Pagi ini Lily menggunakan angkutan umum seperti biasa. Rutenya saja yang agak berubah karena ia sudah pindah di hotel. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sekarang ia bisa makan apa saja, semua sudah disediakan. Ia bisa makan pagi yang enak dan mengenakan pakaian yang bagus.
Sebelum ke kantor, Lily pergi membeli makanan kecil untuk Mario. Mereka bisa makan bersama saat jam istirahat atau saat jam kerja belum dimulai.
"Halo, Mario." Lily menyapa pria yang duduk di sudut ruangan.
Mario melepaskan headphonenya."Ah, datang juga. Aku pikir telat."
"Nggak dong, aku nggak suka telat." Lily duduk di sebelah lelaki itu. Ia memutuskan untuk pindah meja kerja saja.
"Kau tahu nggak, Pak Richard dan Fidella kecelakaan." Mario memulai pagi ini dengan gosip hangat yang menyebar di kantor.
"Hah?" Lily tersentak."Kecelakaan apa? Kau tahu dari mana?"
"Sekantor udah heboh dari pagi. Yey sih datang telat."
"Aku beli sesuatu dulu, nih, buat cemilan kita." Lily menunjukkan tasnya.
"Astaga~ kayaknya enak."
Lily mengangguk."Enak dong. Oh, ya~ jadi gimana keadaan mereka?"
"Katanya, sih, nggak apa-apa ya. Cuma mobil mereka aja rusak." Mario melihat ke sekelilingnya, lalu berbisik."Kayaknya mereka mabora deh."
"Aku nggak tahu, sih, ya syukurlah mereka nggak kenapa-kenapa." Lily anggap itu adalah karma karena mereka jahat padanya. Padahal hubungan mereka sudah berakhir dan tidak ada hubungan apa-apa.
"Boleh dicoba nggak, nih?"
"Ya boleh kalau belum jam kerja. Makan yang banyak,"kata Lily senang. Akhirnya ia memiliki teman bicara di dalam kantor.
Lily mematung sejenak. Mungkinkah kecelakaan ini ada hubungannya dengan Archibald. Kemarin ia mengadukan prilaku mereka. Wanita itu menggeleng kuat. Ini pasti hanya kebetulan saja.
"Udah, nih, simpan buat nanti aja,"kata Mario.
"Okey."
"Tadi ada Bos baru."
Lily menatap Mario takjub. Meskipun ia dijauhin orang, ia tetap mengetahui perkembangan di kantor ini."Denger dari mana, sih, Mar, kan kau nggak punya temen."
"Telingaku ini tajam loh, Lily~ aku bisa dengar percakapan mereka di ujung sana." Mario mengibaskan rambutnya dengan bangga.
"Astaga~" Lily tertawa. Wanita itu menyalakan komputernya dan mulai bekerja. Sekitar pukul sebelas lebih, hampir mendekati makan siang, Lily dipanggil ke ruangan salah satu Bos mereka.
Lily mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. Wanita itu mematung beberapa saat, lalu tersenyum."Selamat siang, Pak, Bapak memanggil saya?"
Nathan terkekeh."Kenapa formal begitu, silakan duduk, Lily."
Lily duduk di hadapan Nathan.""Oh, Paman~ kerja di sini?"
Nathan mengangguk."Benar. Aku Bos barumu. Aku nggak menyangka kalau kita akan sekantor."
"Tapi, aneh rasanya melihat Paman bekerja di sini. Ini kan~ kantor kecil." Lily menyipitkan matanya curiga. Hanya saja ia tidak akan mempermasalahkan hal ini. Mau dimana pun Nathan bekerja, itu bukanlah urusannya.
Nathan menopang dagu, matanya tak lepas dari wanita cantik di hadapannya. "Ya, aku bosan saja. Di sini lebih menarik."
"Paman Archibald baru saja berangkat ke Dallas."
"Ya, aku tahu. Kami sempat bertemu beberapa hari lalu. Kau tidak perlu menceritakan tentang aku, ya. Dia bisa menertawakanku," kata Nathan.
"Ya, aku mengerti. Tapi, apa yang membuat Paman memanggilku ke sini?"
Nathan menggeleng."Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kita tidak sempat berbincang kemarin."
Lily mengangguk-angguk."Benar sekali."
"Apa kau ada waktu untuk ketemu di luar?"
Lily hampir mengiyakan. Tiba-tiba ia ingat dengan Archibald. Pria itu pasti terus mengawasinya."Maaf aku tidak bisa bertemu Paman Nath di luar. Sepertinya kita hanya bisa bertemu di kantor."
Nathan mendengkus." Pasti Archibald melarangmu, kan?" geramnya dalam hati.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
"Maaf, Paman, aku tidak bisa menerima ajakan Paman. Maafkan aku." Lily menolak dengan nada sehalus mungkin.
"Memangnya kenapa?"
"Itu~" Lily bingung menjelaskannya.
"Archibald melarangmu pergi dengan pria?"
"Ah, itu benar~ Paman ingin melindungiku. Jadi, aku harus patuh padanya."
"Padahal aku ini teman baiknya loh." Nathan menunjukkan wajah sedih."Tapi, tidak apa-apa. Jika di dalam kantor~ kita boleh sering bertemu, kan?"
"Tentu saja."
"Sudah waktunya makan siang. Ayo keluar dari ruangan ini," kata Nathan.
Lily dan Nathan keluar ruangan bersama-sama. Sementara itu Mario masih duduk di tempatnya menanti Lily.
"Kau makan siang di mana, Lily?"
"Aku makan siang bersama temanku," tunjuk Lily pada Mario.
Mario tersenyum menyapa Nathan."Selamat siang, Pak."
"Siang."
"Ya sudah saya duluan, ya." Nathan pergi.
Mario menyenggol lengan Lily."Siapa itu?"
"Bos baru, kan?"
Mario menganga."Oh, itu Bos barunya? Astaga baru ngeh deh aku. Ganteng ya~"
Lily tersenyum tipis."Ya lumayan,lah." Andai Archibald mendengar pujiannya, pria itu pasti akan menghukumnya.
"Tapi, kalian kok langsung deket, sih? Udah kenal sebelumnya, ya?"
"Oh, temannya Paman aku~ eh maksudnya, temen tunangan aku."
"Hah, demi apa kau sudah tunangan?" Mario memekik tak percaya.
Lily tersenyum sambil memamerkan cincinnya."Benar, aku sudah tunangan."
Mata Mario membesar melihat cincin yang sangat menyilaukan itu."Siapa orangnya? Orang kantor ini juga?:
Lily menggeleng."Dia lagi ada di Dallas."
"Bule?"
"Bukan, eh campuran, sih. Cuma dia bukan orang sana. Lagi kerja aja."
"Pasti orang kaya, kan?"
"Aku juga kaya kok." Lily tertawa.
Mario melihat penampilan Lily, lalu ia mengangguk-angguk."Ya, sih, percaya~"
"Percaya tapi kok gitu?"
"Nggak tahu, ah, pokoknya aku seneng punya temen banyak duit." Mario tertawa bahagia."Jangan musuhin aku, ya."
"Siapa juga yang mau musuhin. Ayo kita makan!"
"Ayoo!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
DragosteSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
