22- Habislah kau, Lily

1K 52 5
                                        

Lily berusaha membuka matanya yang berat. Sejak beberapa menit lalu, ia sudah sadar. Namun, ia masih sukar membuka mata dengan benar. Lily ingat bahwa Nathan membawanya pergi. Di saat seperti ini Archibald pasti sedang mencarinya.

"Paman~" Suara Lily begitu lemah.

Ia melihat sekelilingnya yang diterangi cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Tapi, ia masih bisa melihat bayangan lelaki itu dengan jelas. Lily mendengar suara deburan ombak. Sepertinya mereka ada di tepi pantai. Lily ingat kalau keluarga Nathan memiliki pulau pribadi. Mungkin saja ia ada di Pulau itu sekarang.

Nathan yang berdiri menatap laut menoleh. Ia menghampiri Lily dengan senang."Akhirnya kau bangun."

Lily melihat sekitarnya."Kenapa Paman membawaku ke sini?"

"Itu karena aku hanya ingin berduaan denganmu, sayang." Nathan membelai wajah Lily.

Lily bangkit dan duduk. "Ini di Pulau Paman, kan?"

Nathan mengangguk senang."Ternyata kau masih ingat dengan tempat ini."

Saat baru saja menjadi anggota keluarga Ayahnya, Lily sering diajak pergi oleh Archibald. Mereka pergi liburan bersama beberapa temannya, salah satunya adalah Nathan. Dan mereka pernah datang ke Pulai ini beberapa kali.

"Paman, kenapa membawaku dengan cara seperti ini? Paman seperti sedang menculikku."

"Jika aku menculikmu, kau tidak tahu ini ada di mana. Kau sangat paham dengan tempat ini." Nathan mengambil segelas air dan memberikan pada Lily.

Wanita itu langsung meneguknya karena ia merasa haus."Lalu, apa yang akan kita lakukan di sini? Paman Archibald pasti mencariku."

"Archibald pasti sudah dalam perjalanan dari Dallas. Aku sangat yakin itu." Nathan terkekeh.

"Kenapa mengganggu Paman Archibald. Dia sedang sibuk."

Nathan mengambil rambut Lily yang menjuntai  lalu mencium ujungnya."Karena dia sudah mengambilmu. Jadi, aku tidak suka padanya. Aku sudah mengajaknya bicara baik-baik, tapi, dia menolakku."

Lily menghela napas panjang. Baik Archibald maupun Nathan, dua-duanya menyeramkan. Jadi, jika ia sudah melewati ketakutannya bersama Archibald, ia pasti bisa menghadapi Nathan dengan benar.

Lily menggulung rambutnya."Aku ingin mandi."

"Benar, kau harus mandi. Mandilah dengan air hangat."

Lily mengangguk pelan, lalu ia menatap Nathan."Tapi, aku tidak ada pakaian yang lain."

"Aku membelikanmu pakaian. Periksa saja di lemari."

"Terima kasih, Paman." Lily melakukan banyak hal dengan tenang. Ia tidak boleh terlihat seperti pemberontak. Itu akan semakin menyulitkannya di sini.

Lily merendam tubuhnya dengan air hangat. Ia mengusap tubuhnya dengan busa sabun yang harum. Ia merasa rileks. Pikirannya melayang pada Archibald. Mungkinkah pria itu sudah tahu bahwa ia menghilang sekarang. Ponselnya tidak ada di tangannya. Nathan pasti sengaja meninggalkan di suatu tempat agar tidak terlacak dengan mudah oleh Archibald. Tapi, seharusnya Archibald bisa mengetahui keberadaannya dengan mudah. Semoga saja pria itu baik-baik saja.

Lily memeriksa lemari. Ia melihat ada beberapa piyama wanita di dalamnya. Wanita itu segera mengenakannya dan kembali. Nathan tersenyum senang melihat Lily kembali. Wajahnya terlìhat pucat karena make up-nya sudah dihapus.

Lily menatap keluar jendela. Ia melihat air laut disinari cahaya bulan. Wanita itu memejamkan mata, menikmati suara deburan ombak. Nathan menghampiri Lily dan memeluknya dari belakang. Kemudian ia mencium pundak wanita itu.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang