Lily membuka mata dan langsung melihat ke luar jendela. Ini sudah pagi. Namun, ia tidak tahu sekarang sudah pukul berapa. Sepertinya masih pukul enam pagi. Lily memikirkan Archibald. Apakah pria itu masih di perjalanan, atau masih di Dallas. Atau mungkin sudah tiba di sini. Tapi, rasanya tidak mungkin ia tiba secepat itu. Archibald pernah mengatakan kalau membutuhkan tiga puluh jam untuk pergi ke sana. Meskipun ia bisa tiba lebih cepat jika menggunakan jalur lain. Apa pun itu, Archibald tidak akan tiba pagi ini.
Lily bergerak ingin turun dari ranjang. Ia tidak mengenakan pakaian usai bercinta dengan Nathan semalam. Tubuhnya direngkuh begitu erat dari belakang.
"Selamat pagi," sapa Nathan dengan suara serak. Mata pria itu masih terpejam dan memeluknya erat. Ia tidak memperbolehkan Lily bergerak sedikit pun.
"Pagi," balas Lily sedikit tegang. Ia pikir semuanya akan berubah setelah mereka bercinta semalam. Tapi, nyatanya pria itu semakin menempel padanya.
"Kau mau ke mana, sayang?"
"Yang pasti bukan pergi dari Pulau ini. Karena aku tidak bisa melakukannya sendiri."
Nathan terkekeh. Ia menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Lily."Benar~ ya sudah jangan kemana-mana. Tetaplah di sisiku."
Lily merasakan milik Nathan yang mengeras. Benda itu menekan-nekan bokongnya. Lalu bergerak mencari keberadaan milik Lily.
Tangan Nathan menangkup dada Lily, lalu memilin putingnya. Lily memejamkan matanya. Ia sangat mudah bergairah pagi ini. Nathan menyentuh titik sensitifnya. Miliknya menjadi berkedut dan basah.
Lily meremas selimutnya. Milik Nathan kesulitan memasukinya. Tapi, perlahan ujungnya mulai masuk. Nathan menekannya hingga seluruh miliknya dilahap oleh daging lembut itu.
Nathan memeluk Lily, membiarkan miliknya berdiam diri di sana sejenak. Menikmati kehangatan milik Lily di pagi yang dingin ini.
Milik Lily mulai gatal dan berkedut. Ia ingin Nathan menggerakkan miliknya sekarang.
Lily menggerakkan pinggulnya. Miliknya terasa penuh dan sesak. Nathan tersenyum penuh arti. Ia memegang pinggang Lily dan menghunjam.
"Ah, Paman!" Tubuhnya terguncang hebat. Nathan menghunjamnya dari belakang. Itu membuat miliknya terasa lebih sempit. Nathan mengangkat satu paha wanita itu dan menghunjamnya lagi.
Nathan menindih tubuh Lily dari belakang, lalu menghunjam kembali. Lily sedikit kesulitan bernapas. Nathan menghunjamnya tanpa jeda.
"Paman, berhenti dulu~" kata wanita itu memohon. Tetapi, Nathan tidak mau mendengarkannya. Hunjamannya semakin keras dan cepat.
"Tidak, ini terlalu ketat dan~ enak." Nathan mengerang panjang, cairannya sudah membasahi milik wanita itu.
Lily mengatur napasnya. Nathan berbaring di sebelah wanita itu. Ini adalah pagi terindah sepanjang hidupnya.
"Bagaimana kalau kita keluar?"
Lily menoleh." Maksud Paman, keluar kemana?"
"Kita berkeliling Pulau. Kita bisa bernostalgia sedikit."
Wanita itu mengangguk."Aku bersiap dulu." Lily berharap hari ini segera berlalu. Bahkan sampai malam tiba, ia tidak yakin apakah Arcibald akan datang atau tidak.
Lily masuk ke dalam toilet membersihkan miliknya. Cairan Archibald dan Nathan memasuki miliknya. Ini membuatnya merasa gamang. Hidup yang ia pikir mulai membaik, justru kembali membingungkan. Sekarang ia harus menghadapi Nathan juga.
Lily mengenakan dress tipis berwarna putih dengan punggung yang terbuka. Tidak ada pilihan lain. Ia hanys mengenakan apa yang disiapkan Nathan untuknya.
Nathan mengenakan celana pendek tanpa atasan. Sepertinya pria itu ingin memperlihatkan badannya yang bagus pada Lily.
Mereka makan pagi lebih dulu. Makanan di sajikan di atas meja di atas pasir yang halus. Lily membuang pandangannya ke air yang biru kehijauan.
"Berapa saham yang Archibald janjikan padamu?"
"Saham apa?" tanya Lily bingung. Tiba-tiba saja Nathan membicarakan mengenai saham.
"Memangnya dia tidak memberimu beberapa harta atau warisan?"
"Oh, dia pernah mengatakannya. Tapi belum ada tindakan selanjutnya. Karena dia lebih mendahulukan pernikahan. Jika menikah, maka itu juga akan menjadi milikku setengahnya," jawab Lily tak yakin.
Tangan Nathan mengepal."Kalian akan menikah? Itu tidak boleh."
Lily terdiam sejenak mengulum makanan penutupnya."Aku tidak tahu mengenai hal itu. Kami sudah sepakat. Lagi pula, itu urusan kami berdua."
"Baiklah, jika aku tidak bisa berdiskusi denganmu, aku akan mengajak Archibald bicara serius." Nathan meneguk minumnya kesal."Tadinya aku ingin menawarkan hal yang lebih besar padamu. Jadi, pilihlah aku. Aku bisa memberikan Pulau ini padamu juga. Jadi, kupastikan anak-anak kita akan hidup bahagia."
Lily memijit pelipisnya. Padahal ia sudah menolak secara terang-terangan. Namun, Nathan malah sudah memikirkan anak-ansk mereka."Bukan jumlah kekayaan yang membuatku menentukan pilihan. Tapi, Paman Archi yang datang lebih dulu untuk mengambil hatiku dan aku menyukainya."
Nathan mendecak."Seharusnya aku yang datang lebih dulu. Jadi, kita bisa bersama."
Lily menghela napas panjang."Pada kenyataannya tidak ada yang datang. Baik Nath atau Archi. Aku yang datang duluan menemui Archibald dan menerima tawarannya karena aku kesulitan."
"Ya itulah yang kusayangkan. Padahal aku juga memberikan penawaran padamu. Tapi, kau pasti lupa."
Lily terdiam sejenak mengingat-ingat apakah ada perjanjian sejenis itu. Tapi, ia benar-benar tidak ingat.
"Memangnya kenapa kalian menyukaiku? Aku ini hanya gadis biasa yang kebetulan hadir dalam hidup kalian. Selain itu, sebagai billionaire~ kalian pasti dikelilingi wanita cantik dan seksi, tentunya mereka juga berpendidikan. Kenapa memperebutkanku yang tidak spesial ini?"
Nathan meraih tangan Lily dan mengecupnya."Kau ini sangat spesial. Gadis yang mengusikku sejak pertama kali bertemu. Sialnya Archibald juga memiliki perasaan yang sama."
"Tapi, beberapa tahun telah berlalu. Sangat mustahil, kan jika kalian masih sendiri. Dan untuk Paman sendiri, dibandingkan dengan Paman Archibald~ Paman lebih sering bersama wanita." Lily menyeringai seolah-olah ia sudah berhasil membuat Nathan sedikit gentar.
Nathan berdehem."Itu benar, tapi sampai saat ini aku masih sendiri. Aku menantimu sampai dewasa."
Lily tidak yakin dengan ucapan Nathan. Ucapan pria tidak boleh dipercaya sepenuhnya.
"Sampai saat ini aku tidak menyangka, kau memiliki tubuh yang bagus. Ya walaupun sejak dulu memang sudah bagus. Tapi, sekarang kau adalah wanita dewasa dengan ukuran dada yang cukup besar." Nathan memandang wanita itu dengan bergairah.
"Astaga itu ucapan yang vulgar." Lily membuang tatapannya."Apa yang akan kita lakukan setelah ini." Lily segera mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kau saja. Apa kau mau menyelam?"
Lily menggeleng. Ia bergidik ngeri karena ia pernah hampir tenggelam saat Nathan mengajaknya menyelam beberapa tahun silam."Yang benar saja, Paman."
"Kau masih trauma, ya? Padahal aku ingin melihatmu pakai bikini lagi."
"Iya. Aku tidak mau mengingatnya sama sekali."
Nathan bangkit, kemudian menggandeng tangan Lily."Ayo kita berkeliling."
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomantizmSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
