Cerita ini sudah tamat di karyakarsa.
Yang mau baca duluan bisa ke sana
Atau ke Google Play book. Link ada di Wall aku.
Yang mau nunggu di wattpad juga bisa.
🥰
Endingnya tetap dengan satu orang, ya.
Lily terdiam cukup lama setelah pembicaraan mereka berakhir. Ia tersadar saat ada yang masuk ke dalam toilet di sebelahnya. Wanita itu mengakhiri persembunyiannya. Ia pergi ke wastafel untuk mencuci muka. Matanya sedikit sembap.
Lily merapikan riasan wajahnya sedikit. Tanpa ia sadari, wanita yang baru masuk ke dalam toilet adalah Fidella. Jika tahu itu adalah Fidella, ia akan cepat pergi dari sini.
"Wah, ada yang menangis." Wanita itu tertawa mengejek.
"Diamlah, anak baru. Sikapmu terlalu berani hanya karena kau kekasih asisten manager." Lily menatap Fidella dengan berani.
"Apa kau tahu sebenarnya~ kalau Richard memacarimu hanya karena sebuah taruhan." Fidella menunjukkan sebuah video.
Hati Lily sedikit berdenyut. Ia menyela pernah mempercayai seorang Richard. Tapi, sesakit apa pun saat ini, ia adalah kekasih Archibald yanh kaya raya."Sekali pun itu benar, aku sama sekali tidak peduli, Fidella. Itu sudah berlalu. Hubungan yang dijalani karena kebohongan, akan mudah dilupakan begitu saja."
"Kau sakit hati, kan, sekarang?"
Lily tertawa sambil membenarkan rambutnya."Jika kau memberi tahu sejak awal, aku akan sakit hati. Tapi, sekarang~ astaga itu sama sekali tidak penting. Kalian menunduhku membawa sial. Padahal tanpa aku di samping Richard, kalian tetap mengalami kesialan."
Tangan Fidella mengepal. Ia menjadi kesal karena teringat dengan kecelakaan tersebut. Richard masih sempat menyebut nama Lily.
"Aku melihatmu di hotel bersama Direktur kita yang baru. Pantas saja kau bisa masuk lagi dengan mudah. Ternyata~ kau ini simpanannya ya."
Lily tertawa, tapi, ia merasa kesal karena Fidella melihatnya bersama Nathan. Padahal mereka hanya sarapan bersama. Itu juga kebetulan saja."Simpanan bagaimana. Pak Nathan itu belum menikah."
"Bagaimana kalau dia sudah menikah dan punya anak? Pria biasa menyembunyikan sesuatu,kan untuk menggoda wanita lain."
Lily tersentak. Benar. Ia tidak pernah tahu apakah Nathan sudah menikah atau belum."Maksudmu itu seperti Richard?"
"Kenapa kau menuduhku seperti itu? Padahal aku harus mencurigaimu. Kenapa bisa masuk Perusahaan ini dengan mudah? Padahal semua orang harus melewati tes yang panjang dan jenjang karir. Tapi kau~ tiba-tiba sudah ingin menggantikanku saja." Lily memandang remeh Fidella. Ia takan menunjukkan bahwa ia wanita yang tidak bisa diinjak begitu saja.
"Kenapa, kau iri?"
Lily memutar bola matanya."Hah, ternyata kau memang seperti ini ya. Tidak mau disalahkan, tapi, suka menyalahkan orang lain. Memuakkan sekali."
"Aku akan menyebarkan ke seluruh kantor ini bahwa kau ada main dengan Direktur."
"Hei, Fidella~ memangnya kenapa? Apa itu melanggar peraturan? Direktur kita masih muda, kan? Aku juga seorang yang single. Apa salahnya?" Lily menyeringai.
Ia mengibaskan rambutnya lalu pergi. Sekali pun ia memang tidak ada hubungan apa pun dengan Nathan, ia harus membuat mulut sombong Fidella terdiam. Sebenarnya kenapa wanita itu terus memprovokasinya. Apa dia cemburu karena Lily mantan kekasih Richard. Astaga, menjijikkan sekali. Energi Lily terkuras karena drama di kantor ini. Ia mulai agak frustrasi.
Sepertinya ia mulai tidak nyaman bekerja di sini. Tapi, baru beberapa hari ia kembali.
"Lily kau baik-baik aja, kan? Lama sekali di toilet?" tanya Mario begitu melihat Lily. Pria itu tampak lega karena berpikir telah terjadi sesuatu pada wanita itu.
Lily menggeleng sambil memegang kepalanya. "Aku agak pusing."
"Izin aja, Lily, kau kan tadi pingsan. Masih ada efeknya. Atau kuantar lagi ke ruang kesehatan?"
"A-aku~" Lily merasa tubuhnya lemas. Ia pun terduduk."Entahlah, aku nggak enak badan."
"Lily~"
Mario dan Lily menoleh. Nathan muncul kembali.
"Ayo kuantar pulang atau ke rumah sakit. Sepertinya kau masih sakit."
Lily menggeleng."Nggak, Paman. Aku baik-baik aja."
"Ayolah, kuantar pulang." Nathan menariknya paksa.
"Pulang aja, Lily," kata Mario.
Lily merasa semakin lemas. Tubuhnya mengikuti kemana Nathan membawanya. Sesampai di mobil, Lily semakin tidak sadar. Ia tertidur lelap. Lalu, Nathan membawanya begitu jauh.
Archibald baru saja bangun. Pria itu duduk di balkon untuk menikmati sarapan paginya. Sebelum ia membaca berita terkini, ia membuka pesan lebih dulu.
Archibald membaca pesan dari mata-mata yang ia pekerjakan. Archibald berdiri seketika. Dunia menjadi gelap sesaat. Nathan menjadi Direktur di Perusahaan Lily bekerja.
Dengan tangan yang gemetar, Archibald menghubungi Lily. Wanita itu tidak menjawab teleponnya.
"Lily, kau ada di mana~ tolong angkat teleponku!" Archibald menggeram. Seharusnya wanita itu sudah di penthouse. Karena lelah, ia tidak menanyakan keberadaan Lily lagi. Ia melupakan banyak hal tentang wanita itu.
"Ha-halo."
Archibald terbelalak karena itu adalah suara pria.
"Siapa kau?
"Maaf, saya Mario teman sekantor Lily. Hapenya tertinggal di meja kerjanya. Jadi, aku membawanya pulang dan berniat memberikannya besok. Maafkan saya."
"Tapi, dia bisa saja kembali mencari ponselnya. Kenapa kau bawa? Kau mau mencuri?" Archibald marah.
"Tap-tapi, Lily sudah pergi sejak makan siang. Aku hanya berusaha menyimpan. Sekali lagi maafkan saya."
Rahang Archibald mengeras."Sejak makan siang. Dia pergi dengan siapa?"
"Pagi tadi Lily sempat pingsan di ruangan Pak Direktur. Dia sempat dirawat di ruang kesehatan. Tapi, ketika kembali Lily masih tidak enak badan. Lalu, Pak Nathan mengantarnya pulang."
Tubuh Archibald bergetar menahan amarah. Pria itu sudah berani bertindak. Bahkan mengambil ksempatan di saat ia sedang pergi."Baik, Terima kasih, Mario. Besok akan ada yang ambil handphone Lily di kantor. Terima kasih sudah menjaganya."
"Baik, Pak."
Archibald mengakhiri panggilan dengan wajah marah. Ia menghubungi orang suruhannya.
"Cari keberadaan Lily sekarang. Jika tidak ketemu, kalian semua dipecat!"
Archibald merapikan barang-barang pentingnya dan memasukkan ke dalam tas. Ia segera pergi ke Bandara. Ia harus pulang sekarang juga. Sialnya ia harus melewati puluhan jam perjalanan untuk tiba di sana. Archibald akan mencari peswat dengan rute terdekat. Semoga saja Nathan tidak melalukan apa pun pada wanita yang dicintainya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
