25

12.3K 1K 27
                                        

Sudah beberapa hari berlalu, kesehatan Aurelian pun sudah lebih baik. Frans pun dengan sabar datang dan pergi dari kediaman Wilhelm untuk memastikan keadaan tuan muda ketiga itu bersama seorang perawat yang tentu sudah Andreas selidiki sendiri latar belakangnya.

Wajah pucat itu sudah kembali lebih segar, bibir merah muda yang lembab pun kembali, mata anak itu berbinar seperti biasa, dirinya yang duduk sembari disuapi oleh Leo nampak polos sedang baju piyama bercorak kucing itu terpasang apik di tubuhnya.

Andreas dan saudaranya yang lain tengah menjalani kesibukan mereka masing-masing. Andreas dan Lysander dengan pekerjaan mereka yang sudah cukup lama dibiarkan menumpuk diatas meja, sedang Calix dengan perkuliahannya, dan Orion tentu dengan sekolah.

Suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya dalam ukuran kecil, bibirnya aktif mengunyah sedang pandangannya fokus pada Leo yang selalu dengan wajah lempengnya. Jika dibandingkan dengan Andreas juga Lysander yang terkenal dengan sifat datar dan dingin di kalangan para pekerja Wilhelm, Leo justru jauh lebih kaku dari mereka.

Asisten pribadi yang minim ekspresi, nampaknya julukan itu akan Aurelian sematkan pada Leo mulai sekarang.

Tangan kurusnya tanpa permisi menyentuh bahu penuh otot milik Leo, menekannya pelan dengan manik mengamati Leo, mencoba mencari perubahan mimik muka milik asisten sang papa. Namun nihil, Aurelian tidak melihat perubahan berarti diwajah Leo.

Tidak menyerah, sekarang ia kerahkan kedua tangannya untuk memegang rahang tegas Leo, kemudian tanpa diduga menarik pipi itu, "Leo, apa ini sakit?" Tanyanya, manik madu yang bulat itu penuh dengan rasa penasaran.

"Tidak, tuan muda." Jawab Leo singkat, kembali menyuapkan potongan wortel ke mulut Aurelian yang diterima anak itu dengan baik.

Bibirnya kembali terdiam, tapi tangannya aktif mengunyel-unyel pipi Leo. Menarik sudut bibir Leo hingga menimbulkan garis lengkung ke atas, cukup membuat menggelikan untuk dilihat kala hal itu dipadu dengan ekspresi lempeng Leo yang terlihat kontras sekali, "senyum Leo. Wajah datar mu membuat banyak pekerja lainnya tidak nyaman."

Leo tidak memberikan jawaban, ia justru kembali menyuapkan potongan sayur lainnya kedalam mulut sang tuan muda. Leo tahu jika mulut kecil itu sudah mengunyah sesuatu maka dapat dipastikan jika Aurelian akan bungkam. Sungguh sebuah cara efektif untuk melarikan diri.

Aurelian memang gampang untuk dikelabui.

Lihat, sekarang anak itu kembali anteng mengunyah makanannya. Namun, pada saat makanan itu habis, Leo pun dibuat kebingungan. Sekarang, apa yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan perhatian Aurelian? Karena jujur jika di minta untuk tersenyum, ia tidak mau.

Tapi nampaknya si manis tidak menyurutkan keinginannya, tangan Aurelian yang masih bertengker diwajahnya membuat Leo yang tadinya ingin bangkit tertahan ditempat. Mata abu-abu miliknya menyorot lurus pada milik Aurelian, "ayo, Leo. Seperti ini."

Anak itu kemudian memperagakannya. Sebuah senyuman manis terukir dibibirnya, dipadukan dengan raut wajah lembut yang membuat siapapun senang kala melihatnya- tidak terkecuali Leo. Kekaguman dari sang asisten Andreas itu tertutupi rapih oleh kondisi wajah Leo yang tidak pernah berubah secara drastis.

Bibirnya yang merengut dan alis bertaut, Aurelian dibuat kagum sekaligus tidak habis pikir dengan Leo. Bagaimana bisa ia mempertahan ekspresi wajahnya secara terus-menerus seperti itu? Memangnya wajah Leo tidak kaku? Pikir anak itu.

"Leo, senyum! Lian tidak akan melepaskan Leo sebelum tersenyum."

Helaan nafas terdengar keluar dari mulut Leo, ia nampaknya memilih untuk menyerah pada keras kepalanya sang tuan muda. Kedua tangan Aurelian ia turunkan dari wajahnya dan Leo genggam, sudut bibirnya ia angkat keatas, Leo tengah berusaha keras untuk menunjukan senyum alami miliknya pada sang tuan muda.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang