30- Kembali berduaan

704 49 1
                                        

Archibald, Lily, dan Nathan telah tiba di puncak gedung. Lalu mereka menuju penthouse milik Archibald. Pria itu memeluk pundak Lily, sementara Nathan berjalan di belakang mereka sambil memegang ponselnya.

"Kita benar-benar akan tinggal bertiga?" Lily masih merasa ini adalah mimpi. Semua terjadi begitu cepat. Ia senang bersama pria yang menyayanginya, tapi, ia tidak menyangka harus memiliki dua sekaligus.

"Kita akan tinggal bertiga." Nathan menjawab sambil tetap fokus dengan ponselnya.

Lily menatap Archibald. Pria itu tersenyum dan memeluk pundaknya."Kita masuk saja yuk."

Pintu penthouse dibuka. Lily melangkah pelan dan ragu. Ia mengedarkan pandangan ke kemewahan yang ada di depan matanya.

"Jadi, kita akan tinggal di sini mulai sekarang?" tanya Lily pelan.

"Iya. Kuharap kau suka dan betah. Jangan mencoba untuk kabur." Archibald masih memiliki keraguan pada wanita itu. Tapi, mungkin saja itu adalah rasa ketakutannya saja.

Lily mengangguk pasrah meskipun ia tidak berniat kabur. Menjadi wanita yang melayani dua pria sekaligus tidak pernah ada dalam pikirannya. Tapi, ia hanya akan menjalani pilihan yang ada saja.  Lagi pula keduanya adalah pria yang bagus dari segala sisi.

Nathan langsung duduk di sofa sambil terus membalas pesan. Wajahnya terlihat serius dan kaku.

Archibald membawa Lily menunjukkan kamar mereka."Ini kamar kita."

"Paman Nath akan tinggal di sini juga?" Lily memastikan bahwa akan ada tiga orang di dalam kamar ini atau tidak.

"Dia akan datang dan pergi sesuka hatinya. Tapi, aku akan selalu pulang ke sini. Untuk kamar, kau bisa pakai yang mana saja. Tapi, inilah kamar dimana kita akan tidur bersama. Entah itu hanya berdua atau bertiga," jelas Archibald.

Nathan berjalan ke arah Archibald dan Lily dengan terburu-buru. "Aku harus pergi sekarang!" Wajah pria itu tampak pucat. Ia bahkan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Archibald atau pun Lily.

Lily mengerutkan keningnya."Paman, kenapa Paman Nath pergi tiba-tiba?"

Archibald mematung. Ia tidak percaya jika Nathan akan pergi secepat itu. Ia bahkan melewatkan kesempatan untuk meniduri Lily. Sepertinya ada sesuatu yang aneh. Tapi, Archibald yakin jika Nathan bisa melewatinya dengan baik.

"Mungkin ada urusan yang sangat mendesak. Itu pasti urusan pekerjaan." Archibald menarik Lily ke dekat ranjang.

"Oh, begitu." Lily melingkarkan tangan di pinggang Archibald. Lalu menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu."Aku sangat merindukan Paman."

"Aku juga merindukanmu. Aku tidak menyangka akan kembali dengan situasi seperti ini." Archibald membalas pelukan Lily dengan sangat lega. Tapi, saat ini ia merasa sangat lelah. Menempuh perjalanan panjang, lalu bercinta beberapa kali. Ia butuh banyak istirahat sebelum kembali ke kantor. Jadwalnya kembali berantakan.

Lily mendongak dan menatap Archibald."Paman, jujur saja aku merasa takut dengan Paman Nath. Aku tidak melakukan perlawanan karena dia menakutkan."

Archibald menghela napas panjang."Ya, itu benar. Dia memang menakutkan. Aku membencinya, tapi, aku juga menyayanginya sebagai teman. Aku akan mencari cara agar kalian tidak sering bertemu. Jadi, mulai sekarang kau tidak boleh menutupi apa pun. Ceritakan saja semuanya padaku. Kau adalah separuh dari hidupku."

Wanita itu mengangguk pelan.

Arcibald membelai rambut Lily."Untuk Nathan,⁰ kau tidak perlu menolaknya. Karena jika kau bersikeras terus menolaknya, dia akan melakukan hal yang kasar. Aku tidak mau kau tersakiti."

"Aku ingin memeriksa pakaianku dulu. Apakah semua sudah dipindahkan?" Lily pergi ke walk in closet.

"Sudah dipindahkan semuanya dari hotel. Barangmu hanya sedikit. Kau harus membeli banyak barang lagi," kata Archibald dari posisinya.

Lily membuka lemari dan terdapat banyak ruang kosong. Ia tidak memiliki barang uang banyak. Tapi, ia belum berminat membelinya lagi. Ia ingin menginvestasikan uangnya saja. Ia hanya akan membeli pakaian, tas, dan sepatu seperlunya saja.

Lily mengganti pakaiannya karena ini sudah malam. Setelah itu ia menghampiri Archibald yang tengah berbaring.

"Paman akan kembali lagi ke Dallas?"

Archibald menghela napas berat."Aku sama sekali tidak tahu. Semuanya kacau karena Nathan sialan. Aku harus mengatur ulang semuanya. Sepertinya aku akan sibuk besok. Tidak apa-apa, kan?"

Lily berbaring di sebelah Archibald dan memeluknya."Tidak apa-apa. Tapi, aku juga kembali bekerja, ya, Paman."

"Iya. Bekerjalah yang benar dan jangan biarkan pria mana pun mendekatimu. Ya, kecuali Mario, aku perbolehkan."

Lily terkekeh. Ia bersandar di dada Archibald dan mengusap-usap permukaannya.

"Kau sedang menggodaku?"

Lily mendongak."Menggoda apanya. Aku suka mengusap-usap seperti ini."

Archibald memegang tangan Lily erat agar wanita itu berhenti melakukannya. Ia mencium tangan wanita itu."Semalam kau sangat gila."

Lily mengerucutkan bibirnya. Ia merasa malu karena Archibald mengingat hal tersebut."Itu karena Paman memasukkan obat padaku. Itu di luar kendaliku."

"Tapi, aku menyukainya, sangat suka," bisik Archibad. Ia mencium pipi Lily.

"Haruskah kita melakukannya lagi?" Lily menyeringai sambil mengusap milik Archibald.

"Astaga, Lily-ku sudah nakal sekarang." Napas Archibald memburu. Padahal ia sudah lelah, tapi, ia tidak bisa mengabaikan godaan manis itu.

Lily membuka celana Archibald. Ia menggenggam miliknya yang setengah mengeras. Lalu, ia mengulumnya. Milik Archibald perlahan mengeras dan membesar di dalam mulut wanita itu.

"Ah, sayang~" Archibald menengadah. Tangannya meraih rambut Lily dan meremas-remasnya pelan.

Sesekali Lily melepaskan kulumannya. Ia menciumi paha Archibad. Pria itu mengerang dan mendesah nikmat. Ia menarik tubuh Lily ke atas dan melumat bibirnya dengan begitu bergairah.

Lily melepaskan ciumannya. Ia menciumi wajah Archibald, lalu turun ke lehernya. Menghisap dan memberikan gigitan kecil di sana. Ciumannya turun ke bagian dada, memainkan lidahnya di puting Archibald. Archibald menggelinjang.

Lily menelanjangi dirinya. Wanita itu naik ke atas tubuh Archibald, lalu menyatukan milik mereka.
Kali ini ia merasa begitu bebas. Hanya ada ia dan Archibald. Tidak akan ada Nathan yang mungkin akan menyerangnya secara tiba-tiba. Lily bergerak di atas tubuh Archibald, menghunjam dengan cepat dan penuh gairah.
Ia menjadi ahli setelah apa yang terjadi beberapa hari ini.

Lily mendekat ke wajah Archibald, lalu melumat bibirnya. Archibald meremas bokong Lily dengan keras, lalu ia menggerakkan pinggulnya dari bawah. Tubuh Lily terguncang hebat. Denyutan-denyutan kenikmatan mulai ia rasakan. Begitu hangat dan rapat. Perasaannya mulai menggila.
Lily mendesah panjang."Paman, aku mencintaimu."

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang