Nathan terbangun ketika matahari sudah terik sekali. Pria itu mengerjap dan meraba-raba permukaan nakas. Ia mendapatkan jam tangannya untuk melihat waktu. Ini sudah pukul dua siang. Mereka tidur sangat lama karena kelelahan semalam. Tapi, tenaganya sudah pulih sekarang. Archibald dan Lily masih tertidur.
Nathan meneguk sebotol air mineral. Ia duduk sambil merenung sejenak. Ia membuka handphone-nya,lalu tersenyum sinis. Ia meletakkan gawainya ke atas meja, lalu berbaring lagi. Ia memeluk Lily dengan penuh cinta.
"Sayangku," bisik Nathan dengan tatapan bahagia.
Lily membuka matanya dan tersenyum tipis. Ia tidak bisa banyak bergerak karena seluruh tubuhnya sakit. Ia menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Kau ingin makan apa hari ini?"
"Apa saja, Paman, yang bisa mengembalikan energiku."
"Terima kasih sudah menghabiskan malam ini bersamaku."
Lily mengangguk sambil memejamkan mata. Ia masih belum terbiasa sedekat ini dengan Nathan. Jadi, ia merasa canggung.
"Paman, aku bisa kerja lagi, kan?" Lily bertanya dengan suara serak.
"Bisa. Setelah kita bertiga mencapai kesepakatan yang baik. Kita akan bicarakan setelah tenaga kita semua pulih." Nathan mengecup kening Lily."Aku akan minta koki siapkan makanan."
"Thanks, Paman."
"Sebentar, ya." Nathan tersenyum, kemudian pergi menemui koki yang ia panggil khusus untuk melayani mereka di sini. Setelah Nathan pergi, Archibald terbangun. Ia membalikkan badan.
Archibald memeluk Lily dan mencium lekukan lehernya."Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?"
"Hmmm pahaku sakit. Rahangku sakit, badanku juga sakit-sakit," keluh wanita itu. Ia tidak ingat pasti bagaimana ia bergerak dan digerakkan. Semua terjadi begitu saja dan mencapai puncak kenikmatan.
"Nanti hilang sendiri. Kita hanya perlu banyak istirahat." Archibad mengusap-usap lembut bagian yang merah. Itu disebabkan hisapan dan gigitan yang penuh gairah.
"Haruskah aku menghadapi kalian terus? Aku memiliki dua kekasih? Itu aneh."
Archibald meletakkan dagunya di pundak Lily."Aku sangat mencintaimu, tapi, aku tidak bisa menolak keinginan Nathan. Separuh hidupku adalah Lily, dan separuhnya lagi Nathan."
Lily menarik napas panjang sambil memejamkan mata."Baiklah, terserah kalian saja. Yang penting izinkan aku kembali bekerja. Aku sudah mengatakan keinginanku itu pada Paman Nathan."
"Baik, sayang."
"Huum~Paman akan kembali lagi ke Dallas?"
"Tidak. Aku akan kembali jika sudah bisa membawamu. Aku tidak mau meninggalkanmu lagi dalam situasi seperti ini." Archibald tidak bisa kembali dengan tenang jika belum ada kesepakatan. Nathan bisa berbuat seenaknya. Ia takut Lily terluka.
"Kan tidak mungkin ada Paman yang ketiga, kan?"
"Tidak ada. Kami berdua saja sudah cukup."
Nathan muncul."Makanan selesai dalam setengah jam."
"Oke," balas Archibald."Kau mengizinkannya bekerja lagi?"
Lily memutar bola matanya. Hidupnya sekarang berada dalam kendali dua manusia itu. Untuk bekerja sesuai keinginannya pun harus mendapat persetujuan mereka.
"Kau bersedia menjadi milik kami, kan, Lily?" Nathan menekankan kalimat itu. Semalam ia sudah bertanya berulang kali, tetapi, belum mendapat jawaban.
Lilu mengigit bibirnya."Jika satu sama lain tidak keberatan, aku akan menerimanya. Jangan ada pertengkaran di antara kalian."
"Kami akan menjagamu dengan sepenuh hati." Archibald mengecup pundak Lily.
"Jadi, kita bertiga sudah sepakat bukan?" Nathan meminta jawaban dari Lily dan Archibald.
"Dimana kita akan tinggal bersama?" tanya Archibald.
"Bagaimana dengan penthouse yang sudah kau siapkan untuk Lily?"
"Oke, aku tidak keberatan. Kau yang mengatur biayanya."
"Oke."Nathan tersenyum puas."Baik, kita bisa kembali sore ini. Kau bisa kembali bekerja besok."
Wajah Lily langsung berbinar. Ia bangkit dan memeluk Nathan."Terima kasih, Paman."
Nathan meletakkan Lily di atas pahanya."Apa pun itu kulakukan untukmu. Aku akan membereskan orang-orang yang melukaimu."
"Iya, Paman."
"Pastikan tubuhmu sudah pulih. Setelah itu kau bisa bekerja."Archibald menatap Nathan dan Lily. Ada sesuatu yang baru ia sadari."Kalian memiliki warna bola mata yang sama."
Nathan menatap Lily dengan saksama."Ya, aku baru menyadari itu padahal kita sudah lama bersama. Tapi, ada orang lain yang juga memiliki warna bola mata yang sama. Tapi, aku senang karena memiliki kesamaan dengan kekasihku."
Nathan mengusap-usap paha Lily yang lembut.
Archibald bangkit, ia meneguk air mineralnya dan melihat keluar jendela."Wah, hari ini panas sekali, ya."
"Karena ini sudah jam dua siang."
Archibald dan Lily tersentak kaget."Jam dua?"
Nathan tertawa geli."Kita tidur cukup lama bukan? Kita semua kelelahan."
"Itu benar, berapa kali kita melakukannya semalam. Itu membuatku gila!" Archibald meletakkan botol minumannya, lalu pergi ke toilet.
Lily ingin beranjak dari pangkuan Nathan. Pria itu menahannya."Jangan pergi."
"Aku hanya pindah posisi duduk."
Nathan mengubah posisi Lily. Wanita itu duduk di atas pangkuan dengan menghadap Nathan. Nathan mengusap-usap paha wanita itu. Mata Lily menyipit, ia mencium aroma gairah yang membuncah. Milik Nathan sudah mengeras lagi di bawah sana.
Lily melepaskan bathrobe Nathan, lalu mengusap-usap dada lelaki itu. Itu sama kerasnya dengan dada Archibald. Mereka adalah pria yang rajin berolah raga dan menjaga kesehatannya.
Nathan menyingkirkan bathrobe Lily, lalu menggesekkan miliknya pada milik Lily. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Nathan. Kemudian mencium leher Nathan dan menjilatinya. Pria itu mengerang sambil meremas dada wanita itu.
Nathan mengangkat pinggang Lily agar milik mereka bisa menyatu. Setelah itu ia memeluk tubuh Lily erat. Lily menggerakkan miliknya yang terasa penuh. Sedikit gerakan saja sudah membuatnya terasa ingin meledak.
"Aku sulit bergerak," katanya dengan napas terputus.
"Itu karena kau terlalu sempit," balas Nathan.
"Atau punya Paman yang terlalu besar?" balas Lily dengan berani.
"Keduanya benar." Nathan menahan tubuh Lily agar tetap dalam posisi tersebut. Lalu ia berdiri.
Lily berpegangan erat.
Nathan merapatkan tubuh Lily ke dinding, lalu menghunjamnya dalam posisi seperti itu. Lily takut ia akan jatuh. Tapi, Nathan tidak mungkin akan membiarkannya terjatuh. Nathan menekan tubuhnya dengan kuat dan menikmati pergesekan miliknya.
Archibald keluar dari toilet. Pria itu tampak baru saja selesai mandi. Ia mendapati Lily dan Nathan dalam posisi seperti itu.
"Kau ingin bergabung?" tanya Nathan dengan peluh bercucuran.
"Aku akan melakukannya sendiri nanti. Aku sudah mandi dan masih lelah," kata Archibald sambil membuka tasnya. Ia mengenakan pakaiannya.
Lily tidak tahu bagaimana keadaan tubuhnya setelah ini. Nathan terus menghunjamnya hingga ia merasa lemas sekali. Setelah mencapai puncaknya, Nathan memandikannya. Lalu, kali ini Lily bisa menggunakan pakaian dengan benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
