke toilet untuk memeriksa.
Jika memang ia datang bulan, ia harus minum obat pereda rasa sakit. Tapi, selama ini ia tidak pernah kesakitan seperti ini. Lily melihat ada bercak darah di celana dalamnya. Ia melangkah dengan hati-hati untuk mengambil oersediaan pembalutnya bulan lalu. Tapi, sakitnya semakin menjadi-jadi. Ia terduduk di lantai toilet.

"Lily sayang, kau kenapa?" Archibald menyusul Lily ke toilet. Pria itu terbelalak karena wajah pucat Lily.

Lily meringis, ia sudah terduduk di lantai."Pe-perutku sakit sekali, Paman. Aku tidak tahan. Sepertinya aku datang bulan. Tapi, aku tidak tahu kenapa sesakit ini."

"Apa sebelumnya selalu seperti ini?"

Lily menggeleng."Ini pertama kalinya."

Archibald memiliki firasat yang buruk. Apa lagi wajah Lily sekarang terlihat sangat pucat. Ia membopong Lily."Kita ke dokter saja untuk memastikan keadaanmu."

"Tapi, Paman~ aku nggak apa-apa. Nanti akan sembuh sendiri." Setelah bicara, Lily berteriak kesakitan. Ia merasa darahnya banyak yang keluar.

Archibald membawanya ke dokter kandungan dengan cepat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena itu tentang datang bulan, ia merasa dokter kandungan yang akan mengetahui penyebab kesakitannya Lily.

Setelah menunggu beberapa menit di rumah sakit, Lily bertemu dengan dokter dan menjalani beberapa pemeriksaan. Wajah Lily semakin pucat dan ia terlihat begitu tersiksa.

Archibald mematung seketika saat dokter mengatakan bahwa Lily keguguran. Lily sudah mengandung, tetapi, tidak ada yang menyadari hal itu. Mereka melakukan seks begitu intens dan brutal hingga membuat Lily lelah. Ditambah lagi Lily meminum obat perangsang dan melayani dua pria sekaligus. Semua itu terjadi karena obsesi Archibald dan Nathan. Mereka bahkan tidak memikirkan bagaimana kondisi tubuh Lily. Mereka hanya memikirkan kesenangan mereka saja. Mereka bahkan tidak sadar kalau malaikat kecil itu sudah hadir di antara mereka. Tapi, kini ia pergi tanpa ingin dilihat oleh Ayah dan Ibunya.

Archibald terduduk lemas dan menyalahkan dirinya yang terlalu egois. Ia sudah melenyapkan calon anaknya.  Archibald menangis saat dokter melakukan tindakan pada Lily.
"Maafkan aku, sayang."

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang