Pukul delapan pagi, Lily dan Archibald bergabung dalam sarapan keluarga. Di sana ada Nathan dan Ayahnya. Nelson beserta istrinya juga ada di sana. Hanya Nathan dan Archibald yang mengetahui keterkaitan keluarga yang rumit ini.
"Archibald, siapa wanita cantik ini. Apa dia kekasihmu?" tanya Ayah Nathan.
Archibald mengangguk."Benar, Ayah. Dia adalah tunanganku."
"Ya ampun, kau sudah tunangan ya." Pria itu terkekeh."Kau harus mengundangku saat menikah."
"Tentu saja, Ayah."
"Ayo duduk dan makan bersama."
"Ayo, Lily," bisik Archibald yang kemudian melirik ke arah Nathan.
Nathan menatap Nelson."Kakak, siapa nama anak perempuan pertamamu?"
"Ralyna Audrey," jawab Nelson sambil mengaduk kopinya.
Lily tersentak. Ia mendongak menatap Nelson."Wah, nama kami sama."
"Oh, ya?" Nelson tersenyum semringah. Lalu senyumnya langsung sirna ketika teringat sesuatu. Ia menatap Nathan."Nath, kau bilang akan membawa Lily ke sini?"
Nathan mengangguk, lalu menunjuk Lily dengan wajahnha."Ya, ini adalah Ralyna Audrey. Nama anakmu bukan sama dengannya, tapi, dialah anak kandungmu, Kak."
Suasana menjadi hening dan saling bertukar pandang.
"Apa maksudmu, Nathan?" Suara Ayah Nathan menjadi gemetar."Apa yang sedang kalian bicarakan. Tolong katakan dengan jelas tanpa ada kode-kode seperti itu."
"Ayah, pernikahan pertama Kak Nelson adalah dengan seorang wanita bernama Rebecca Jasmine. Lalu mereka memiliki anak bernama Ralyna Audrey," jelas Nathan yang membuat suasana menjadi tegang.
"Lalu, siapa nama Ayah kandungmu, Lily?" tanya Nathan.
"Nelson Alexander Grey."
Ayah Nathan menganga. Ia memegang dadanya karena begitu syok. Matanya terpejam sembari mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar dengan jelas.
"Lily, ini adalah Nelson, Ayah kandungmu yang kuceritakan semalam," kata Archibald pelan.
Nelson menatap Lily, itu adalah anak kandungnya. Ia sudah tumbuh dewasa, menjadi anak yang cantik dan menawan.
Llily terdiam memandang pria tua di hadapannya. Dadanya terasa sesak setelah mendengar fakta bahwa pria itu adalah Ayah kandungnya.
"Paman, ini bohong, kan? Dia bukan Ayahku, kan? Kami menganggapnya sudah mati." Liky berkata dengan nada dingin. Hal itu menyakiti tiga orang pria sekaligus. Nelson, Nathan, dan juga Ayahnya.
"Kenapa kau berkata begitu, Nak?" kata Ayah Nathan."Tunggu~tunggu, ini masih membingungkan. Jadi, ternyata tunangan Archibald ini adalah putri Nelson, yang mana dia adalah cucuku?"
"Iya, seperti itu, Ayah." Archibald membantu menjawab.
"Nelson, apa itu benar?" Pria tua itu bertanya dengan nada marah,"Kenapa kau bisa tidak tahu dimana anakmu! Ayah macam apa kau ini?"
"Ayah, kami bercerai dan tidak tahu kabar masing-masing. Jadi, aku tidak tahu harus kemana mencari putriku."
"Seharusnya kau mencari tahu!"balas Ayahnya sambil memukul meja."Astaga, Tuhan, selama ini aku tidak tahu kalau aku memiliki cucu perempuan. Ampuni aku, Tuhan!"
Lily menatap Nelson dengan serius."Baiklah, jika memang Anda adalah Ayah saya, dan sepertinya memang benar." Wanita itu tersenyum lirih."Aku memang tidak memiliki Ayah sejak usia tiga tahun. Setelah itu aku hanya tinggal berdua dengan Ibu. Ibu bekerja keras untuk menghidupiku seorang diri. Kami hidup susah dan kekurangan. Ibu sering sedih atas nasibnya. Ia bahkan jarang menceritakan tentang siapa Ayahku. Ia selalu mengatakan kalau Ayahku sudah mati. Jadi, tidak perlu ditanyakan lagi. Sampai aku remaja, Ibu akhirnya menemukan pria yang mencintainya dengan tulus. Dia adalah Kakak dari Paman Archibald. Tapi, sekarang mereka sudah meninggal."
Nelson tersentak."Meninggal? Ibumu meninggal?"
"Ya."
Nelson tampak sedih. Ia tidak menyangka wanita yang pernah sangat ia cintai pergi dengan cepat."Ha~ Hana."
"Apa maksudmu menyebut namanya?" Istrinys menggeram, lalu pergi.
Nelson tidak mengejar. Ia menatap Lily."Lalu kau tinggal dengan siapa?"
"Setelah itu aku hidup sebatang kara. Walaupun Paman Archibald menawariku fasilitas mewah, aku menolaknya. Karena dia bukan Paman kandungku. Aku hidup susah tanpa orang tua."
"Maafkan aku, Lily. Aku tidak tahu kalau ini terjadi ada kalian." Nelson merasa sangat menyesal.
"Lupakan saja, jika memang Anda adalah Ayahku, ya sudah. Hanya sebatas itu saja. Sisanya, aku tidak ingin komunikasi atau bertemu lagi." Lily menarik napas panjang. Dadanya kembali merasa sesak. Semua masih terasa membingungkan.
Archibald menggenggam tangan Lily."Tenang, ya, sayang. Aku ada di sini bersamamu."
"Jadi, selama ini~ Nathan dan Archibald, kalian sudah lama berteman. Kalian juga sering pergi, berarti sudah ama Nathan mengenal Lily?" tsnys Ayah Nathan.
Nathan mengangguk."Benar, Ayah, aku sudah mengenal Lily sejak Helka menikah dengan Ibunya Lily. Ternyata selama ini kami sudah sedekat itu. Ini semua gara-gara Kakak yang keras kepala. Dia hidup seenaknya di luar, sehingga kita tidak tahu siapa yang sudah menjadi keluarga kita."
"Paman, aku sangat bingung. Kenapa semuanya saling berkaitan. Lalu apa hubungannya dengan Paman Nathan?
Archibald mengusap tengkuk lehernya. Ia bingung menjelaskan dari mana. Tali, ia harus membantu keluarga ini agar masalahnya segera selesai."Euhmmm, Lily~ jadi, sebenarnya Ayahmu dan Nathan adalah Kakak beradik kandung. Sejak muda Ayahmu sudah lari dari rumah dan memilih hidup mandiri. Dia diasingkan keluarga. Oleh karena itu Paman Nathan tidak tahu siaoa kamu begitu juga sebaliknya. Jadi, Nathan benar-benar Pamanmu."
"Ja-jadi, aku dan Paman Nath?" Lily terbelalak lalu menutup mulutnya. Ia memandang Nathan dengan sponyan."Paman?"
Nathan tersenyum lirih. Ia mengangguk pelan."Ya, aku adalah Paman kandungmu. Kita sama-sama tidak tahu. Maafkan aku."
Lily menatap Archibald bingung. Hanya ia, Nathan, dan Archibald yang tahu arti tatapan tersebut. Seharusnya Nathan dan Lily tidak boleh memiliki hubungan yang spesial di atas ranjang. Itu disebut sebagai hubungan terlarang.
"Kita sudah tahu kebenarannya. Lily adalah anak kandung Nelson, dan cucu pertama Ayah. Dia adalah bagian dari keluarga ini. Lalu, Lily adaah tunangan Archibald."
"Hidup begitu misterius." Ayah Nathan bangkit menghampiri Lily."Lily, bolehkah aku memelukmu?"
"Ini semua bisa saja salah, kan? Bagaimana kalau tes DNA saja."
"Sayang, semuanya sudah jelas. Kita tidak perlu tes DNA untuk membuktikan itu semua. Nelson sendiri sudah mengakuinya. Kisahnya sama. Tidak apa-apa jika kau belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi, kau memang anak Nelson."
Air mata Lily menetes. Ternyata selama ini ia sudah dekat dengan keluarganya. Lalu, kenyataan buruknya asalah ia sudah tidur dan bercinta dengan Pamannya sendiri.
"Astaga."
"Terimalah pelukan dari Kakekmu, dia tidak tahu apa-apa," bisik Archibald.
Lily menatap pria tua itu. Ia bangkit dan memeluknya.
"Cucuku yang cantik dan malang. Maafkan Ayahmu yang sudah menelantarkanmu. Tapi, aku~ Kakekmu akan memberikan segalanya padamu."
Suasana menjadi hening kembali. Semua orang terdiam dengan isi pikirannya masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS FORBIDDEN OBSESSION
RomanceSejauh apa obsesi membawamu? Manis dan bersinar. Itulah yang Archibald rasakan saat pertama kali melihat Lily. Rasa itu berkembang menjadi kasih sayang dan ingin melindungi. Wanita itu seputih namanya, Bunga Lily. dan Archibald akan membunuh serangg...
