Follow IG: @rein_angg / FB: Rein Angg / FB Group: Rein Angg And Friends / TikTok:@rein_angg47
Dengan niat untuk mencari tahu kenapa uang asuransi jiwa ibu kandung satu sen pun tidak mendatangi rekeningnya, Arwen bersedia ikut bersama Lucia kembali ke rumahnya untuk bertemu sang ayah.
Ia tidak tahu kalau saat sedang berganti baju ada sebuah pesan yang dikirim ibu tiri culas entah kepada siapa. Kemungkinan besar adalah kepada Andre Constantine, ayah kandungnya.
Di dalam mobil tak banyak percakapan terjadi, bahkan nyaris tak terjadi perbincangan apa pun di antara dua wanita tersebut. Arwen lebih banyak menatap jendela, melihat kota Milan yang kaya akan sejarah arsitektur dunia. Sedangkan Lucia, dia lebih banyak mengecek layar ponsel, terlihat resah jika mendengar bunyi notifikasi masuk.
Ketika akhirnya mereka sampai di gerbang mewah rumah masa kecil Arwen, gadis itu menahan napas. Ketegangan melanda karena berpikir kebenaran apa yang mungkin terungkap di pagi hari ini.
“Ayo, turunlah dan kita temui ayahmu,” ucap Lucia tersenyum dingin.
Mengangguk, Arwen mengikuti langkah kaki sang ibu tiri tanpa berpikir panjang. Saat pagar megah tertutup dan dikunci secara rapat, ia hanya menatap dengan kosong.
***
Sementara itu, di waktu yang bersamaan dengan kepergian Arwen dari apartemennya menuju rumah, Aragon yang sedang dalam perjalanan menemui rekan bisnisnya terpaksa berbalik arah dan membatalkan perjanjian.
Anak buah mengabari kalau beberapa orang yang ketahuan menjual serbuk mereka di luar negeri telah sampai di sel bawah tanah. Ia harus segera datang dan mencari tahu dengan mata kepala sendiri siapa di balik orang-orang tersebut.
Begitu ia menuruni tangga gelap, suara jerit kesakitan sudah terdengar. Sepertinya anak buah telah berpesta lebih dulu dengan memukuli dan menyiksa tahanan. Ketika sampai di depan sel, lima orang sudah babak belur berdarah di sekujur wajah.
Ia memberi kode pada Baron dan tangan kanannya itu paham.
“Hentikan,” perintah Baron, di mana anak buah segera menghentikan bogem mentah mereka.
Aragon membuka pintu sel, berjongkok di depan salah satu tahanan. “Siapa yang menjual bubuk itu kepada kalian?”
“Saya ti-tidak … sa-saya … tidak ta-tahu … tidak tahu … na-nama,” jawab lelaki itu menangis ketakutan.
Bergeser pada lelaki kedua, “Kamu? Apa kamu tahu siapa yang menjual bubuk berlianku kepada kalian? Barang itu adalah barangku, motherfucker!” desis sang mafia.
Sama dengan lelaki yang pertama, “Ti-tidak ta-tahu … T-Tuan. Ka-kami … kami ha-hanya … hanya berbicara di be-be … beberapa kali per-pertemuan ….”
Saat lelaki ketiga ditanya, jawabannya pun serupa. “Di-dia … uhuk, uhuk!” Terbatuk dan mengeluarkan riak darah, baru lanjut berbicara. “Dia … dia hanya bi-bilang … ada barang mu-murah d-dan … dan bagus untuk kami … ka-kami jual!”
Aragon tidak bertanya pada lelaki keempat dan kelima. Sebuah kesimpulan sudah bisa ia ambil. Perintahnya kemudian adalah, “Pisahkan kelima orang ini di sel yang berbeda!”
“Aku ingin menunjukkan foto pada kalian semua, satu per satu. Jika kalian semua tidak berbohong, harusnya kalian bisa mengenali orang yang menjual barang itu kepada kalian!”
Ia terkekeh bengis, “Dan harusnya kalian akan sama-sama menunjuk satu foto, atau mengatakan orang yang menjual sama sekali tidak ada di foto tersebut. Karena percayalah, aku sudah punya kecurigaan siapa-siapa saja yang mungkin berkhianat padaku dan menjualnya pada kalian!”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Mafia Dark Lust
Romansa"Naik ke atas meja dan buka kakimu dengan lebar!" Aragon Vincenzo memerintah seorang gadis yang nampak ketakutan. Adalah Arwen Constantine yang sekarang gemetaran menghadapi mafia paling bengis di seluruh dataran Italia. Ia terpaksa dijadikan budak...
