Saat film berakhir, Lily segera bangkit dan berlari kecil keluar gedung. Ia mencari keberadaan sopirnya dengan cemas. Untung ia segera menemukannya dan minta agar segera diantar pulang. Sementara Nathan masih duduk di dalam bioskop sambil tersenyum geli.
Lily memegang kepala bekas kecupan Nathan. Perasaannya berkecamuk. Apa yang Nathan pikirkan saat mencium kepalanya. Apa reaksi Archibald jika mengetahui hal ini. Pria itu pasti akan mengamuk pada Nathan. Lalu hubungan mereka pasti akan memburuk. Tapi, sikap Nathan begitu terang-terangan. Itu membuatnya agak takut.
Lily mengirim pesan pada Archibald setelah ia tiba di hotel. Pria itu sedang bekerja, jadi, sepertinya Lily akan langsung tidur saja. Besok ia harus bekerja lagi. Tapi, bayangan Nathan terus berputar di kepalanya.
Nathan saat muda memang sangat tampan dan segar. Sikapnya yang ramah dan mudah tersenyum membuat ia selalu diiidolakan. Bahkan banyak sekali gadis seusianya menyukai pria itu. Berbeda dengan Archibald yang cenderung pendiam dan cuek. Wajahnya juga selalu terlihat cemberut. Tapi, tetap saja mereka berdua memang tampan.
"Ah, aku mikir apa, sih."
Lily mematikan semua lampu agar ia segera tidur lelap.
Pukul tujuh pagi, Lily sudah rapi dengan stelan kerjanya. Ia pergi ke restoran hotel untuk sarapan bersama tamu-tamu di sini. Ia merasa sungkan meminta dibawakan sarapan ke kamarnya.
Wanita itu mengambil makanan lalu mengambil tempat duduk dengan dua kursi berhadapan. Setelah makan beberapa suap, ada yang duduk di hadapannya.
"Halo, Lily."
Lily terbelalak dan berbisik."Kenapa Paman ada di sini?"
"Ini hotel, kan? Ya aku tamu di sini." Nathan melahap sarapannya dengan santai. Ia tahu kalau tidak ada pengawasan Archibald di sini. Temannya itu berpikir kalau semua akan baik-baik saja jika itu masih di dalam gedung.
Lily menelan makanannya dengan susah payah."Kenapa Paman Nath terus muncul seakan-akan sedang mengikutiku?"
Nathan memperhatikan penampilan Lily yang sudah banyak berubah. Wanita itu semakin terlihat cantik dan modis."Mau pergi ke kantor bersama?"
"Terima kasih, Paman. Aku pergi sendiri saja," balas Lily yang buru-buru menghabiskan makanannya.
"Kenapa buru-buru sekali? Ini masih jam tujuh."
"Ah, jalanan lumayan macet. Jadi, aku harus cepat agar tidak terlambat."
Nathan mengangguk-angguk, memahami sikap wanita itu. Lily cenderung menghindarinya.
Lily menyeka mulutnya."Kalau begitu, aku pergi duluan, Paman."
"Sampai ketemu di kantor," kata Nathan yang sedikit kecewa karena Lily sudah pergi. Padahal ia menginap di sini agar bisa bertemu wanita itu di luar jam kantor.
Lily mengembuskan napas lega. Ia memesan kopi dan roti lebih dulu debelum masuk ke kantor. Ia akan memberikannya pada Mario. Sepertinya pria itu tidak sarapan dan jarang makan. Badannya terlihat kurus sekali.
Saat sedang mengantre lift, Lily melihat Mario. Wajah pria itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ia segera menyapanya."Mario..."
"Oh hai," balasnya tidak semangat.
"Apa awal harimu buruk?"
Mario mengangguk dengan sedih."Ya begitulah, namanya hidup. Ada aja cobaannya."
Lily menyerahkan kopi yang ia beli."Minum, masih panas. Semoga perasaanmu membaik."
"Ya ampun, Lily, kau baik sekali." Mario memeluk lengan wanita itu.
Lily tertawa geli."Memangnya apa yang terjadi padamu?"
"Nggak ada apa-apa kok. Yuk masuk."
Lily menatap Mario dengan iba. Sepertinya ia memerlukan bantuan, tapi, ia tidak mau bercerita. Mario adalah tipe manusia yang tidak mau membagikan kesedihannya.
"Mario, kau bisa cerita kok. Aku juga bisa bantu,"kata Lily.
Mario tersenyum kecut. Ia menggeleng sambil menahan tangis."Tapi, ini masalahku, Lily. Nggak mungkin juga aku minta orang lain untuk menolong."
"Ya makanya cerita dulu."
"Duit, Lily~ aku butuh duit buat sekolah adikku. Dia mau ujian, ada tunggakan uang sekolahnya." Mario terlihat sangat frutrasi. Keluarganya memiliki banyak hutang untuk kebutuhan sehari-hari. Ada hutang tunggakan uang sekolah. Sementara ia baru saja mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tidak begitu besar.
"Memangnya berapa?"
"Satu juta."
"Ya udah mana nomor rekeningmu, sini aku kirim," kata Lily sambil membuka e-walletnya. Ia diberi uang yang banyak oleh Archibald.
Mario membatu. Ia menatap Lily tidak percaya."Tapi itu satu juta, Lily. Itu banyak loh."
"Nggak apa-apa."
"Aku balikinnya boleh dicicil nggak?"
"Udah mana sini nomor rekeningnya?"
Mario menyebutkan nomor rekeningnya dengan tidak enak hati. Lalu ada pemberitahuan uang masuk. Pria itu terbelalak."Lily, kenapa satu setengah juta?"
"Yang lima ratus ribu buat ongkos pergi ke kantor."
Air mata Mario menetes. Ia menyeka dengan jarinya yang lentik."Terima kasih ya, Lily. Hidupku memang lagi berat banget. Maaf merepotkanmu."
"Aku seneng bisa bantu, Mar."
"Aku cicil boleh, ya? Dua atau tiga ratus sebulan. Soalnya aku harus bagi-bagi gajiku nanti."
"Nggak usah diganti."
"Astaga, Lily~" Mario memekik haru."Mimpi apa aku sampai bisa dapat teman kerja sepertimu."
"Ini doa orang tuamu. Yuk masuk."
Lily menyukai pribadi Mario sejak awal. Selain itu ia tahu betul rasanya hidup menderita karena tidak punya uang. Sebelum Ibunya menikah lagi, mereka hidup pas-pasan. Ibunya bekerja keras demi menyekolahkannya. Lalu, ia bertemu dengan pria kaya. Lily sempat berpikir kalau Ibunya sengaja mencari pria kaya agar ia bisa hidup dengan layak. Lalu apa yang Ibunya lakukan itu berdampak pada dirinya sekarang. Ia juga sudah menjadi tunangan dari pria kaya tersebut.
Saat tiba di ruangan, langkah Lily sempat tersendat sedikit. Ia melihat Fidella. Wanita itu memiliki luka kecil yang tertutupi perban di wajahnya.
"Wanita pembawa sial!" umpatnya di depan wajah Lily.
Mario langsung mendorong pundak Fidella."Apa, sih, pagi-pagi langsung mengumpat? Kurang orgasme, ya semalam?"
Lily menahan tawanya. Ucapan Mario benar-benar membuatnya ingin tertawa keras.
Fidella menatap Mario tajam."Jangan ikut campur, ya, banci."
"Hei, berani sekali Anda. Kita sama-sama anak baru di sini. Sikapmu kasar sekali pada senior di sini?"
"Dia hanya mantan kekasih pacarku yang dibuang." Fidella mendecih.
"Kok ada, sih, orang begitu. Najis!" Mario menatap Fidella yang melenggang pergi.
"Tapi, yang dia katakan memang benar."
"Kau punya mantan pacar di sini? Siapa?" Mario langsung penasaran.
"Richard, dia minta putus karena sering kecelakaan. Mamanya menganggap itu karena aku ada di sisinya. Aku kan dijuluki pembawa sial di kantor ini." Lily berjalan ke meja kerjanya.
"Astaga, Pak Richard? Tapi, dia sombong sekali, sih. Pantes aja pacarnya begitu. Berani-beraninya dia anggap Kau bawa sial. Kau ini malaikat, pembawa berkah untukku."
Lily menatap Mario dengan geli. Itu karena ia meminta Archibald tidak mengganggunya. Seandainya ia tidak berkata apa pun, hidup Mario pun akan dipenuhi kesialan. Tapi, sebenarnya kasihan pria-pria yang mendekatinya. Semua harus mengalami kerugian karena obsesi gila Archibald padanya. Syukurlah semua sudah berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
