40- Bertemu Archibald

170 26 0
                                        

Lily terbangun pagi ini. Ia melihat ke sekelilingnya yang sunyi. Nathan sudah tak ada di sisinya. Mungkin pria itu sudah pergi sebelum semua orang bangun. Lily bangkit sambil memegangi selimut. Ia masih dalam keadaan telanjang. Ia segera mengenakan pakaiannya sebelum ada kemungkinan orang datang ke kamar.


Mata Lily tertuju ke tempat sampah. Ada beberapa karet pengaman yang terikat di sana. Lily tidak ingat berapa kali Nathan melakukannya. Pria itu seperti menghabiskan seluruh kesempatan yang ia punya malam ini. Namun, seharusnya Nathan membangunkannya sebelum pergi.

Lily mengamankan sampah pengaman itu. Ia membungkusnya dengan sangat rapat, lalu meletakkan di tengah-tengah tumpukan sampah. Sebentar lagi asisten rumah tangga pasti akan membersihkan kamar ini. Tubuh Lily terasa pegal-pegal. Sepertinya setelah ini ia butuh massage lagi. Mungkin ia akan pergi setelah sarapan.

Setelah mandi dan bersiap, Lily pergi ke ruang makan. Belum ada siapa pun di sana. Namun, istri Nelson ada di sana sedang menata meja bersama asisten rumah tangga.

"Wah, enak sekali Tuan Putri baru bangun." Wanita itu menceletuk dengan nada menyindir.

Lily melirik, ternyata yang mengatakan hal itu adalah Ibu tirinya. Lily tidak menggubris perkataan wanita itu. Ia duduk manis dan menuangkan teh. Jika ia tidak menanggapinya, itu akan membuat orang itu kesal.

Wanita paruh baya itu menggebrak meja."Hei, kau tidak tahu sopan santun, ya. Kakekmu saja belum tiba. Kau sudah makan duluan."

Benar, wanita itu langsung kesal. Orang seperti itu memang mudah tersulut emosi. Lily menatapnya datar."Kau siapa?"

"Apa kau bilang? Aku ini menantu tertua di keluarga ini!"

Lily tertawa dengan nada mengejek."Baru beberapa hari tinggal di sini, sudah mengaku-ngaku menantu tertua. Memangnya kau dianggap menantu?"


"Tentu saja, karena pernikahan kami itu sah. Jadi, aku menantu keluarga ini sekarang," balasnya kesal.

Lily mengangguk-angguk cuek."Ya sudah kalau begitu, selamat, ya."


"Kau ini menyebalkan, sama seperti Ibumu!"

Lily memutar bola matanya."Jangan mencari masalah denganku lagi berani menyebut waniya yang suaminya kau rebut itu. Lebih baik kau diam saja dan nikmati waktumu sebagai Nyonya."

"Semalam Nathan masuk ke kamarmu dan tidak keluar sampai pagi. Apa yang kalian lakukan?" Wanita itu tersenyum puas.

Lily berusaha tetap tenang walaupun sebenarnya ia terkejut."Anda ini suka mencampuri urusan orang lain, ya. Selain itu ternyata suka mengintip."

"Kau ini memang kurang ajar!!" Suara wanita itu meninggi. Namun, setelah itu ia terkejut karena Nelson, Nathan, dan Kakeknya datang.

"Kenapa nada bicaramu pada Lily tinggi sekali?" tegur Nelson.

"Ah i-itu~" wanita itu tergagap. Tampaknya ia tidak menyangka jika kelakuannya akan ketahuan seperti ini. Ia menjadi kesal dan menatap Lily marah.

Lily tersenyum mengejek.

"Itu karena aku bertanya, kenapa Nathan masuk ke kamar Lily dan tidak keluar sampai pagi," jelasnya dengan pelan.

"Apa?" Nathan terperangah."Kau melihatku masuk, tapi, tidak melihatku keluar. Itu bisa menjadi berita yang buruk. Apakah itu benar?"

"Astaga, apa yang kau katakan pada adik dan anakku?" Nelson menatap istrinya dengan penuh peringatan.

Lily mengangguk-angguk."Benar, Ayah, semalam Paman Nath memang ke kamarku. Tapi, kedatangannya untuk memberiku hadiah pernikahan. Lalu setelah itu, Ayah datang dan kami bicara di teras. Iya, kan, Ayah?"

Nelson mengangguk setuju. Tetapi, tatapannya tidak lepas dari istrinya. Ia sudah memperingatkan wanita itu agar tidak macam-macam dengan Lily. Tapi, istrinya tidak mengindahkan peringatannya."Iya, Kami ngobrol cukup lama."

"Ketika Ayah datang ke kamarku, apakah Bibi melihatnya?" tatap Lily setengah mengejek.Wanita itu menggeleng.

Nathan tertawa geli."Bagaimana kau bisa menyebarkan rumor itu. Ini membuatku tidak nyaman. Sebelumnya keluarga ini baik-baik saja."

"Sebaiknya jangan ada rumor atau perkataan-perkataan yang membuat tidak nyaman satu sama lain." Sang Kakek memperingatkan. "Terutama kau, Nelson. Kau baru kembali. Seharusnya kau memenangkan hatiku agar aku ikhlas menerimamu kembali."

"Benar, itu membuatku takut. Padahal aku baru saja bergabung di keluarga ini. Tapi, setidaknya aku akan menikah besok. Jadi, aku tidak perlu menghadapi hal menakutkan seperti ini," balas Lily dengan nada sedih yang dibuat-buat. Itu membuat Ibu tirinya semakin kesal dan tersudut.

"Walaupun sudah menikah, ini juga rumahmu, Lily. Kau adalah cucu pertamaku."

"Tolong ampuni aku sekali ini saja, Ayah. Ke depannya, aku akan mendidik istriku dengan baik." Neslon tertunduk malu. Padahal ini adalah kesempatan emasnya untuk hidup nyaman. Ayahnya mengatakan ia tidak akan mendapatkan warisan. Namun, Ayahnya akan meninjau lebih dalam lagi dan akan mempeetimbangkannya jika Nelson berubah. Tapi, istrinya justru berulah dengan menyerang Lily yang sudah menjadi kesayangan keluarga ini.

"Ya sudah, ayo sarapan." Sang Kakek segera mengalihkan pembicaraan.

Lily tersenyum puas ke arah Ibu tirinya. Wanita itu mencoba menjatuhkannya tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lily melirik ke arah Nathan, pria itu tersenyum penuh arti.

Setelah sarapan, Lily segera pergi ke salon untuk perawatan diri. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya.

Pukul dua, Lily sudah selesai dengan segala ritualnya di salon. Ia cepat-cepat pulanh karena Archibald akan segera tiba. Pria itu akan menginap di sebuah hotel. Jadi, Lily menyambutnya di sana. Di hotel ini jugalah pernikahannya dengan Archibald akan dilaksanakan.

Lily berlari menghampiri Archibald yang baru keluar dari mobil. Wanita itu naik ke gendongan Archibald dan memeluknya erat.

Archibald tertawa."Kau sangat rindu padaku, kan?"

"Aku sangat rindu Paman. Aku ingin tinggal bersama lagi." Lily menyandarkan kepalanya di dada Archibald.

Archibald mengecup bibir Lily sekilas."Sabar, ya, besok kita akan resmi menjadi suami istri."

Lily mengangguk."Iya."

"Dimana Nathan?" Archibald menurunkan Lily.

Lily mengendikkan bahunya."Entahlah, aku bertemu dengannya saat sarapan. Setelah itu aku tidak tahu."

"Dia terus menangis saat meneleponku. Aku jadi tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya menyarankan agar dia menerima takdir."

Lily mengangguk setuju."Iya, itu benar. Tidak ada yang bisa mengubah hal ini."

"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?"

"Kita bisa lihat sekarang. Karena aku juga tidak tahu seperti apa. Kakek yang menyiapkan semuanya. Bagiku, yang terpenting adalah aku dan Paman menikah." Lily memeluk lengan Archibald.

"Kita cek sekarang, ya, setelah itu kita istirahat." Archibald harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Ia dan Lily harus menikah tanpa hambatan.

"Karena Kakek akan datang, kita tidak bisa sekamar dulu," bisik Lily sambil terkekeh. Ia tahu apa isi pikiran Archibald saat melihatnya.

Archibald mencolek hidung Lily."Aku masih bisa menahannya, sayang, itu cuma sehari. Besok kau milikku seutuhnya."

Sepasang kekasih itu masuk ke dalam gedung untuk.memastikan segalanya akan berjalan dengan lancar.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang