Aurelian kini sudah siap untuk kembali berangkat ke sekolah. Mengingat hari ini adalah hari ujian, setelah pertengkaran hebatnya dengan Ezekiel, Aurelian menghabiskan waktunya untuk belajar dengan ditemani oleh papa dan saudaranya. Mereka senantiasa membantu menjawab atau menjelaskan hal-hal yang tidak dipahami oleh anak itu.
Andreas menatap putranya dengan senyuman tergaris lembut di bibirnya, tangannya menenteng tas milik Aurelian yang berjalan di depannya. Menarik tangan anak itu sebelum kaki Aurelian menapak foot step motor Orion membuat anak itu menoleh dengan tatapan bertanya.
"Tidak mau papa antar?" Tanyanya Andreas.
"Mau dengan Orion saja." Matanya melirik pada tangan Andreas, lantas ia pun mengambil alih tasnya dari tangan sang papa. Pantas saja ia merasa punggungnya lebih ringan, ternyata benda itu ada di tangan papanya, untung saja belum berangkat. "Papa semangat kerjanya. Lian juga akan berusaha untuk ujian hari ini." Lanjutnya sembari tersenyum manis.
Andreas membalasnya dan merapihkan jaket yang digunakan oleh anaknya, "nanti papa jemput, ya. Papa rindu suasana mengantar dan menjemput Lian dari sekolah." Ujarnya sedih mengingat Aurelian selalu ingin pergi dan pulang sekolah bersama Orion, meskipun anak itu sebenarnya juga mengatakan bahwa ia tidak ingin merepotkannya. Tapi, memang siapa yang merasa repot? Andreas justru senang-senang saja jika harus mengantar jemput Aurelian.
Aurelian mengangguk kecil, "boleh."
"Hati-hati dijalan."
Setelahnya Andreas menghela nafas pelan. Udara semakin hari semakin dingin, mungkin setelah ujian ini juga sekolah akan meliburkan siswa-siswinya mengingat keadaan cuaca yang tidak memungkinkan. Dan lagi, Andreas merasa khawatir melihat perubahan Aurelian, meskipun senyuman di wajah itu masihlah manis seperti biasanya, namun penampakan pucat dari kulit yang biasa bersinar itu tidak bisa membohongi keadaan sebenarnya dari tubuh putranya.
Semuanya nampak begitu jelas, apalagi Aurelian juga jadi sering sekali tertidur dan kelelahan. Porsi makannya mulai berkurang karena rasa mual yang kerap kali menghampiri setiap suapan yang diambil anak itu. Bahkan kala Andreas menyuguhkan masakan udang atau kue brownies kesukaannya, Aurelian tidak lagi menghabiskannya seperti sebelumnya.
Hal itu tentu menimbulkan kekhawatiran entah itu dari dirinya atau putra-putranya yang lain. Efek samping dari kemoterapi itu mulai terlihat membuat mereka selalu dihampiri perasaan was-was. Setiap malam Andreas selalu menyempatkan diri masuk kedalam kamar Aurelian sekedar untuk memeriksa keadaan anak itu.
Mendengarkan detak jantungnya atau merasakan deru nafasnya, lalu akan merasa lega saat kedua hal itu masih dapat Andreas rasakan. Ia tidak mau ditinggalkan kembali seperti apa yang terjadi padanya dulu sebelum sempat bisa ia memberikan kebahagiaan utuh pada anaknya itu.
Dihidupnya kini, Aurelian menjadi sumber dari dari kebahagiaan dan kesedihannya, kelegaan dan kekhawatirannya. Putra ketiganya adalah poros dari hidupnya hingga Andreas berpikir dirinya akan hancur lebur jika Aurelian pergi untuk kedua kalinya.
Dia tidak akan bersisa.
"Aurelian, dia semakin pucat." Ujar Calix tiba-tiba. Ia berdiri disamping Andreas menatap pada pintu gerbang yang terbuka lebar.
"Apa papa tidak berniat untuk menghentikannya masuk sekolah?" Lysander turut ikut dalam pembicaraan mengenai kondisi adiknya itu.
Sorot dari mata Andreas berubah sendu, "aku tidak tega menghentikannya disaat ia begitu semangat untuk pergi kesana. Setidaknya, mari kita tunggu sampai ujiannya selesai, dan saat dimana ia mengatakan ingin berhenti dengan sendirinya." Tutur Andreas menjelaskan. Dia ingat dengan janjinya pada Aurelian yang ia katakan di perpustakaan sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Random[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
