43- Bahagia (Tamat)

354 30 5
                                        

Matahari bersinar cerah masuk melalui jendela. Lily mengerjap dan terbangun. Ternyata mathari sudah tinggi. Ia terlambat bangun. Mungkin karena terlalu lelah. Wanita itu menggeliat dan melihat ke sebelahnya. Sang suami tersenyum. Pria itu tampak sudah segar. Archibald bangun lebih awal untuk mandi dan bekerja. Ia duduk di sebelah istrinya sambil memegang iPad.

"Halo, sayang," sapanya lembut sambil membelai kepala Lily.

Lily tersenyum dan mengusap tangan Archibald."Maaf aku terlambat bangun."

"Kau kelelahan. Jadi, itu bukan masalah. Lagi pula kita kan sedang berbulan madu."

Lily mengangguk, lalu ia duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut."Mana Paman Nathan?"

"Dia sudah pergi. Dia sengaja tidak membangunkanmu agar dia tidak terlalu sedih," balas Archibald.

Jawaban Archibald membuat Lily terpaku. Ia kaget sekaligus senang. Akhirnya Nathan pergi. Semoga saja Pamannya itu bisa melupakannya dan hidup bahagia bersama wanita lain."Dia sudah di pesawat?"

Archibald mengangguk."Ya, dia naik pesawat pertama. Tapi, kita tidak tahu kemana ia pergi. Jadi, aku tidak tahu apakah dia sudah tiba atau belum."

Lily mengusap wajahnya. Ia menatap Archibald serius."Sebenarnya aku kecewa karena Paman mengizinkan Paman Nath masuk. Lalu kita bercinta bertiga. Bagaimana pun kita sudah menikah. Aku tidak ingin melakukannya meskipun kau mengizinkan. Aku merasa tidak nyaman."

"Aku tahu kau tidak menyukainya. Maafkan aku, sayang. Tapi, hanya itu hal terakhir yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa melihat Nathan sesedih itu. Dia sangat menderita."

"Tapi, aku adalah istrimu. Kau tidak boleh membaginya dengan siapa pun. Sejak aku tahu dia adalah Pamanku, perasaanku terhadapnya berkurang banyak. Tapi, aku juga tidak tahu bagaimana cara menghindarinya. Karena dia juga terlalu baik," Archibald memgangguk mengerti."Maafkan aku. Itu yang terakhir. Kami sudah membuat kesepakatan. Jika suatu saat Nathan kembali, dia harus sudah dalam keadaan melupakanmu. Dia juga sudah harus bersama wanita lain."

Lily menghela napas berat."Sebenarnya yang kalian lakukan padaku sangatlah buruk. Aku menderita sejak kecil. Lalu aku harus menderita karena obsesi kalian sendiri."

Archibald langsung meletakkan iPadnya dan merengkuh tubuh mungil itu."Maaf, ya."

"It's okay. Tapi, jangan sakiti aku lagi dengan cara apa pun. Mulai sekarang, Paman harus menanyakan apa pun lebih dulu. Semua harus dilakukan atas izin bersama."

"Iya. Aku janji."

"Ya sudah kalau gitu. Aku harus mandi." Lily bangkit dengan malas. Ia masuk ke toilet dan merendam tubuhnya dengan air hangat. Wanita itu menatap langit-langit. Ia adalah pengantin baru, tapi, di hari pertamanya sebagai istri, hatinya terasa hampa atas apa yang dilakukan suaminya. Ternyata obsesi semengerikan itu.

Obsesi adalah labirin tak terlihat yang memenjarakan jiwa. Seseorang terjebak dalam lingkaran tak berujung, memikirkan, merindukan, dan mencintainya. Setiap detik adalah perjuangan antara akal dan hati. Semua hal menjadi tidak masuk akal. Semua hal tabu menjadi hal yang biasa.

Setelah menghabiskan setengah jam untuk mandi, Lily keluar mengenakan bathrobe. Ia bingung ketika ada beberapa pakaian di atas ranjang.

"Apa ini?"

"Ini pakaian untukmu, pilih dan pakailah, sayang. Kita harus makan siang bersama Kakek dan Ayah kamu."

"Memangnya harus makan siang bersama, ya? Aku agak capek dan tidak berminat keluar." Lily sedikit merengek dan bersandar manja di pelukan Archibald.

"Oh, kau lelah, ya, sayang. Maaf, ya sudah membuatmu lelah." Archibald membelai kepala Lily."Tapi, setelah menikah kita harus makan bersama. Hanya sebentar kok. Setelah itu kita kembali ke sini lagi."Lily mengangguk mengerti.

"Baiklah, Paman."

"Kau sudah tidak marah padaku, kan?"

Lily menggeleng."Tidak. Setelah bertemu Kakek dan Ayah, aku ingin shopping."

"Boleh, belanjalah sepuasmu. Mulai sekarang kau akan mendampingiku kemana pun aku pergi. Jadi, kau harus memiliki banyak pakaian dan sepatu yang bagus."

Lily mengenakan pakaiannya dengan sedikit malas. Meski ia tidak suka dengan acara ini, ia harus melakukannya karena sudah menjadi istri. Saat di lobi, pasangan pengantin baru itu bertemu dengan Mario. Mario sengaja mengambil cuti untuk hadir di pernikahan sahabatnya tersebut. Ia juga membawa Ibu dan adiknya untuk turut hadir.

"Kau belum pulang, Mario?" tanya Lily yang sangat senang melihat sahabatnya hadir semalam.

Mario menggeleng."Aku bawa Ibu dan Adikku sekalian jalan-jalan. Mereka masih ada di kamar." Pria itu menatap Lily dan Archibald dengan bahagia. Ia sangat menghormati pasangan itu yang sudah merubah hidupnya menjadi seperti ini. Sekarang ia punya pekerjaan yang bagus. Ia bisa belajar dengan cepat dan berpotensi direkomendasikan naik jabatan. Selain itu kehidupan keluarganya juga sudah membaik. Ia bisa membahagiakan keluarganya.

"Selamat bersenang-senang, Mario. Hati-hati. Jika kau butuh sesuatu hubungi kami," kata Archibald.

"Semua baik-baik saja. Selamat berbulan madu, ya kalian."

"Lily!"

Ketiganya menoleh ke sumber suara. Mario terbelalak, lalu mendecih."Astaga, kenapa kau masih di sini. Aku kan sudah mengusirmu."

Lily mematung menatap Richard yang datang bersama Fidella. "Kenapa dia di sini, Mario?" bisik Lily.

Mario menatap Lily dan Archibald dengan tidak enak hati."Maaf, ya, aku sudah mengusirnya. Tapi, diam-diam dia mengikuti jadwalku. Dia ingin ketemu denganmu, Lil."

"Tidak apa-apa. Biarkan dia bicara," kata Archibald mempersilakan.

Mario memanggil Richard agar mendekat."Sini, kau diberi kesempatan bicara. Jadi manfaatkan dengan baik. Jangan bicara kasar!"

Richard mendekat."Terima kasih."

"Kau ingin bicara apa dengan istriku?" tanya Archibald pada Richard.

"Pertama-tama, saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian," kata Richard. Sementara itu Mario hanya bisa mendecih saat mendengarnya.

"Terima kasih," balas Archibald.

"Kedua, aku ingin meminta maaf pada Lily karena dulu menyakitinya. Aku bertaruh demi kepentingan pribadiku. Aku mengatakan kau pembawa sial. Tapi, sampai sekarang pun hidupku terasa sial. Jadi, aku sadar bahwa kesialan itu bukan karen kehadiranmu di sisiku, melainkan karena sikapku yang buruk."

Lily menghela napas berat. Ia menatap suaminya yang melayangkan tatapan membunuh pada Richard. Lily memeluk lengan Archibald."Bagaimana, sayang? Kita harus ketemu Ayah dan Kakek."

"Sesungguhnya perbuatanmu tidak termaafkan, Richard. Kesombongan, keangkuhan, dan kemunafikanlah yang menghancurkanmu. Tapi, kau tidak sadar akan hal itu. Kau terus menyalahkan Lily." Archibald tertawa dalam hati. Sebab selama ini dirinyalah yang menciptakan itu semua. Namun, setelah Lily bersamanya, ia hanya melakukan beberapa kali. Lalu, setelah itu ia tidak melakukannya lagi. Yang terpenting Lily sudah bersamanya. Mungkin Nathan yang melakukannya.

"Ampuni saya, saya ingin hidup tenang mulai sekarang dengan berbuat baik. Saya tahu ini adalah karma atas perbuatan saya. Saya hampir kehilangan pekerjaan. Tolong maafkan saya," mohon Richard.

"Baik, kumaafkan. Mulai sekarang kalian harus menjadi orang baik dan berguna bagi orang lain," balas Archibald dengan serius.

Lily mengangguk setuju."Benar, aku sudah memaafkan kalian. Pergilah pulang dan jalani hidup dengan sebaik-baiknya."

"Te-terima kasih,Pak, Lily," ucap Richard berkali-kali.

"Ayo kita pergi, sayang." Archibald menggenggam tangan Lily dan masuk ke mobil. Lily membuang pandangannya ke luar jendela. Ia melihat pesawat di langit. Wanita itu tersenyum penuh arti. Nathan sudah pergi. Sekarang ia dan Archibald menjalani kehidupan yang bahagia bersama. Ibunya pasti bangga melihatnya dari atas sana.


-Tamat-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang