17- Penguntit

647 57 5
                                        

Lily sudah pulang kerja. Ia menatap seisi kamar dengan perasaannyang kosong. Ternyata ia merasa kesepian tanpa Archibald. Padahal sebelumnya ia sangat kesal pada lelaki itu. Lily mengganti pakaiannya dan berbaring di atas ranjang yang sudah dibersihkan.

Ia menatap langit-langit. Ponselnya bergetar. Senyumnya mengembang, rasa lelahnya langsung hilang. Lily menjawab panggilan telepon dari Archibald dengan manja."Paman~"

"Kau sudah pulang kerja?"

"Hmmm. Aku baru saja ganti baju," balas Lily."Paman sedang apa?"

"Kau sampai di hotel jam tujuh malam?"

"Jalanan sangat macet. Ada kecelakaan juga. Jadi, sangat melelahkan."

"Sudah kubilang pakai heli saja supaya cepat sampai."

Lily tersenyum penuh arti."Aku hanya ingin menaikinya jika Paman ada di sini. Apa hebatnya aku sampai harus diantar naik Heli."

"Kau kan calon istriku, itulah kehebatanmu,"balas Archibald. Sepertinya ia sedang mengunyah sesuatu.

"Apa yang Paman lakukan sekarang?"
"Aku sedang sarapan. Kuharap hari-hariku di sini segera berakhir." Biasanya Archibald tidak pernah mengeluh. Namun, rasa rindu membuat ia harus mengeluhkan segalanya.

"Memangnya di sana jam berapa?"

"Jam setengah tujuh. Gimana kerjaan hari ini? Ada yang ganggu nggak?"

Lily melirik jam di ponselnya. Ternyata mereka memiliki perbedaan waktu selama tiga belas jam. "Nggak ada. Semua baik-baik saja." Lily ingin bertanya mengenai kecelakaan yang dialami Richard. Tapi, pembicaraan ini akan tidak nyaman jika menyebut nama orang lain. Itu bisa membuat suasana hati Archibald memburuk.

"Syukurlah kalau begitu. Kuharap selamanya akan membaik."

"Baru sehari saja Paman pergi, aku merasa sunyi." Pipi Lily terasa panas saat mengatakannya.

Jantung Archibald berdegup kencang. Ia sangat senang mendengarnya. "Bukankah sebelum kita bertemu kau juga selalu sendiri?"

"Tapi aku sering pergi, entah itu nonton bioskop, makan di warung pinggir jalan, keliling mall. Mungkin karena selama seminggu ini aku terus bersama Paman. Aku jadi sangat kehilangan."

"Hmmm~ begitu ya. Jika memang kau sangat rindu padaku, kau bisa menyusul ke sini setelah paspor selesai."

"Aku belum mengurusnya, kan? Nanti sajalah, aku juga belum membutuhkannya." Lily tidak berminat pergi jauh untuk sementara ini.

"Kau harus mengurusnya, sayang. Aku sering pergi dan kau juga harus ikut."

"Baiklah, Paman." Lily tidak ingin memperdebatkannya lagi."Jagalah kesehatan Paman di sana."

"Hmmm, kau juga. Makan tepat waktu dan jangan tidur larut malam. Jika kau kesepian malam ini pergilah jalan-jalan. Aku akan mengirim sopir untukmu."

Mata Lily berbinar."Apa boleh, Paman?"

"Kau boleh meminta apa pun, sayang, asalkan bertanya lebih dulu padaku. Aku mengizinkanmu pergi."

"Ah, aku ingin ke bioskop."

"Pergilah ke CGV cinemas. Carilah tempat yang nyaman dan terbaik. Kau harus membuat dirimu nyaman dan bahagia."

"Aku mengerti. Terima kasih sudah mengizinkanku."

"Istirahatlah sebelum kau pergi. Kau harus selalu memberiku kabar. Kau ingat, Lily?"

"Iya, Paman."

"Ya sudah kututup teleponnya. Selamat bersenang-senang."

Lily memekik senang. Ia melompat dari ranjang, lalu mandi. Namun, sebelum itu ia akan mengambil gambar dengan ponselnya. Kebetulan ia mengenakan pakaian yang seksi. Setelah itu ia mengirimkannya pada Archibald. Semoga pria itu menyukainya.

Lily sudah berpakaian rapi, ia diantar sopir yang khusus dikirim Archibald. Hal itu dilakukan agar Archibald bisa melacak keberadaan Lily dengan mudah.

Lily masuk ke dalam bioskop. Ada satu film yang sangat menarik perhatiannya. Ia yakin film itu sangat bagus. Ia membeli tiket,lalu membeli minuman dan popcorn. Ia masuk dan menanti film ditayangkan.

"Halo, Lily."

Lily tersentak. Wanita itu sempat membatu."Paman Nath kenapa ada di sini?"

"Ini bioskop, kan? Ya tentu aja aku mau nonton film."

"Tapi, kebetulan sekali." Lily meringis. Ia sangat kaget begitu Nathan duduk di sebelahnya."Paman duduk si sini?"

"Iya, kita sebelahan, kan?"

"Wah bisa kebetulan begini, ya?"

"Aku memang ingin nonton, lalu tidak sengaja melihatmu. Jadi, aku mengajukan permintaan khusus pada mereka. Aku ingin diletakkan di sebelahmu." Nathan mengakui perbuatannya. Bahkan ia membeli tiket barisan depan dan belakang mereka agar tidak ada penonton di sana. Lalu, ia juga membeli tiket yang berada satu baris dengan bangku mereka.

"Filmnya masih beberapa menit lagi dimulai,"kata Lily.

Nathan mengangguk."Aku tahu, aku masuk sekarang karena ingin bertemu denganmu. Apa kau tahu ini film apa?"

Lily tertunduk dengan wajah merah. Film yang ia tonton kali ini bergenre romansa dengan rate 21+. Awalnya ia berpikir tidak apa-apa jika menontonnya sendirian. Ternyata di sebelahnya adalah Nathan, pria yang seumuran dengan Archibald. Ia jadi membayangkan lelaki itu ada di sampingnya.

"Ini~ apa ya aku juga tidak tahu. Asal pilih saja karena posternya terlihat bagus,"kata Lily berbohong.

Nathan tersenyum penuh arti."Ah, begitu ya... kita lihat saja nanti."

Lampu dimatikan. Film pun dimulai. Lily memakan popcorn untuk menutupi kegugupannya ada di sebelah Nathan. Sikap pria itu sedikit mirip dengan Archibald. Entah perasaan apa ini. Ia memang pernah menyukai Nathan. Tapi, itu dulu sekali, saat ia masih remaja dan belum mengerti apa-apa. Apa mungkin perasaannya kembali tumbuh.

Lily menggeleng. Ia tidak boleh bersikap seperti ini karena ia sudah dimiliki Archibald. Karena Nathan ada di sampingnya, ia tidak fokus dengan alur film. Ia hanya terpaku ketika adegan dewasa itu terpampang di hadapannya. Lily menelan ludahnya. Ia melirik ekspresi Lelaki itu. Tampaknya ia terlihat tenang.

Lily menarik napas panjang. Kemudian menyedot minumannya. Nathan memegang tangan Lily dan mengusap-usapnya. Wanita itu membatu. Ia ingin menarik tangannya, tetapi, ia merasa sangat kaku.

"Lily, kau cantik sekali," bisik Archibald. Wajah pria itu dekat sekali dengannya. Karena suara film yang keras, pria itu harus bicara dengan jarak yang sangat dekat.

"A-aku~" Wanita itu merasa gugup. Apa lagi tidak ada orang di sekitarnya. Penonton malam ini juga tidak begitu banyak.

"Apa kau memiliki kekasih?"

"Ya-ya, aku punya kekasih." Akhirnya Lily bisa menarik tangannya.

"Apa kekasihmu itu Archibald?"

Lily terperangah. Pertanyaan tentang kekasih itu sangatlah wajar. Namun, kenapa Nathan menebaknya dengan tepat. Atau pria itu hanya menduga saja.

Nathan tertawa pelan."Aku hanya bercanda. Kenapa gugup begitu."

"Paman mengagetkanku saja. Kita fokus ke film saja."

Nathan mengangguk, ia menatap Lily di antara cahaya yang menyinari wajahnya. Ia mengecup kepala wanita itu dengan cepat, lalu menatap layar besar itu lagi.

Jantung Lily berdegup kencang. Ia memegang dadanya dengan keras. Ia tidak tahu kenapa Nathan melakukan itu.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang