Lily membuka matanya. Ia seperti baru bangun tidur yang begitu nyenyak. Ia menatap sekelilingnya dan kaget. Ia sudah ada di ruang kesehatan kantor.
"Lil, udah bangun?" Mario menatap wajah Lily dengan cemas.
Lily bangkit dan duduk. Ia masih tidak tahu apa yang terjadi."Loh, Mario~ kenapa kau di sini?"
"Kau pingsan, Pak Nathan yang membawamu ke sini," jelas pria itu.
"Pingsan kenapa?" Lily merasa bingung.
"Kata dokter,sih, karena belum makan. Kok bisa sih belum makan. Merhatiin aku bisa, tapi, merhatiin diri sendiri nggak. Sebel deh." Mario mencubit lengan Lily pelan.
Lily tersenyum geli melihat Mario yang mengomel karena terlalu khawatir. Sepertinya ia terlalu cemas menghadapi Nathan hingga pingsan. Ia juga hanya makan sedikit pagi tadi karena menghindari lelaki tersebut."Aku makan sedikit."
"Nih, makan dulu." Mario sudah memesankan bubur untuk dimakan Lily."Masih hangat sedikit, cepat dihabiskan."
"Makasih, Mario." Lily makan sambil mengingat adegan saat di ruangan Nathan. Terakhir kalinya mereka berbincang adalah saat Nathan mengutarakan perasaannya. Setelah itu, Lily tidak ingat apa pun. Mungkinkah ia terlalu kaget hingga pingsan. Padahal selama ini ia tidak peenah pingsan.
Siapa pun kaget jika ada yang menyatakan perasaan dengan cara seperti itu. Menyeramkan. Caranya mirip dengan cara Archibald, memaksa.
Haruskah ia menceritakan ini pada Archibald. Tapi, bagaimana jika pria itu marah. Astaga, Lily menjadi dilema. Archibald pasti akan langsung kembali jika mendengar berita ini. Lalu pekerjaannya akan terbengkalai lagi. Sepertinya Lily tidak akan memenuhi panggilan Nathan ke ruangannya lagi.
"Kau kembali kerja aja, Mario."
Mario melihat jam tangannya."Memang kau udah baik-baik saja? Aku khawatir tahu!"
"Terima kasih sudah mengkahwatirkanku, ya. Tapi, aku udah baikan. Aku sudah makan juga."
Lily meletakkan kotak makan yang sudah kosong. Sejujurnya ia merasa aneh kenapa bisa pingsan. Ia tidak merasa sedang sakit. Jika pagi tadi ia hanya makan sedikit, seharusnya tidak membuatnya pingsan.
"Tadi heboh sekali, karena Pak Nathan tiba-tiba keluar ruangan sambil gendong ala-ala bridal style." Mario menirukan gaya Nathan yang ia ingat dengan jelas."Ruang kesehatannya dimana?"
Lily tertawa sambil mendorong lengan Mario. Pria itu terlihat lucu saat menirukannya.
"Pak Nathan ganteng banget ya. Masih cocok deh dijadiin calon suami."
"Kan aku udah punya tunangan." Lily mengingatkan.
"Astaga iya."
Nathan muncul di ambang pintu. Tawa Mario dan Lily terhenti. Mario bangkit dan menyapa Nathan.
"Mario, kau kembali saja bekerja."
"Baik, Pak."
"Terima kasih sudah menggendongku ke sini. Maaf kalau aku pingsan di ruangan Paman," ucap Lily saat Mario sudah pergi.
Nathan duduk di sisi ranjang. Ia membelai wajah Lily."Tidak apa-apa. Bagaimana keadaanmu?"
"Sejujurnya aku tidak merasakan apa pun. Tapi, aku juga tidak mengerti kenapa aku pingsan," jelas Lily.
"Tidak ada yang memperhatikanmu selama Archibald pergi."
"Itu bukan masalah. Aku juga tinggal di Hotel. Ada banyak orang dan pekerja."
"Bagaimana kalau kau ke apartemenku saja? Aku akan memperhatikanmu dengan sungguh-sungguh." Nathan mengecup tangan Lily.
Lily meringis. Ia baru teringat kalau sebelumnya Nathan menyatakan perasaan padanya. "Paman jangan lakukan ini di kantor. Atau~ sebaiknya aku melaporkan hal ini pada Paman Archibald."
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
