42

5.9K 623 23
                                        

Proses kemoterapinya selesai, Aurelian kini sudah diperbolehkan untuk memakan makanannya. Matanya terlihat bersemangat saat kotak bekal yang dibawa oleh Lysander disuguhkan. Tangannya menyelipkan rambutnya yang lepek karena minyak alami sebab dari ia yang tidak keramas beberapa hari ini, tertegun saat helaian dari rambutnya ikut terbawa jatuh mengotori tangan.

"Papa, Lian lupa untuk meminta papa memotong rambut Lian." Ujarnya sedang Lysander membantu membersihkan kembali tangan adiknya menggunakan tisu basah dan handsanitizer.

Andreas yang mengetahui maksud dari perkataan anaknya pun mendekat setelah menyimpan tab kerjanya diatas meja. Setelah mendengar perkataan Aurelian kemari tentang ia yang kesepian, baik Andreas ataupun Lysander memutuskan untuk mengambil libur. Toh, yang memiliki perusahaan adalah mereka, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Ada juga Leo yang menggantikan.

Lagi dan lagi Leo. Jika saat akhir bulan nanti gaji sang asisten kepercayaan Andreas itu tiba-tiba saja membengkak nampaknya tidak akan terlalu dipertanyakan. Jasa Leo sangatlah besar dalam perjalanan hubungan kedekatan mereka.

Duduk disisi ranjang, Andreas pun berujar, "kenapa ingin dipotong?"

Anak itu menipiskan bibirnya, "papa tahu sendiri jika rambut Lian selalu rontok akhir-akhir ini. Rasanya membuat tidak nyaman. Jadi Lian memutuskan untuk memotongnya."

"Kau yakin?"

Aurelian mengangguk pelan, "saat sembuh nanti, Lian pasti akan memanjangkannya lagi."

Aurelian memang suka dengan rambutnya yang sedikit panjang. Seperti yang diketahui jika anak itu suka sekali memainkan rambutnya atau rambut milik orang-orang disekitarnya. Tekstur halus dari bagian tubuh yang biasa disebut sebagai mahkota itu selalu membuat Aurelian nyaman.

"Sebenarnya papa tidak terlalu mahir dalam memotong rambut, tapi baiklah. Mau dipotong sampai sependek apa?" Tanya Andreas.

"Sampai habis." Jawaban Aurelian membuat semuanya terdiam. Senyuman lebar diwajah anak itu seolah tengah mengatakan bahwa ia memang tidak keberatan untuk melakukannya.

Andreas menghela nafasnya pelan, "papa akan minta seseorang datang saja kesini untuk memotongnya. Jika sampai habis begitu papa takut melukai mu."

"Oke."

Setelah itu semuanya kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Calix tidak ada bersama mereka, karena ia harus menyiapkan kuliahnya, mengingat semester baru akan dimulai sebentar lagi. Anak kedua Andreas itu sudah bertekad untuk bisa menjadi dokter terbaik, agar kedepannya ia bisa menjadi orang pertama yang paling depan dalam menjaga dan mengobati keluarganya.

Meskipun pada awalnya Calix memang tidak terlalu niat mengambil kuliah jurusan kedokterannya, mengingat saat itu ia hanyalah iseng mengikuti tes dan akhirnya malah diterima. Lalu saat mengobrol dengan Andreas, papanya itu justru menyarankan Calix untuk mengambilnya. Katanya, coba saja dulu, siapa tahu Calix memang cocok dibidang itu. Dengan kata lain, Calix itu masuk kedokteran modal hoki.

Setelah mendengar itu kita dibuat tidak perlu lagi meragukan perkataan Calix tentang kejeniusannya, tak lupa privilege keluarga yang dimilikinya.

Andreas terdiam saat ia mengingat sesuatu. Ia kemudian menghubungi Leo meminta agar asistennya datang untuk membawakan benda yang memang sudah ia beli sebelumnya. Sedang Leo yang berada ditengah kesibukan menggantikan kehadiran Andreas di ruang rapat pun hanya bisa menghela nafasnya.

"Tuan, saya harap anda menaikan lagi gaji saya."

Katanya blak-blakan dihadapan para manager perusahaan. Mata Leo menunjukan ambisi kuat membuat semua orang hanya saling bertukar pandang.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang