Follow IG: @rein_angg / FB: Rein Angg / FB Group: Rein Angg And Friends / TikTok:@rein_angg47
Aragon tampak lunglai saat petugas medis menggeledek tubuhnya masuk ke dalam ruang operasi. Penanganan di rumah sakit sangat cepat mengingat kondisi yang sudah sedemikian kritis.
Tangis Arwen berderai, ketakutan melanda. Ia tak mau kehilangan lelaki brengsek yang ternyata sungguh mencintainya. Penyesalan bergulir, seandainya saja tak pergi dari Vincenzo Mansion maka semua tak akan terjadi.
Duduk di depan ruang operasi selama tiga jam lebih kini sudah ada Moreen yang datang menemaninya. Baron bersama pengawal lain juga setia menunggu di depan pintu bertuliskan Operation Room.
“Bagaimana kalau dia tidak selamat, Moreen? Bagaimana kalau dia pergi untuk selamanya?” tangis Arwen. “Kenapa dia meletakkan senjatanya? Seharusnya biarkan saja aku yang mati!”
Moreen merangkul sang gadis, “Tuan Aragon menyayangi Nona. Tidak mungkin dia membiarkan Nona disakiti apalagi sampai dibunuh oleh musuh.”
“Tuan Aragon bukan orang lemah, beliau pasti selamat,” tukas Baron, enggan berpikir sama seperti Arwen. Ia tidak mau bahkan sekedar membayangkan kemungkinan Aragon berpulang, terlalu menyakitkan.
Arwen mengusap air mata berkali-kali, “Aku tidak mau dia mati karenaku ….”
“Tuan akan hidup karena Nona,” ucap Moreen terus menguatkan. “Jika beliau berhasil selamat, apa yang akan Nona lakukan?”
Sambil terisak, Arwen menjawab, “Aku akan membersamainya, aku akan ada di sisinya.”
Mendadak, pintu ruangan dibuka. Satu orang dokter keluar bersama satu orang perawat. “Keluarga Tuan Vincenzo?”
“Saya!” seru Arwen melompat dari kursi, berlari menuju dokter.
“Kami sudah mengeluarkan peluru dari perut Tuan Vincenzo,” ucap dokter melepas maskernya. “Saat ini kondisi masih kritis karena kehilangan banyak darah. Kami akan menempatkan beliau di ruang ICCU.”
“Aku boleh menemaninya?” tanya Arwen tersengal. “Apa kondisinya sangat parah?”
“Peluru bersarang di dalam perut, tetapi untung tidak mengenai organ dalam, tidak juga menyobek lambung. Beliau kritis karena kehilangan banyak darah,” jelas dokter menatap lirih. “Untuk saat ini, kita hanya bisa berdoa saja semoga beliau mampu bertahan melewati tiga hari besok.”
“Kalau sudah melewati 3x24 jam apakah Tuan Aragon akan selamat?” tanya Baron dengan lesu, tetapi mengharap.
Dokter mengangguk gamang, “Kesempatannya untuk hidup jauh lebih besar apabila berhasil bertahan melewati masa kritis tiga hari pertama.”
“Nah, sekarang kami akan mempersiapkan pemindahannya ke ICCU. Silakan tandatangani berkas-berkas yang diperlukan bersama perawat,” pungkas pria berkacamata yang barusan membedah perut sang mafia.
Arwen mengangguk, lalu melangkah dengan gontai bersama Moreen menuju ruangan khusus untuk menandatangani berbagai berkas. Pengacara Aragon sudah dihubungi oleh Baron dan sebentar lagi akan datang untuk menyelesaikan masalah pembayaran.
“Moreen, dia masih hidup. Tapi, bagaimana kalau tidak bisa melewati 3x24 jam? Aku takut, Moreen!” isak Nona Constantine mencengkeram lengan pelayan setianya.
Merengkuh jemari Arwen, sekali lagi Moreen menguatkan. “Saya yakin Tuan Aragon bisa selamat, Nyonya.”
***
Setelah Aragon dipindah ke ICCU dan boleh dihampiri dalam kunjungan terbatas, gadis itu memasuki ruangan dingin penuh dengan berbagai alat medis pemantau serta penunjang kehidupan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Mafia Dark Lust
Storie d'amore"Naik ke atas meja dan buka kakimu dengan lebar!" Aragon Vincenzo memerintah seorang gadis yang nampak ketakutan. Adalah Arwen Constantine yang sekarang gemetaran menghadapi mafia paling bengis di seluruh dataran Italia. Ia terpaksa dijadikan budak...
