Lily duduk di kursi pantai dengan lemas. Sementara Nathan dan Archibald ada di sisi kanannya. Di depan mereka ada meja berisi makanan. Saat ini mereka ada di tepi pantai. Nathan menyuapi Lily sampai selesai. Wanita itu menjadi sangat lemas karena perbuatannya.
Sesekali Lily meringis karena beberapa bagian tubuhnya kram. Ia terlalu banyak bergerak atau melakukan pergerakan yang salah. Tapi, di saat seperti itu ia hanya bisa melakukan sesuai yanh ia inginkan dan rasakan. Namun, jika tidak dengan pengaruh obat itu, ia juga tidak akan sanggup menghadapi keduanya bersamaan. Semoga ke depannya mereka tidak melakukan bersamaan lagi. Lily akan langsung menyerah atau ia hanya sanggup melakukan sekali saja.
Archibald memandang wanita itu dengan khawatir. Tampaknya Lily masih lelah sekali.
"Kau yakin besok ingin kerja, sayang?" tanya Archibald tidak yakin."Kau resign saja, ya?"
Wanita itu menggeleng kuat."Aku tidak suka berdiam diri di rumah."
"Kau membuka bisnis baru saja. Ajak teman dekatmu itu, siapa namanya~ah, Mario. Kami akan membuatkan hal baru untukmu." Nathan menambahkan.
"Itu ide yang bagus, Paman. Aku akan memikirkannya nanti. Tapi, untuk sementara aku ingin bekerja di kantor saja." Membuka bisnis adalah ide yang bagus. Tapi, untuk saat ini ia tidak ada ide sama sekali. Ia akan memikirkannya seiring berjalannya waktu. Ia bisa meminta pendapat Mario nanti.
"Tapi, jika kamu masih lelah jangan dipaksakan. Kau bisa mendengarku, kan, sayang?" Archibald berkata dengan tatapan penuh peringatan.
Hati Lily menciut. Ia jadi teringat dengan pertemuan pertemuan pertamanya dengan pria itu. "I-Iya, Paman. Aku tidak masuk kerja jika masih sakit nanti."
Sorot mata tajam Archibald meredup dan berubah menjadi hangat."Istirahatlah di situ."
Nathan mengusap-usap kepala Lily yang kini memilih memejamkan matanya sejenak.
"Kudengar dia mencarimu, Nath?" Archibald membuka topik pembicaraan baru.
Nathan tertawa."Iya, aku baru membaca pesan dari si sialan itu. Beraninya mengirimiku pesan setelah puluhan tahun menghilang."
"Dia punya istri?"
Nathan mengangguk."Ya, dia punya istri dan satu anak laki-laki. Aku tahu, tujuannya datang hanyalah untuk mendapatkan warisan."
"Bukankah dia sudah dihapus dari daftar keluarga?" Sebagai teman, Archibald sangat tahu seluk beluk keluarga Nathan. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu Nathan mengetahui Lily dengan baik.
Nathan melipat kedua tangannya di dada dan melemparkan pandangan ke laut. "Iya sudah dihapus. Tapi, ya, begitulah kalau orang tidak tahu diri!"
"Tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik."
"Benar. Aku sudah mengantisipasinya. Tapi, kami akan tetap mengadakan pertemuan keluarga. Tapi, jangan harap dia bisa meminta pengakuan."
Yang sedang mereka bicarakan adalah Kakak kandung Nathan. Ia pergi tanpa kabar demi wanita yang dicintainya. Setelah pergi begitu lama, sekarang kembali lagi dan meminta keluarga besar menerimanya kembali.
"Jadi, jam berapa kita kembali?" tanya Archibald sambil memeriksa jadwalnya untuk besok. Jadwalnya banyak berubah karena ia kembali secara mendadak. Untunglah semua bisa diatur kembali.
"Sebenarnya aku masih ingin di sini." Nathan masih ingin bermalas-malasan. Masalah keluarga yang sedang dihadapi membuatnya ingin pergi ke tempat sepi dan menyendiri.
"Tapi, kita sudah berjanji pada Lily. Kau juga mengatakan kalau dia akan bekerja lagi besok."
Nathan menatap Lily,"huum~ baiklah, kita berangkat sebelum matahari terbenam."
"Atau kau tetaplah di sini. Aku dan Lily saja yang kembali."
Wajah Nathan menjadi datar."Tidak mau. Aku ingin bersama Lily."
"Dasar aneh," gerutu Archibald.
Nathan menghela napas panjang. Tampaknya ada sesuatu yang membebani pikirannya. Tapi, ia masih menyimpannya sendiri.
Archibald memukul pahanya."Apa yang kau risaukan lagi? Kalian sudah membuat keputusan seperti itu. Apa kau merasa kasihan dengan Kakakmu?"
Nathan mengendikkan bahunya."Aku hanya lelah. Hidupku baru saja sedikit tenang. Tapi, sekarang masalah baru timbul. Kakakku itu sekarang hidup susah."
"Ya, karena itulah dia datang." Archibald terkekeh,"kau masih memiliki simpati padanya, kan? Ya begitulah ikatan darah, seperti membelah air."
Nathan membuka satu minuman soda dan meneguknya. Setelah itu ia menatap lurus ke depan dengan hampa."Aku harus tahu dulu anak laki-laki itu darah dagingnya atau bukan. Karena~ itu akan memperngaruhi kami. Itu adalah cucu laki-laki, kan? Akan ada konflik mengenai pembagian harta dan lain-lain.
"Jika kau menikah sejak lama, kau akan mendapatkan anak laki-laki itu."
"Aku kan sedang memprosesnya?" Nathan menaikkan kedua alisnya ke arah Lily.
"Sekali pun hamil, itu adalah anakku." Archibald menyeringai.
"Aku akan membuatnya hamil yang kedua," balas Nathan tidak mau kalah.
Lily menatap kedua pria yany sesari tadi terus bicara."Kalian harus sadar dengan apa yang kalian bicarakan."
Nathan memegang tangan Lily dan menciumnya."Jangan terlalu dipikirkan, tapi, kita jalani saja. Tidak semengerikan itu."
"Mengerikan! Aku akan ditiduri dua pria setiap hari."
"Kita sudah sepakat, kan? Jadi, kau tidak boleh protes, sayang," kata Nathan lembut.
Lily bangkit, lalu menghampiri Archibald. Ia duduk di pangkuan lelaki itu. Archibald mengusap punggungnya.
"Kau memerlukan sesuatu?"
"Ayo kita pulang." Lily merengek seperti anak kecil.
Archibald melirik Nathan."Bagaimana, Nath?"
"Tidak bisakah kita menunggu beberapa jam lagi, Lily?" Nathan menawar keinginan wanita itu.
Lily menatap Nathan dan menggeleng manja."Aku ingin pergi dari sini, aku ingin tidur di ruangan yang nyaman di perkotaan. Lalu, jika aku bosan, aku bisa pergi sebentar menikmati waktuku sendiri."
"Tapi, aku masih ingin bersamamu di sini," kata Nathan masih tetap bertahan dengan keinginannya.
"Kita kan juga bisa bersama di sana."Lily menenggelamkan wajahnya di pelukan Archibald.
Archibald mengusap punggungnya."Sebentar lagi, ya. Kita pasti pulang kok."
Nathan bangkit, lalu menggeliatkan tubuhnya. "Ayo kita bergerak sekarang. Kita akan pulang."
Lily tersenyum lebar. Ia mengeratkan pelukannya pada Archibald."Paman, gendong aku."
Tubuh Lily tenggelam dalam pelukan Archibald. Pria itu mendekapnya erat dan membawanya untuk bersiap-siap pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomansaSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
