Pagi ini, suara deru napas masih terdengar di kamar mewah itu. Hari terakhir kebersamaan mereka membuat Archibald memuaskan dirinya. Ia tidak mau melewatkan waktu sedetik pun bersama Lily. Saat gairahnya berdesir, ia akan langsung memasuki Lily. Seperti saat ini, Lily sudah seharusnya ada di jalanan menuju kantor. Tapi, milik Archibald masih di dalam miliknya.
"Paman, aku sudah harus berangkat kerja,"rengek Lily. Ia sudah sangat terlambat.
"Aku yang akan mengantarmu."
"Tapi, waktunya tidak cukup lagi." Lily memandang layar ponselnya dengan panik. Sementara tidak ada tanda-tanda Archibald akan mengeluarkan cairannya.
Archibald membungkam mulut Lily dengan melumat bibirnya. Ia akan melakukannya sekali lagi sebelum Lily pergi ke kantor.
"Kalau begitu, kita melakukannya sambil mandi saja." Archibald menyalakan shower. Ia menghunjam milik Lily yang bertumpu di dinding.
"Paman, cepatlah~" desah Lily. Wanita itu hanya tidak ingin terlambat. Namun, kalimat itu terdengar sangat vulgar di telinga Archibald. Pria itu semakin bersemangat menghunjam Lily. Tapi, akhirnya cairannya menyembur.
Lily langsung menjauh, ia membersihkan tubuhnya dengan cepat. Ia harus bergerak lebih cepat dari Archibald, sebab wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk berdandan.
Archibald tersenyum geli melihat Lily yang kelabakan. Wanita itu tampak sibuk dan terlihat sangat cemas.
"Paman~ aku sudah terlambat,"kata Lily hampir menangis.
"Kalau begitu, ayo~" Archibald menggandeng Lily dan membawa Lily ke atas gedung. Helikopter sudah menunggu di sana.
"Kita naik ini?"
Archibald mengangguk."Kau sudah terlambat, kan? Ayo naik."
"I-iya."
Lily tidak menyangka ia akan naik helikopter ke kantor. Sekarang ia sudah terbang di atas Kota.
Mereka berhenti tepat di atas gedung kantor.
"Lily sayang, aku langsung pergi," kata Archibald.
"Tapi, aku bagaimana?" Lily bingung karena tidak pernah melintasi atas gedung.
"Pergilah naik lift dan masuk ke ruanganmu seperti biasa." Archibald mengusap kepala Lily. Ia melumat bibir wanita itu sekilas."Jangan dekat dengan pria mana pun."
Wajah Lily memerah."Iya, Paman, aku akan menjaga kepercayaan Paman. Cepatlah kembali."
Archibald kembali naik ke heli, lalu sesaat kemudian ia sudah terbang kembali. Hati Lily terasa kosong dan hampa. Untuk sebulan ke depan, ia tidak bertemu dengan lelaki itu. Ia tidak tahu apakah ini kabar baik atau kabar yang buruk.
Lily buru-buru masuk ke lift dan memasuki ruangan yang ia rindukan. Semua orang menatap kehadiran Lily dengan berbagai ekspresi. Lily meletakkan tasnya dengan kikuk. Sepertinya mereka bertanya-tanya kenapa ia bisa masuk kerja lagi.
"Lily, selamat datang kembali."
Lily tersentak, ternyata itu adalah Supervisornya."Terima kasih, Pak Dimas. Saya akan bekerja dengan baik."
"Baiklah, selamat bekerja."
Lily tersenyum kikuk. Ia melirik ke sekitarnya. Mereka terlihat cuek seperti biasa. Wanita itu menarik napas panjang. Sepertinya semua berjalan baik. Atasannya juga menyambutnya. Itu artinya ia sudah diterima kembali di sini. Jadi, ia tidak perlu memikirkan apa pun.
Wanita itu bekerja seperti biasa. Seakan-akan tidak ada yang terjadi di hari kemarin. Tidak ada juga yang menghina atau meneriakinya sebagai wanita pembawa sial.
Jam istirahat tiba, Lily menggeliat. Ia mengecek ponselnya untuk mengirim pesan pada Archibald. Sepertinya pria itu masih dalam perjalanan karena kontaknya tidak aktif. Tapi, Lily tetap memberi kabar sekecil apa pu agar pria itu tenang.
Lily melihat ke sekelilingnya yang sunyi. Matanya tertuju pada pria di sudut ruangan. Ia sedang makan dengan lahap. Lily menghampirinya."Hai~ tidak boleh makan siang di ruang kerja."
Pria itu menoleh dan meringis."Aku tahu, tapi, aku usah selesai makan kok."
"Kalau sudah tahu kenapa makan di sini? Nanti kamu didenda loh,"kata Lily mengingatkan.
"Aku nggak berani ke dapur. Soalnya orang-orang di sini agak kasar."
Lily mengangguk mengerti. Kantor ini sangat tidak ramah pada karyawan baru. Mereka menganggap mereka adalah saingan dan suatu saat bisa saja menggantikan mereka."Namaku Lily."
"Aku Mario."
"Kamu anak baru, ya?"
Mario mengangguk."Iyes, anak baru netes di sini, baru seminggu." Pria itu tertawa
"Kenapa nggak makan siang dengan yang lain?"
"Nggak. Mereka nggak mau berteman denganku. Soalnya, katanya bawa sial."
"Ah, nasib kita sama. Mereka juga tidak mau berteman denganku karena pembawa sial."
"Pembawa sial ditambah pembawa sial akan menjadi keberuntungan." Mario tertawa lepas.
"Mulai besok makan di ruang makan kantor aja. Kita nggak pernah tahu kapan kesialan menimpa kita. Orang kantor ini suka jahat."
Mario tersenyum kecut."Iya, aku tahu kok kejahatan mereka. Kok kamu baru kelihatan?"
"Aku diskors karena mereka. Tapi, ya udahlah aku sudah melupakannya."
"Hei, Lily!" Wanita yang kemarin bersama Richard datang.
Lily menatapnya sinis. Ia melirik ke lanyard wanita itu. Namanya Fidella."Ah, kau anak baru, tetapi, sudah berlagak seperti senior di sini."
"Setidaknya aku adalah kekasih Asisten Manager, jadi, kau tidak boleh menindasku!"
"Bukankah sebaliknya? Kau yang tiba-tiba datang menindasku."
Fidella menatap Mario yang kebingungan."Mario, kau akan sial jika menjadi temannya. Tidak lama lagi kau pasti akan kecelakaan."
"Ya ampun kenapa mendoakanku kecelakaan." Mario mengerucutkan bibirnya."Aku sudah sering menghadapi kesialan. Jadi, kurasa itu bukan karena Lily."
"Apa kau jadi simpanan direktur sekarang? Kenapa kau tiba-tiba kembali bekerja dan mengenakan barang mewah?"
"Memangnya kau pikir aku tidak mampu membelinya sendiri?"
"Aih, kalian ini udahlah, Ly." Mario berbisik.
"Dia yang datang dan mengganggu." Lily memandang Fidella kesal. Hanya karena menjadi kekasih Richard, wanita itu menjadi sepele sekali padanya.
"Aku akan mengadu pada Richard. Kau sudah memukulku."
"Adukan saja. Kau pikir aku takut?" Lily menatap tajam.
"Heh, bagaimana pun kau yang datang dan mengganggu kami. Kenapa kau yang menuduhnya memukulmu. Gila kau ya!" Mario menjadi gemas pada Fidella. Ia ingin menjambak rambut wanita itu dengan keras.
"Tunggu saja!" Fidella mengancam dan pergi. Sepertinya ia akan mengadu pada Richard.
"Mario, ayo kita pergi dari sini."
"Tap-tapi, mau ke mana?"
"Aku traktir kopi enak." Beberapa meter dari gedung ada coffe shop. Dulu ia sangat ingin minum kopi di sana. Tapi uangnya sangat sedikit sehingga ia mengurungkan niatnya. Sekarang ia punya banyak uang pemberian Archibald. Ia bisa membeli apa saja. Pria itu sudah seperti Sugar Daddynya saja.
Mario dan Lily berjalan beriringan ke coffe shop. Sementara orang suruhan Archibald terus melaporkan apa yang mereka lihat pada Bosnya.
Lily tidak sadar akan hal itu. Ia pikir ia sudah aman, tapi, Archibald justru menambah penjagaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
