Lily menghela napas berat ketika mendapat panggilan dari Nathan. Lagi-lagi pria itu memanggilnya ke ruangan. Kemarin ia tidak merasakan apa pun. Tapi setelah kejadian semalam dan tadi pagi, perasannya menjadi tidak nyaman. Ada rasa takut, cemas, dan juga deg-degan.
"Selamat pagi, Pak." Lily menyapa dengan formal.
"Silakan duduk, Lily, tutup pintunya."
Wanita itu mengangguk dan melakukan perintah Nathan."Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Kenapa kau kabur dariku semalam?"
"Ah, itu~" Lily menelan ludahnya."Aku harus segera pulang karena Paman akan mencariku."
"Dia tidak ada di sini, Lily. Sekali pun kamu tidak pulang, dia tidak akan tahu." Nathan merasa kesal karena Lily terlalu patuh dengan Archibald.
Lily tersenyum."Dia mengetahui segalanya. Aku harus menjaga kepercayaannya."
"Wah, aku jadi iri." Nathan menunjukkan wajah cemburunya.
"Paman memanggilku ke sini lagi, itu akan mengundang pertanyaan rekan kerjaku. Aku tidak mau dibully lagi."
"Memangnya siapa yang akan membullymu. Jika ada yang melakukan itu, laporkan padaku. Akan kupecat mereka."
Lily senang jika ada seseorang yang melindunginya. Tapi, sikap Nathan terlihat berlebihan untuk seorang teman dari Pamannya. Sikap Nathan itu mirip dengan sikap Archibald. "Ah, itu tidak perlu. Aku hanya perlu bekerja dengan tenang. Jangan sering memanggilku seperti ini, Paman."
"Tapi aku ini atasanmu. Aku bebas memanggilmu kapan saja."
"Tapi, maaf ini sudah di luar dari konteks pekerjaan. Kita sedang membahas urusan pribadi," kata Lily berterus terang. Ia memang sedikit terganggu. Nathan seperti pria yang menyukainya.
"Aku kan ingin bertemu denganmu. Apa aku harus menemuimu di kamar?"
"Tidak seperti itu. Paman, kenapa jadi seperti ini.
Apa Paman menyukaiku?" Pertanyan itu keluar dengan spontan dari mulut Lily.
Nathan menyeringai. Ia mengangguk pelan."Benar, aku sangat menyukaimu."
"Astaga, bencana apa ini?" Lily memegang dadanya yang berdegup kencang."Itu tidak boleh."
Nathan bangkit, lalu berdiri di sebelah Lily. Satu tangannya bertumpu di meja."Kau pikir Archibald saja yang terobsesi padamu? Aku memiliki perasaan lebih dari itu."
Lily menatap Nathan, ia menunjukkan cincin di jari manisnya."Aku dan Paman sudah bertunangan. Jadi, aku tidak bisa menerima pernyataan seperti itu. Maafkan aku."
"Apa?" Nathan memegang tangan Lily erat. Ia menatap cincin itu dengan marah."Bukankah kau menyukaiku, Lily."
"Ah, Paman tahu soal itu?" Wanita itu kaget.
Nathan duduk di meja dengan kedua tangan dilipat ke dada. "Tentu saja aku tahu. Archibald juga tahu. Tapi, bagaimana aku bisa mencumbumu di usia yang masih muda. Jadi, aku mengabaikannya dan menunggumu sampai dewasa."
"Itu hanya kekagumanku saat remaja. Itu tidak ada hubungannya dengan sekarang."
"Tidak boleh. Kau harus tetap menyukaiku." Tangan Nathan menyentuh dagu Lily.
"Pa-Paman, jika tidak ada hal lain, aku kembali bekerja." Lily bangkit dengan buru-buru. Sejujurnya ia takut Nathan akan menghalanginya. Tapi, sepertinya tidak begitu. Nathan tidak mengejarnya meski ia sudah sampai di depan pintu.
Lily memegang handle pintu. Saat itulah dia mengerti kenapa Nathan tidak mengejarnya. Pintu terkunci otomatis. Nathan menyeringai dari tempatnya duduk.
Lily membalikkan badan dan bersandar di pintu. "Apa yang Paman inginkan dariku?"
Nathan beranjak dari duduknya dan melangkah pelan menghampiri wanita itu."Ayo kita berkencan."
Lily menggeleng."Aku tidak bisa. Aku sudah memiliki janji dengan Paman Arch."
"Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Dia jauh sekali bukan?" Nathan berbisik mesra di telinga Lily.
"Jika dia tahu, maka~ dia akan sangat marah!"
Nathan mengusap bibir Lily."Apa dia pernah menciummu? Hmm~ kalian sudah tinggal bersama. Pasti banyak sekali yang kalian lalukan di dalam sana."
Lily membuang pandangannya. Ia tidak ingin menatap wajah lelaki itu. Haruskah ia berteriak.
"Lily, aku juga mencintaimu. Aku sangat menginginkanmu seperti Archibald. Apakah kau tidak ingin memberikanku kesempatan?" Nathan terus bersuara dengan nada yang membuat Lily merinding.
"Paman, sudah~"Lily dan Nathan kini bertatapan.
"Aku mencintaimu, Lily~" Tangan Nathan menyentuh pundak wanita itu dan mengusap-usapnya pelan. Tubuh Lily terasa lemas dan kesadarannya hilang secara perlahan.
Nathan menangkap tubuh wanita itu dengan sigap. Ia membopong dan membawanya ke atas sofa.
Nathan menurunkan celana milik Lily, lalu memasukkan jarinya ke sana."Astaga, kau ini basah, sayang. Apa itu karena aku? Kau basah karena aku? Aku yakin perasaan itu memang masih ada. Tapi, janjimu pada Archi mengacaukan segalanya."
Nathan melumat bibir Lily dan menindihnya dengan sangat bergairah. Tangannya meremas dada wanita itu dengan sedikit brutal. Sudah lama sekali ia menanti saat-saat seperti ini bersama Lily. Hanya saja ia terlambat. Archibald memilikinya lebih dulu. Jadi, ia hanya bisa melakukannya dengan cara seperti ini.
"Bibirmu manis, kita lihat bagaimana dengan ini." Nathan membuka kancing kemeja dan mengeluarkan payudaranya. Nathan semakin bergairah. Ia ingin melakukannya dalam keadaan Lily sadar. Tapi, sepertinya wanita itu akan menolak.
Nathan menurunkan celana Lily. Ia membuka kedua pahanya dengan lebar lalu menjilati milik wanita itu. Wajah Nathan terasa panas. Ia sudah tidak tahan lagi. Jantungnya berdegup kencang saat mencoba menggesekkan miliknya di permukaan milik Lily. Ia tidak tahu apakah waniya itu masih virgin atau Archibald sudah merenggutnya.
Nathan memasuki Lily secara perlahan, terasa hangat dan licin. Ia menekannya dengan hati-hati. Miliknya terhimpit erat."Astaga ini hangat sekali. Sempit tapi~" Mata Nathan membesar seketika. Ia menyadari sesuatu. Miliknya masuk dengan mudah.
"Archibald berengsek, kau sudah mengambilnya!"
Nathan merasa marah sekaligus bergairah. Ia memasuki Lily. Seluruh miliknya sudah dilahap oleh daging lembut wanita itu.
"Ah, enak sekali~ kau sengaja menghimpitnya dengan keras, kan? Apa kau ingin aku membuangnya di dalam?"
Nathan membelai wajah Lily yang tertidur."Jadi, seperti ini rasanya memasukimu. Aku ingin gila, sayang." Pria itu mendesah pelan sembari menghunjam. Kepalanya terasa ringan dan melayang. Ia terus memasukinya dan menarik miliknya dengan cepat. Ia menahan cairannya agar tidak tumpah ke mana-mana. Ia telah berhasil memasuki wanita yang disukainya.
Nathan membersihkan diri. Lalu ia juga membersihkan milik Lily dan merapikan pakaiannya seperti semula. Ada beberapa bagian yang sedikit kusut karena ia meremasnya terlalu keras.
"Terima kasih, ya, sayang~ lain kali kita harus melakukannya dengan sadar."
Nathan menatap wajah yang terlihat sangat tenang saat tidur itu."Kau cantik sekali. Selain itu~ aku ingin memasukimu setiap hari. Sepertinya aku harus membawamu pergi dari Archibald. Lalu, setelah itu hanya ada kita berdua."
Nathan tersenyum puas dan lega. Ia menatap wajah wanita itu sampai puas. Sekarang ia mencari cara agar Lily dapat kembali tanpa harus menunggu wanita itu sadar. Nathan membopong Lily dan membawanya keluar. Semua orang menatap ke arahnya dengan kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
CintaSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
