Lily mengikuti Nelson. Mereka duduk di teras samping menghadap ke halaman yang dipenuhi rerumputan. Lily diam saja menunggu Nelson mengajaknya bicara.
Nelson menarik napas panjang. Selama seminggu ini ia tidak berani mengajak Lily bicara. Sampai detik ini ia tidak menyangka akan bertemu dengan anak perempuannya. "Lily, aku Ayahmu."
Lily menatap Nelson."Iya, aku tahu."
"Maaf kalau selama ini sudah meninggalkanmu sendirian," lanjutnya sambil meremas tangannya sendiri.
Lily menghela napas berat."Ya, tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan Ayah. Walaupun banyak sekali hal yang ingin aku katakan. Aku ingin menceritakan kesulitan apa saja yang kualami. Tapi, aku tidak mau mengingat hal menyedihkan itu lagi. Karena aku sudah sangat bahagia sekarang."
"Baiklah kalau begitu."
Lily melipat kedua tangannya di dada. Wanita itu membuang pandangannya lurus ke depan."Tapi, kenapa Ayah meninggalkan Ibu? Bukankah Ayah kabur dari rumah ini demi Ibu? Atau memang Ayah ingin kabur dan tidak ingin diatur oleh Kakek?"
"Keduanya benar. Ayah tidak suka diatur -atur. Makanya pergi dari rumah ini. Saat Ayah menikah dengan Ibumu, Ayah juga tidak memberi tahu Kakek. Tapi, pada akhirnya Kakek dan Pamanmu tahu kalau aku sudah menikah. Hanya saja mereka tidak tahu tentang kau dan Ibumu."
Lily mengangguk-angguk mengerti."Ah, baiklah. Jadi, wanita yang sekarang bersama Ayah adalah~ alasan Ayah meninggalkan Ibu?"
"Iya."
"Tampaknya dia membenciku." Lily tersenyum sinis. Setiap kali ia bertemu dengan wanita itu, ia selalu mendapatkan tatapan sinis.
"Tapi, kupastikan dia tidak akan menyentuhmu."
Lily tertawa geli."Tentu saja, aku pun tidak mau berurusan dengannya. Jadi, tolong pastikan dia tidak menggangguku, Ayah."
"Baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa Ibumu meninggal? Apa dia sakit?"
"Ibu meninggal saat ia sedang bahagia-bahagianya. Saat aku remaja, Ibu menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Tapi, mereka kecelakaan dan pergi ke surga bersama. Aku sangat lega karena akhirnya Ibu menemukan cinta sehidup sematinya." Lily menjelaskan dengan suara gemetar. Ia merasakan emosionalnya jika membahas perihal sang Ibu.
Nelson tertunduk. Pria itu tersenyum lirih."Aku belum sempat meminta maaf padanya. Semoga dia bahagia di sorga."
"Lusa aku akan menikah, Ayah. Apa Ayah yang akan mengantarku ke Altar?"
"Jika kau memintanya, aku akan mengantarmu," balas Nelson."Aku juga tahu diri, Lily. Aku tidak ada di sisimu selama ini. Mana mungkin aku lancang."
"Apakah istri Ayah akan setuju?" tanya Lily dengan nada mengejek.
Nelson tercekat."Sekali pun dia tidak setuju, kau adalah anak kandungku, Lily."
"Ya, mungkin saja." Lily tertawa. "Pokoknya aku sudah melupakan masalah ini. Ya, kau adalah Ayahku, fakta yang tidak bisa dihapuskan. Tapi, mungkin kita tidak bisa sedekat Ayah dan anak yang lainnya."
"Aku mengerti, Lily. Aku juga sangat tahu diri. Tapi, sebisa mungkin aku akan tetap bertanggung jawab atas hidupmu. Meskipun kau sudah menikah," balas Nelson serius.
Lily mengangguk-angguk. Angin berembus kencang. Pohon-pohon melambaikan rantingnya dengan cepat. Dedaunan kering langsung rontok jatuh ke tanah. Cuaca malam ini sepertinya akan buruk.
"Masuklah ke kamarmu. Di sini anginnya kencang sekali. Terima kasih sudah menemani Ayah mengobrol."
"Iya, Ayah, selamat tidur."Lily mengangguk. Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
Lily membuka pintu kamarnya. Wanita itu terbelalak dengan pemandangan di hadapannya. Ia cepat-cepat menutup pintu kamarnya kembali.
"Paman masih di sini?"
Nathan mengangguk."Iya. Kalian bicara apa?"
Lily duduk di sisi ranjang. "Biasalah, pembicaraan Ayah dan anak yang sudah lama tidak ketemu. Ayah meminta maaf karena sudah membuatku seperti ini. Ya, itu saja, sih. Tidak ada yang istimewa."
Nathan mengubah posisi berbaringnya menghadap wanita itu. "Kau sudah memaafkannya?"
"Memaafkannya. Tapi, aku merasa dia bukan Ayahku. Ayahku tetaplah Helka."
"Seharusnya memang begitu. Kau jadi anaknya Helka saja, dengan begitu Archibald yang menjadi Pamanmu. Aku bisa menjadi suamimu."
Lily tertawa sambil mengusap wajah Nathan."Kenapa mengatakan hal itu lagi. Kita ditakdirkan sebagai Paman dan Keponakan."
"Takdir yang menyakitiku." Nathan menggerutu."Oh, ya Archibald akan tiba besok siang."
"Paman menghubunginya?
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu, ini sudah malam. Paman harus kembali ke kamar. Aku juga harus tidur," kata Lily mengusir Nathan.
Nathan menggeleng dan memeluk pinggang Lily."Aku tidak mau pergi. Aku ingin tidur bersamamu."
"Astaga, nanti kita ketahuan Kakek," bisik Lily.
"Tidak akan. Lagi pula cuaca di luar sebentar lagi hujan. Semua orang akan tidur."
"Ya sudah." Lily berbaring di sebelah Nathan."Setelah aku menikah, Paman akan pergi ke mana?"
"Jauh, ke luar Negeri. Tempatnya rahasia."
"Tapi, Paman boleh mengunjungiku kapan saja kok."
"Ya kalau sering mengunjungi, aku tidak akan bisa menahan diri, Lily. Sementara kau sudah menikah dan status kita adalah halangan. Sudahlah, memang seharusnya begitu." Nathan memeluk Lily.
Nathan terkekeh. Ia menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Lily."Aromamu memabukkan sekali."
Lily merasakan milik Nathan yang mengeras. Benda itu bergerak-gerak di pahanya. Lily menghadap ke Nathan, memeluk lelaki itu. Namun, Nathan menyambutnya dengan ciuman yang panas. Tangan Nathan masuk ke dalam piyama, menangkup dada Lily, lalu memilin putingnya. Lily memejamkan matanya. Ia mulai bergairah lagi.
Nathan menindih tubuh Lily, melepaskan semua pakaian yang menempel. Lalu secara perlahan menggesekkan miliknya pada milk wanita itu. Lily meremas selimutnya. Milik Nathan kesulitan memasukinya karena belum sepenuhnya basah. Tapi, perlahan ujungnya mulai masuk. Nathan menekannya hingga seluruh miliknya dilahap oleh daging lembut itu.
"Arghh!!" Nathan mengerang, begitu rapat dan hangat.
Nathan memeluk Lily, membiarkan miliknya berdiam diri di sana sejenak. Menikmati kehangatan milik Lily di malam yang ditemani rintik hujan ini. Milik Lily mulai gatal dan berkedut. Ia ingin Nathan menggerakkan miliknya sekarang.
Lily menggerakkan pinggulnya. Miliknya terasa penuh dan sesak. Nathan tersenyum penuh arti. Ia memegang pinggang Lily dan menghunjam.
"Ah, Paman!" Tubuhnya terguncang hebat. Nathan menghunjamnya dari belakang. Itu membuat miliknya terasa lebih sempit. Nathan mengangkat satu paha wanita itu dan menghunjamnya lagi.
Nathan menindih tubuh Lily dari belakang, lalu menghunjam kembali. Lily sedikit kesulitan bernapas. Nathan menghunjamnya tanpa jeda.
"Paman, berhenti dulu~" kata wanita itu memohon. Tetapi, Nathan tidak mau mendengarkannya. Hunjamannya semakin keras dan cepat.
"Tidak, ini terlalu ketat dan~ enak." Nathan mengerang panjang. Pelepasan keduanya telah tiba.
Nathan melepaskan pengamannya lalu membuang ke tempat sampah. Ia memeluk Lily di dalam selimut. Ia tidak ingin mengenakan pakaian, karena sepertinya malam ini tidak akan berlalu begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
