34- Ketemu Mario, Nathan tidak ada kabar

619 35 0
                                        

Lily masih terbaring di tempat tidur setelah seminggu pasca keguguran. Archibald tidak memperbolehkannya melakukan aktivitas lain. Ia hanua boleh bergerak untuk pergi ke toilet. Lily sama sekali tidak tahu kalau ternyata ia sudah hamil. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Semua terjadi begitu cepat. Ia bahkan belum bisa mencerna semuanya dengan baik.

Sejak saat itu, Archibald lebih protektif terhadap Lily. Ia menggunakan chef pribadi agar Lily bisa makan teratur dan segera pulih.

Hari ini, Lily masih di atas ranjang. Ia mulai bosan. Ia ingin keluar rumah, tapi, Archibald belum mengizinkan. Lily membuka tirai dan melihat dunia luar yang begitu sibuk.

"Sayang~" panggil Archibald.

Lily merentangkan tangannya minta dipeluk. Pria itu menyambutnya dengan mesra."Bagaimana keadaanmu hari ini? Perutnya masih sakit?"

"Sudah tidak sakit. Tapi, terkadang terasa nyeri.

Archibald mengusap perut Lily."kata dokter butuh waktu satu minggu lagi untuk sembuh total. Sabar, ya."

Lily mengangguk. Bel berbunyi. Archibald melihay jam tangannya untuk memastikan siapa yang datang. Ia sedang mengundang seseorang untuk datang di jam ini."Aku cek sebentar, ya."

"Iya, Paman."

Archibald bergegas menyambut seseorang yang ia undang. Archibald membuka pintu kamar. Lily menatap lelaki itu sembari tersenyum."Ada tamu untukmu."

Lily tersentak."Siapa? Paman Nathan?" tebaknya.
Tidak ada orang lain yang mungkin datang selain pria itu. Terlebih lagi ia sudah tidak menampakkan batang hidungnya selama seminggu.

Archibald menggeleng."Silakan masuk."

Seseorang muncul dari balik pintu dengan wajah sedihnya."Lily!"

"Astaga, Mario!!" Lily memekik senang.

"Masuklah, Mario." Archibald mempersilakan Mario masuk."Kalian ngobrol lah di sini. Aku tunggu di ruang tengah."

"Terima kasih, Pak," kata Mario. Lalu ia menatap Lily. Keduanya berpelukan melepas rindu.

"Maaf baru jenguk, ya."

"Kau tahu aku sakit?"

"Nggak tahu, sih, tapi Tunanganmu itu menghubungiku. Dia ceritain kejadian ini, dia minta aku temenin kau di sini. Eh aku nggak bisa bawa apa-apa, cuma buah. Takut kalau bawa makanan yang bikin makin sakit." Mario meletakkan buah yang ia bawa. Ia kaget saat Archibald menghubunginya. Ia pikir ini berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan Lily. Ternyata pria itu memintanya menjenguk Lily agar tidak sedih.

"Terima kasih loh, Mario. Maaf merepotkan." Lily membawa Mario duduk.

"Apanya yang merepotkan. Aku terima kasih sekali, ya, Lil~ aku bisa dapat kerjaan lagi. Aku masuk mulai hari senin."

"Paman Nathan yang memberikanmu pekerjaan."
Ngomong-ngoming soal Nathan, Lily baru ingat kalau pria itu sudah tidak ada kabar lagi. Archibald pun tidak pernah menyebut namanya lagi.

"Oh, Pak Nathan direktur kita dulu, ya. Terima kasih banyak untukmu dan juga semua orang yang ada di dekatmu."

Sementara itu di ruang keluarga, Archibald menimang ponselnya. Pria itu sedang berpikir keras. Sudah satu minggu Nathan tidak memberi kabar atau muncul di hadapannya. Padahal ia sudah memberi kabar mengenai Lily. Pria itu tidak mungkin mengabaikan berita itu negitu saja.

Archibald merasa curiga. Sikapnya yang sangat menggebu-gebu bersama Lily membuat hal ini tidak masuk akal. Jika memang urusannya begitu rumit, ia tidak mungkin mengabaikan keinginannya untuk menemui Lily. Apa lagi ini adalah berita duka.

Archibald tidak tahu apakah ini hal yang baik atau buruk. Ini menjadi hal baik karena ia akan memiliki Lily sendirian. Ini akan menjadi hal buruk bagaimana jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Haruskah ia menemui Nathan diam-diam.

Archibald menghela napas panjang. Ia tidak tega meninggalkan Lily. Tapi, wanita itu sudah sembuh dan tinggal pemulihan saja. Untuk pergi ke rumah orang tua Nathan membutuhkan waktu empat jam perjalanan darat. Archibald menimbang-nimbang.

Pria itu hangkit, ia memutuskan untuk menemui Nathan agar tidak penasaran. Karena setelah ini, Archibald ingin menikahi Lily. Jadi, harus ada kesepakatan di antara mereka. Ia tidak mau Lily mengalami hal serupa lagi.

Archibald kembali ke kamar menemui Lily dan Mario. Keduanya sedang ngobrol dengan asyik.

"Ah, Paman, apa jam besuknya sudah selesai?" tanya Lily dengan tatapan kecewa.

"Ah, bukan~ " Archibald duduk di sebelah Lily."Aku ingin menemui Nathan. Apa aku boleh pergi? Tapi, kemungkinan perjalanannya cukuo jauh. Aku akan kembali malam hari."

Lily mengangguk pelan."Oh, pergilah, Paman. Paman Nathan mungkin saja membutuhkan Paman."

"Mario, jika kau tidak sibuk, apa kau bersedia menemani Lily? Kalian boleh pergi keluar, belanja, makan, atau apa pun. Asalkan dengan hati-hati. Karena Lily baru saja keguguran."

Mario menutup mulutnya tak percaya."Astaga, turut berduka cita, ya, Lily, Pak Archibald. Maaf kukira kau sakit biasa."

"Nggak apa-apa kok."

"Terima kasih, ya, Mario. Terima kasih sudah datang memenuhi undanganku," ucap Archibald tulus.

"Dengan senang hati, Pak. Lily adalah satu-satunya orang yang menerima saya di kantor. Jadi, Lily adalah teman yang berharga untuk saya."

"Jadi, kau bersedia kan menemani Lily?"

"Iya, Pak, saya nggak sibuk. Saya akan jaga Lily sampai Bapak kembali. Saya akan langsung menghubungi jika ada sesuatu yang terjadi," jawab Mario dengan tegas.

"Thanks, Mario." Archibald memeluk Lily dengan hangat."Kau sudah boleh pergi keluar, tapi, pelan-pelan ya. Berbelanjalah sesuka hatimu. Jangan jajan sembarangan."

"Iya, Paman. Terima kasih, ya," balas Lily.

Archibald mengecup bibir Lily."Aku pergi dulu, ya, sayang."

"Hati-hati, Pak," kata Mario.

Archibald mengangguk, lalu ia pergi.

Mario menatap Lily dengan sejuta tanya."Kenapa kau memanggilnya Paman?"

"Itu karena dia adalah adik dari Ayah tiriku." LiLy meringis malu,"dia terobsesi padaku sejak lama. Ketika Ayah dan Ibuku meninggal, dia menyatakan perasaanya padaku. Aku tidak punya pilihan lain, aku menerimanya."

"Ya betul, itu bagus. Karena dia bukan Paman kandungmu. Lebih baik menerimanya dari pada Richard. Kau hidup enak di sini. " Mario terkekeh.

"Iya, sih."

"Jangan panggil Paman lagi dong, panggil yang lebih mesra," kata Mario.

"Aku nggak biasa." Lily menggeleng malu," nanti juga akan berubah seiring berjalannya waktu."

"Terus kalau Pak Nathan berarti temannya Pak Archibald?"

"Iya. Mereka sahabat sejak kecil. Lalu, Pak Nathan juga menyukaiku."

"Ya ampun, beruntungnya kau Lily disukai dua pria mapan. Tapi, kau memang cantik, jadi, ya wajar mereka tergila-gila padamu."

"Ah, kau bisa saja." Lily tidak ingin membahas perihal Nathan lebih jauh."Ayo kita shopping," kata Lily mengalihkan pembicaraan."aku sudah seminggu tidak keluar. Aku ingin refreshing."

Mario menjentikkan jarinya."Kutemani kau sampai ke ujung dunia. Ayo siap-siap. Tanganku sangat kuat untuk membawa puluhan paper bag."

Lily tertawa. Kehadiran Mario benar-benar membuatnya terhibur. Archibald memang sangat pengertian karena mengundang Mario datang. Wanita itu segera bersiap-siap untuk pergi.

💜💜💜

Kira-kira Nathan kemana, ya. Yang penasaran bisalah ke karyarsa, sisa 10 part lagi.

Part ini merupakan part 33 di karyakarsa, ya.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang