15- Paman Nathan

689 62 1
                                        

"Lily, makasih ya traktirannya. Ini pertama kalinya eyke minum kopi mahal."Mario tertawa lembut.

Lily sedikit terkejut karena ternyata Mario adalah pria yang lemah gemulai. Tapi, akhirnya ia merasa lega. Orang seperti itu sangat seru untuk dijadikan teman."Terima kasih juga, ya, Mar mau jadi temen aku."

"Aku, sih, bertemen sama siapa aja. Cuma orang-orang yang nggak mau berteman sama aku." Mario terkekeh.

"Ya udah kita kerja lagi." Lily kembali ke meja kerjanya. Ia melirik ke sekitar. Mereka memandang Lily dengan sinis.

Lily memeriksa ponselnya. Belum ada balasan dari Archibald. Ternyata ia merindukan lelaki itu.

"Lily, kenapa kau bisa bekerja lagi di sini?" Richard muncul dengan wajah heran.

"Pihak personalia yang mengbubungi dan memintaku kerja kembali." Lily menjawab dengan santai.

Richard bersedekap."Aku tahu, katanya Direktur yang meminta. Ada apa kau dengan Direktur?"

Lily melayangkan tatapan tajam."Itu bukan urusanmu, Richard. Apakah Pak Direktur itu Ayahku, Saudaraku, atau bahkan bukan siapa-siapaku, itu tidak ada hubungannya denganmu. Berhenti mengurusiku. Kita sudah selesai!"

Richard tertawa."Ah, itu menggangguku. Karena pihak kantor sudah menggunakan Fidella sebagai penggantimu. Sekarang kau masuk, Fidella harus seperti anak magang."

"Memang sudah seharusnya begitu. Pergilah, aku muak melihatmu."

Richard mendecih."Kau lihat, selama kita putus, tidak ada kesialan lagi di hidupku. Memang kau perempuan bawa sial."

Lily menahan emosinya. Matanya terpejam dan menarik napas perlahan. Mario menghampiri Lily setelah Richard pergi. Ia mengusap lengan Lily pelan."Sabar, ya, Neik~"

"Thank you, Mario. Aku nggak apa-apa." Lily tersenyum tipis.

Pukul lima sore, tepatnya saat semua orang membubarkan diri, ponsel Lily berbunyi. Archibald menghubunginya.

"Kamu sudah pulang, sayang?" Suara Archibald terdengar dari seberang sana. Perasaan Lily sedikit tenang.

"Baru aja bubar. Paman sudah dimana?" Wajah Lily terasa panas. Ia seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta, lalu sekarang ia sedang mendapat telepon dari kekasihnya.

"Aku sedang transit di Sidney. Sejak tadi aku ingin meneleponmu, tapi, kutahu kamu sedang sibuk."

"Iya, Paman."

"Siapa laki-laki yang keluar bersamamu siang ini?"

Jantung Lily berdegup kencang. Ia pikir Archibald sudah berhenti mengawasinya. "Oh namanya Mario, dia karyawan baru."

"Baru beberapa jam, Lily. Aku bahkan belum sampai ke Dallas, kau sudah melanggar janjimu."
Suara Archibald terdengar sangat kecewa.

Lily tersentak."Melanggar janji? So-soal apa?"

"Hmmm entahlah. Aku jadi sedih. Apa kupaksa kau ikut aku ke Dallas? Aku akan menunggumu di Sidney. Atau aku pulang lagi saja dan menunggu pasportmu selesai."

Lily mengigit jarinya. Ia baru ingat bahwa selama ini yang mencelakai pria di sekitarnya adalah pria itu. Lalu, Mario bisa saja menjadi korban selanjutnya. "Pa-Paman, maafkan aku. Aku tahu maksud Paman adalah Mario."

"Aku tidak suka mendengar namanya."

Lily sangat panik. Ia harus mengklarifikasinya dengan cepat. "Paman~jangan melakukan apa pun lagi. Mario tidak seperti pria pada umumnya. Paman ngerti maksudku, kan? Dia dikucilkan di kantor, sama seperti aku. Jangan melukainya. Se-selain itu dia itu agak~ slay. Dia juga tidak suka wanita sepertinya. Paman maafkan aku."

"Kau membelanya, ya~" Suara Archibald terdengar dingin dan cemburu.

"Tidak, Paman. Aku kan sudah jadi milik Paman. Kita sudah akan menikah, kan. Aku sungguh tidak akan ada apa-apa dengannya." Lily mulai putus asa.

"Jadi, kenapa masih memanggilku Paman?"

"Itu~aku belum terbiasa. Beri aku kesempatan untuk membiasakan diri. Pamam, jangan menyakiti orang yang baik padaku. Aku ini milik Paman,"kata Lily merayu Archibald.

"Astaga~" Archibald menghela napas panjang."Maaf, aku hanya takut kehilangan kamu."

"Aku mengerti, Paman."

"Aku akan terus mengawasi temanmu itu. Jika membahayakan, aku akan mengurusnya." Arcgibald menurunkan egonya. Berdasarkan foto yang dikirim orang suruhannya, pria itu juga sedikit berbeda. Sepertinya memang benar apa yang Lily katakan.

"Dibandingkan Mario, rekan kerjaku yang lain lebih berbahaya, Paman. Kekasih baru Richard membullyku hari ini. Richard juga menghampiriku dan menunduhku simpanan Direktur." Lily mengalihkan pembicaraan.

"Apa?" Rahang Archibald mengeras.

"Iya, wanita itu bahkan merupakan penggantiku di kantor. Jadi, ketika aku masuk lagi, posisinya tergeser dan Richard ikut menuduhku."

"Aku akan mengurusnya nanti. Yang penting kau harus menjauhi Pria berengsek itu."

"Iya, Paman, terima kasih." Lily bisa bernapas lega sekarang. Ia bisa mengadu pada Archibald tentang siapa yang menyakitinya. Mungkin saja orang yang menyakitinya akan langsung mendapatkan karma.

"Kau pulang naik apa? Aku panggilkan heli lagi saja, ya. Jam segini, kan macet."

Lily menggeleng kuat."Ah, jangan, Paman. Nanti ada yang melihatku. Aku naik taksi saja."

"Ya sudah, pulanglah sekarang. Nanti kirimkan fotomu jika sudah di hotel. Aku akan berangkat dua jam lagi."

"Iya, Paman, aku tutup dulu, ya."

"Hmmm~"

Lily menyandang tasnya dan segera turun. Sebenarnya ia ingin berjalan-jalan sedikit di sekitar sini. Tapi, Archibald pasti tidak menyukai itu.  Ia bisa melakukannya lain kali.

Lily berjalan di lobi, di sana ada yang sedang memperbaiki lampu. Lily sudah berjalan di tepi, tapi, tangga di dekatnya tiba-tiba tersenggol dan mengarah padanya.

"Ah!" Lily menunduk ketakutan. Setelah ini kepalanya pasti akan sakiy sekali. Tetapi, tidak ada benda apa pun yang menimpa tubuhnya. Lily membuka mata dan terkejut. Ternyata ada sosok yang menangkis benda tersebut.

"Kau baik-baik saja, Lily?" tanya pria tersebut.

Lily mengembuskan napas lega."Aku baik-baik saja. Terima kasih atas pertolongannya."

"Sama-sama."

Lily mematung karena menyadari sesuatu."Tap-tapi, kenapa Anda tahu namaku? Kita tidak saling mengenal,kan?"

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Lily. Namaku Nathan. Aku ini teman Archibald. Kau biasa memanggilku Nath." Nathan, akhirnya ia menemukan keberadaan Lily. Ia sengaja menemui Lily di saat Archibald pergi.

Lily menutup mulutnya tak percaya."Astaga, Paman~"

Nathan tertawa."Karena aku teman Pamanmu, maka kau memanggilku seperti itu? Panggil saja Nathan. Karena kita adalah wanita dan pria yang berteman sekarang."

"Kenapa Paman ada si sini? Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu," kata Lily mengecilkan suaranya.

Nathan mengangguk."Kau sudah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik."

"Tapi, anehnya Paman tidak berubah menjadi pria tua," balas Lily.

Wajah Lily merona."Aku sangat tersanjung. Kau bekerja di sini?"

Lily mengangguk."Benar. Aku harus pulang sekarang."

"Hati-hati di jalan, Lily."

Lily melambaikan tangannya. Ia berjalan beberapa meter. Lalu ia membalikkan badannya. Ia belum sempat bertanya dimana Nathan bekerja dan tinggal. Tetapi, pria itu sudah menghilang entah kemana.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang