27

12.5K 1.1K 10
                                        

Hari ini, anak manis itu sudah mulai kembali bersekolah. Senyuman lebar di bibirnya seolah tengah menyaingi sang mentari di luar sana. Binar dimatanya mampu untuk membuat semua orang tunduk karena kepolosan yang nampak lembut itu.

Lysander masuk kedalam kamar Aurelian, melihat adiknya itu tengah berkaca di cermin besar yang tingginya hampir menyamai tubuh kecil itu. Mendekat dengan langkah tenangnya, satu tangan ia masukan kedalam saku celana, menambah pesona dari si sulung Wilhelm dimata adiknya, "sudah selesai bersiap?" Tanya Lysander.

Anggukan manis Lysander dapatkan sebagai jawaban, "sunscreen dan sunblock-nya sudah dipakai?"

Cengiran Aurelian tampilkan, "belum."

Tangan Lysander bergerak mengambil sebuah benda bulat berisikan krim suncreen, setelah itu menyeka terlebih dahulu rambut adiknya sebelum ia mengaplikasikan krim itu ke wajah lembut adiknya. Kegiatan itu berganti ke sunblock, sedang Aurelian dengan patuh membiarkan kakak tertuanya untuk mengoleskan kedua krim pelindung sinar UV itu ke tubuhnya.

Matanya mengarah pada dasi Lysander yang tidak terpasang dengan rapih, tangannya menunjuk kearah benda di leher sang kakak, "ini, mau Lian bantu rapihkan?"

"Boleh." Ujar Lysander mensejajarkan tubuhnya dengan Aurelian yang mungil.

Jemari lentik adiknya itu mulai bergerak merapihkan dasi dilehernya, menariknya pelan dan memasangkan kembali pin yang tadi sempat dilepaskannya, menepuk beberapa kali dada bidang keras milik Lysander, "selesai!"

Mengusak rambut adiknya itu lembut, Lysander tersenyum tipis dibuatnya, "terimakasih, adik." Setelah itu menggandeng tangan Aurelian untuk turun keruang makan dan sarapan bersama.

.
.
.

"Biar papa saja yang antar Lian ya? Kau baru saja sembuh, kalau ikut dengan Orion, papa takut Lian sakit lagi."

Ujaran khawatir dari Andreas mewakili mereka semua, sedang Aurelian fokus memasang helm dikepala seperti tidak mendengarkan hal tersebut. Ia dengan kekeh ingin ikut bersama Orion saja, katanya, "arah kantor papa dan sekolah Lian itu berbeda, biar Lian berangkat dengan Orion saja."

"Tapi nak-"

"Lian akan baik-baik saja. Lihat, Lian pakai double jaket sekarang." Anak manis itu menunjukan pakaian yang digunakannya. Sebuah seragam yang layer oleh cardigan cream dan jaket. Jujur Aurelian cukup kepanasan sekarang memakainya, tetapi untuk membuat papa dan yang lainnya tidak khawatir ia harus melakukannya mengingat musim gugur juga sudah mulai tiba. Mungkin saat sampai disekolah nanti ia akan melepas jaketnya.

Andreas menghela nafas mendengar bagaimana keras kepalanya putra ketiganya itu. Kepalanya mengangguk lemah dengan berat hati mengizinkan meskipun dalam hati dirinya juga dilanda kekhawatiran yang kuat. Tetapi Andreas tidak ingin terlalu memaksakan pendapatnya pada Aurelian, ia hanya tidak ingin hal lalu terjadi lagi hingga membuat hubungan keduanya kembali merenggang.

Dirinya menatap Orion yang sudah duduk diatas motor mendengarkan perdebatan antara dirinya dan Aurelian, "jangan terlalu kencang memakai motornya Rion. Dan, jaga kakak kecil mu ini."

Orion pun menurut, mengangguk sebagai jawaban. Sejujurnya ia juga tidak setuju dengan keinginan Aurelian tetapi ya mau bagaimana lagi. Daripada kakaknya itu merajuk seharian lebih baik dituruti saja untuk kali ini.

Sedang Aurelian yang dikata 'kecil' oleh sang papa pun memberengut, "Lian masih dalam masa pertumbuhan pa." Katanya membela tidak terima.

Saat dirinya berbalik untuk menghampiri Orion, tangannya ditahan oleh Andreas, "dimana ciuman untuk papa?"

Suara gaduh berasal dari belakang Andreas membuat si manis mengalihkan pandangan kearah tersebut di mana Lysander dan Calix berdiri berjejer. Calix dengan senyuman lebarnya dan Lysander dengan tatapan darat namun antusias. Aurelian menghela nafas, mendekatkan wajahnya pada Andreas dengan sedikit mendongak dan menjinjitkan kakinya, mengecup pipi Andreas singkat, kemudian beralih pada Calix dan Lysander yang tengah mengantri.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang