24- Ketemu

752 49 8
                                        

Malam sudah tiba. Lily semakin dilanda rasa cemas menantikan kehadiran Archibald.
Nathan tersenyum sinis. Hatinya sedikit terbakar melihat sikap Lily. Ia menghampiri wanita itu. Sedari tadi ia hanya berdiri di tepi jendela.

"Kau menantikan kehadirannya?"

Tubuh Lily membatu. Suara Nathan membuatnya merinding."Apakah dia akan datang?"

Nathan melihat jam tangannya."Sebentar lagi."

Lily menatap Nathan."Paman tidak akan melakukan sesuatu padanya, kan?"

Nathan mengendikkan bahu."Itu~ tergantung sikapnya."

Lily melihat ke dermaga. Berharap ada kapal yang datang membawa Archibald.

Nathan menyodorkan segelas minuman."Minumlah, kau tegang sekali. Padahal aku tidak ada menyentuhmu seharian ini."

Lily menghela napas berat. Ia meneguk minuman yang diberikan Nathan.

Nathan duduk dengan tenang. Ia bisa memprediksi kapan Archibald akan tiba. Pria itu menggunakan helikopter. Jadi, Lily tidak akan mengetahui kapan pastinya ia datang.

Nathan melihat jamnya, lalu berjalan ke teras. Lily tidak mengerti apa yang akan Nathan lakukan. Ia memantau pria itu dari dalam. Nathan menyeringai, ia melihat bayangan Archibald.  Pria itu memang sudah datang. Archibald menodongkan pistol di kepala Nathan.

"Dimana, Lily, sialan!"

Nathan tertawa. Pria itu tidak takut sama sekali."Kau ingin membunuhku, ya~"

Archibald melirik ke sekitarnya. Beberapa orang datang menodongkan pistol juga ke kepala Archibald.

Lily terperanjat. Archibald telah datang. Tapi, saat ini situasinya menjadi sangat buruk. Ia tidak mau kehilangan Archibald.

"Paman!!"Lily berlari keluar.

"Lily, kau baik-baik saja?" tanya Archibald yang marah sekaligus lega.

"Aku baik-baik saja."

"Aku akan membunuhnya!" Archibald menatap Nathan dengan penuh amarah.

Lily menggeleng kuat."Paman, sudah~ hentikan semua ini. Jauhkan senjata itu!"

"Archibald yang memulai duluan."

"Paman, turunkan pistolnya. Ayo kita bicara bertiga di dalam." Lily memohon. Ia tidak suka ada pertengkaran. Yang paling penting, ia tidak mau Archibald terluka.

Archibald tertawa lirih. Ia menurunkan pistolnya. Lalu, orang suruhan Nathan juga menurunkan senjata mereka.

Lily berlari menghampiri Archibald dan memeluknya. Archibald menghela napas lega. Ia memeluk dan menciumi wajah wanita itu. Ia sangat merindukannya.

"Jangan lakukan hal yang bisa membuat Paman terluka," kata Lily sedih.

"Iya, sayang~ aku tidak akan melakukannya lagi. Ayo kita masuk," ajak Archibald karena Nathan sudah menatapnya tajam.

"Paman~" Lily memeluk lengan Archibald erat."Aku ingin segera pergi dari sini. Bawa aku pergi."

"Kita akan pergi, sayang," balas Archibald.

Archibald duduk di sebelah Lily. Wanita itu terus memeluk lengannya seakan-akan takut terpisah lagi. Sementara Nathan duduk di hadapan mereka.

"Hmmm~ tidak kusangka kau tiba lebih cepat, Archibald."

"Aku tidak suka dengan ini. Aku mendapatkannya lebih dulu. Kenapa kau datang mengacaukan?"

Nathan tertawa."Ya siapa tahu Lily lebih tertarik padaku, kan?"

"Kita sudah pernah membicarakannya. Kau tidak boleh melakukan ini. Kau juga mengabaikannya sejak ia masih muda!" Archibald melirik ke arah Lily yang banyak melakukan pergerakan.

"Paman~ aku agak kepanasan."Lily membuka kancing piyamanya.

"Lily~"Archibald mencegahnya."Udaranya lumayan dingin, kenapa kepanasan seperti ini?"

Lily mengusap-usap lehernya. Napasnya memburu, debaran jantungnya begitu cepat.

Archibald membatu melihat leher Lily yang kemerahan. Ia menatap Nathan tajam."Kau sudah melakukan sesuatu padanya?"

"Tentu saja. Satu malam sudah terlewati. Aku sudah menidurinya. Lily juga suka dengan milikku."

"Berengsek!" umpat Archibald menahan emosinya."Sayang, kamu~"

"Paman, kenapa terasa tidak nyaman. Aku kepanasan." Suara Lily terdengar begitu putus asa dan menggairahkan.

Archibald menghela napas berat. Ia memejamkan matanya perlahan untuk mengatur kesabarannya."Kau pakai obat, Nath?"

"Aku atau kau yang menyelesaikannya?" Nathan menyeringai.

"Aku atau kau yang menyelesaikannya?" Nathan menyeringai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku nggak tahu ini dilanjutin apa nggak di sini. Soalnya memang ekstrem ya alurnya. Takut nggak cocok di kalian. Terus ini banyak 21+nya.

Tapi, cerita ini sudah tamat, ya.
Nanti kalau situasi sudah kondusif, aku lanjutin lagi.

HIS FORBIDDEN OBSESSIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang