35

8.2K 843 27
                                        

Orion masuk kedalam ruang inap kakaknya, baju seragam yang terpasang ditubuhnya sudah terbuka menampakan kaos berwarna abu-abu sebagai dalamannya. Melirik pada sang papa yang duduk di sofa tengah mengerjakan file dokumen dari tab ditangannya,sedang Calix tertidur menumpukan kepalanya pada tangan disisi ranjang tempat Aurelian berbaring.

"Kakak belum sadar, pa?" Tanyanya saat ia menaruh tasnya dibagian sofa yang kosong.

"Belum. Frans bilang seharusnya sebentar lagi Aurelian siuman." Jawab Andreas, jarinya kembali menggulir layar tab ditangannya.

Orion melepaskan jas serta kemeja putih seragamnya, membuat kaos yang dikenakan terpampang sempurna. Ia turut mendudukkan dirinya di sofa mengeluarkan handphone dan memainkannya dengan tatapan bosan.

"Apa yang Frans katakan? Kakak ku baik-baik saja kan, pa?" Masih dengan pandangan mengarah pada layar ponselnya, Orion kembali bertanya mengenai kondisi Aurelian.

Hal itu membuat Andreas mengembangkan senyumannya, "kau sangat mengkhawatirkannya ya, Orion."

Mendengar itu Orion mendengus pelan, "tentu saja. Siapa yang tidak khawatir saat melihat dia tiba-tiba saja jatuh pingsan seperti tadi pagi."

Andreas terkekeh pelan, "kalau begitu bagaimana dengan ujian mu? Kau bisa mengerjakan dengan baik kan?"

Orion menghela nafas, ia kembali pada kegiatannya memainkan layar persegi itu. "Tentu saja. Kau bertanya hal yang sudah pasti, pa. Aku hanya sedikit tidak fokus saja."

Andreas mengangguk kecil dan kembali pada kegiatannya memeriksa file dokumen melalui tab-nya tanpa dirinya ketahui jika kelopak mata dari Aurelian perlahan terbuka dan sesekali mengerjap membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk ke dalamnya.

"Papa." Lantunan suaranya terdengar lirih sedikit serak memanggil Andreas yang langsung menyimpan benda pipih itu dan mendekat pada sang anak.

Ia mengelus rambut halus Aurelian menatapnya penuh kelembutan, "papa disini, sayang. Apa ada yang sakit, hm? Katakan pada papa."

Aurelian menggeleng pelan dan tersenyum pada sang papa yang nampak begitu cemas, "tidak ada."

Andreas yang mendengar itu pun mencium kening sang anak, "kau membuat kami semua khawatir, nak."

"Si Percival itu juga hampir saja memukul ku saat tahu kau masuk rumah sakit." Timpal Orion yang kini berdiri di samping Andreas.

"Rion." Aurelian memanggil lemah sang adik dengan diikuti kekehan kecil yang keluar dari mulutnya. Tangannya yang terbebas jarum infus melambai meminta agar sang adik untuk menunduk. Orion memposisikan dirinya dan membiarkan sang kakak untuk bisa mengelus kepalanya, "maaf ya. Eze memang seperti itu. Lain kali aku akan menegurnya."

Orion berdehem. "Tadi juga dia memaksa ingin menjenguk mu, tapi aku larang."

"Begitukah?"

"Hm, keberadaannya hanya akan membuat berisik ruangan ini."

Aurelian tertawa pelan, pertengkaran yang terjadi antara Orion dan Ezekiel memang tidak pernah habis. Hal sekecil apapun pasti akan mereka perdebatkan, sebenarnya hal itu cukup menghibur bagi Aurelian tetapi jika terus menerus melihatnya juga mengundang kekesalan.

Ia beralih pada Andreas, "papa, ujiannya bagaimana?" Ujarnya memberengut.

Papanya itu nampak terdiam sesaat sebelum menjawab. Dengan tangan besarnya terus mengelus kepalanya, ia pun berujar, "Lian, jika papa meminta mu untuk tidak ke sekolah lagi, bagaimana tanggapan mu?" Andreas bertanya dengan hati-hati berusaha untuk tidak membuatnya tersinggung.

"Kenapa? Padahal Lian baik."

"Karena papa khawatir. Tidak apa, ya? Nanti Lian bisa sekolah lagi kalau sudah sembuh."

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang