31-Ada syaratnya

643 47 1
                                        

Lily bangun dari tidurnya. Ia tidak mengenakan pakaiannya semalam karena sudah mengantuk. Ia melihat ke sebelahnya, ternyata Archibald tidak ada. Tampaknya pria itu sudah bangun. Lily memunguti pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Lily memutuskan untuk langsung mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.

Saat ia sudah selesai, ia mendapati Archibald sudah ada di kamar. Pria itu sudah berpakaian rapi.

"Halo, sayang," sapa Archibald. Ia memberi kode agar wanita itu mendekat.

Lily mendekat. Archibald langsung menarik ke pangkuannya. Pria itu menciumi leher Lily yang harum."Sudah kembali kerja, ya?"

"Iya, Paman. Paman juga sudah mau ke kantor?"

"Iya. Maaf ya, aku harus pergi lebih awal. Kita tidak bisa sarapan bersama," kata Archibald.

Lily memeluk tubuh lelaki itu."Baik, Paman. Bekerjalah dengan semangat. Kita sudah satu tempat tinggal sekarang."

Archibald mencium bibir Lily dengan gemas."Aku harus pergi sekarang dengan Heli. Kau pakai sopir, sudah menantimu di bawah."

"Terima kasih, Paman. Selamat bekerja." Lily menemani Archibald sampai pria itu terbang. Setelah itu ia pergi ke kantor. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri membeli makanan untuk dimakan di kantor. Ia juga menyiapkan makanan untuk Mario. Ia merindukan sahabatnya itu.

Sesampai di kantor, orang yang pertama kali ia cari adalah Mario. Ia menunggu dengan sabar di mejanya. Namun, sampai jam kerja dimulai, pria itu tidak muncul juga. Meja kerjanya juga terlihat kosong dan rapi. Lily mencoba menghubungi kontak Mario. Tapi, kontaknya tidak bisa dihubungi.

Lily mendesah panjang. Karena penasaran, ia bertanya pada salah satu rekannya. Ia mendaoat jawaban yang mengejutkan. Mario telah diberhentikan.

Lily mematung. Mario baru bekerja sebentar, tapi, kenapa sahabatnya itu sudah diberhentikan. Tidak ada jawaban yang pasti mengenai hal tersebut. Lily memegang dadanya yang terasa sakit. Di saat seperti itu ia tidak ada di samping Mario untuk menghiburnya.

Ponsel Lily berbunyi. Ia membaca pesan yang masuk. Ia berharap itu adalah Mario. Ternyata itu pesan dari Nathan yang memintanya untuk datang ke ruangan.

Lily berjalan cepat. Langkahnya terhenti ketika melintasi ruang tunggu. Semua orang di sana menatapnya.

"Mbak Lily, silakan masuk duluan. Sudah ditunggu oleh Bapak."

Lily tersenyum, kemudian mengabaikan tatapan orang yang sedang menunggu. Lily mengetuk pintu, lalu masuk.

Nathan mendongak, kemudian tersenyum."Hai, sayang."

"Paman~" Lily tersenyum pada Nathan.

Nathan menghampiri Lily, lalu menggendong wanita itu ke atas meja kerjanya."Kupikir kau istirahat di rumah. Kenapa bekerja? Sudah kukatakan istirahat saja."

"Kemarin Paman pergi begitu saja. Kupikir, Paman sibuk sekali. Lalu, Paman Archibald juga sibuk hari ini. Aku akan kesepian, jadi, kuputuskan untuk bekerja saja." Lily berusaha menjawab dengan ceria.

Nathan memegang kedua lengan Lily. "Memangnya tubuhmu tidak apa-apa? Tidak lelah?"

Lily menggeleng. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Nathan. Meskipun ia takut dan tidak nyaman, ia tidak akan menunjukkannya. Ia takut Nathan akan kecewa dan melakukan hal yang buruk padanya."Aku sangat baik, Paman."

Nathan memeluk pinggang Lily erat, lalu melumat bibirnya."Aku juga akan pergi beberapa hari. Aku harus mengunjungi Ayahku dan menyelesaikan beberapa masalah."

"Oh begitu, semoga masalahnya cepat selesai."

"Aku akan segera kembali, sayang," bisik Nathan dengan mesra.

"Jadi, kenapa Paman memanggilku?"

"Karena aku sangat merindukanmu. Semalam aku susah tidur. Aku ingin tidur sambil memelukmu." Nathan menempelkan keningnya di pundak wanita itu.

"Kita bisa bersama malam ini, kan?"  Lily mengerlingkan matanya.

Nathan mengigit bibir bawahnya, ia ingin menerkam wanita itu sekarang juga.

"Paman, ini tentang sahabatku,Mario. Dia baru saja masuk kerja, tapi, sekarang sudah diberhentikan. Padahal dia sangat membutuhkan pekerjaan." Kebetulan ia ada di sini bersama sang Direktur, Lily memanfaatkan situasi ini. Nathan pasti bisa membantunya.

Nathan mengernyit. "Kenapa bisa diberhentikan? Memangnya tidak ada kontrak kerja?"

Lily menggeleng."Aku tidak tahu. Dia sama sekali tidak menceritakan apa yang terjadi. Aku juga diberi tahu staff yang lain. Dia satu-satunya temanku di sini, Paman. Tolong kembalikan dia."

"Kau sedang meminta tolong padaku?" Nathan menyeringai.

"Iya, Paman."

"Tapi, itu tidak gratis."

Lily menelan ludahnya. Ia mengerti kemana arah pembicaraan pria itu."Aku akan membayarnya sekarang!" Lily membuka dua kancing kemejanya.

Nathan mengusap tengkuk lehernya. "Di sini tidak bisa berteriak, ya, astaga~ aku ingin memakanmu sekarang."

"Di depan pintu banyak yang menunggu." Lily mengingatkan.

Nathan melumat bibir Lily beberapa saat. "Sayang sekali. Kalau begitu, kau harus membayarnya di jam istirahat."

"Jadi, sahabatku bisa bekerja lagi?"

"Jadi begini, kantor ini tidak bagus. Aku juga ingin mundur dari sini,lagi pula aku sudah mendapatkanmu. Aku akan menempatkan Mario di kantorku." Nathan mengambil kartu nama dari tasnya."Kirim lamaran kerja ke alamat yang tertera. Cantumkan bahwa direkomendasikan olehku."

Lily menerima kartu nama yang diberikan Nathan."Memangnya mereka akan percaya jika Paman yang merekomendasikan? Bisa saja kan hanya mengaku-ngaku."

"Oh, sebentar." Nathan mengambil pena dan menuliskan kombinasi angka dan huruf."Direkomendasikan oleh; angka dan huruf ini. Itu sudah pasti aku. Percaya padaku, sayang."

"Terima kasih, Paman. Mario pasti senang."

"Lalu ada syarat kedua."

Lily terbelalak."Syarat kedua? Apa itu, Paman?"

"Karena kantor ini tidak bagus. Kau juga harus keluar daei sini. Aku tidak suka kau bertemu dengan Richard lagi. Lagi pula semua orang membencimu, kan?"

Liky tersenyum lirih. Hatinya mendadak perih teringat dengan semua ketidak adilan yang ia terima."Baik, tapi, aku akan sekantor dengan Mario lagi, kan?"

"Kau tidak boleh bekerja lagi, sayang. Kita harus segera membentuk keluarga. Kau juga harus mengandung buah cinta kita." Nathan mengusap perut Lily.

Lily merinding mendengarnya."Baiklah, Paman. Jika memang harus seperti itu, aku akan resign hari ini juga. Asalkan temanku benar-benar diterima."

"Dia akan langsung diterima," jawab  Nathan dengan mantap."Kau pakai sopir ke sini?"

"Iya."

"Kita pergi bersama siang nanti. Aku akan masuk ke mobilmu. Tapi~" Nathan melirik ke arah miliknya."Milikku sepertinya sudah mengeras."

Lily turun dari atas meja."Sabarlah sedikit, Paman. Tinggal beberapa jam lagi. Kita tak mungkin melakukannya sekarang. Antreannya sudah panjang."

"Baiklah, sayang. Jangan kabur dariku." Nathan mengingatkan.

Lily tertawa kecil."Kalau aku kabur, Paman pasti bisa menemukanku dengan mudah, kan?"

"Ya sudah, kembalilah, jangan sampai aku berubah pikiran dan menerkammu sekarang." Nathan kembali ke kursinya.

Lily tertawa geli. Ia melambaikan tangan sebelum membuka pintu. Ia merasa lega karena bisa membantu Mario.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang