Extra Part 4: Lesson

4.4K 385 7
                                        

Tangan itu tertaut erat, Orion dan Hayden menatapnya dengki kearah sosok jangkung disamping Aurelian. Semenjak Ezekiel datang, kakak tersayangnya bahkan tidak melirik sedikit pun kearahnya. Kesal? Oh tentu jangan ditanya lagi. Lihat saja wajah masamnya yang membuat orang-orang disepanjang lorong menuju kantin merinding.

"Semua ini salah mu." Tuduh Hayden mengundang tatapan tajam dari manik kelam Orion disampingnya.

"Apa kata mu?!" Sahut Orion dingin menekan.

"Aku bilang ini salah mu, Wilhelm!" Tekan Hayden.

Kakinya berhenti melangkah, kini kedua bocah itu berdiri saling berhadapan dengan mata menyorot tajam.

"Mau berkelahi, hah? Jelas sekali jika semua ini salah mu!" Orion kini turut menuduh.

Tekanan diantara keduanya berubah tegang. Murid-murid yang memperhatikan dari kejauhan mulai cemas kala merasa jika pertengkaran akan segera dimulai sebentar lagi tepat saat mereka saling mencengkeram kerah sang 'lawan'.

Tinjuan itu melayang diudara disaat bersamaan suara Aurelian memecah fokus hingga mereka yang tadinya ingin beradu jotos terhenti.

"Iya papa, tolong katakan pada tuan Matarys juga ya."

Ujarannya mungkin terdengar ringan, namun kedua pemuda kekanakan itu langsung menoleh kala nama Andreas dan Raymond disebutkan. Meskipun keduanya terlihat bringas seolah tidak takut pada apapun dan Hayden juga selalu melakukan pemberontakan, tetapi semenjak kedekatan ia dan orang tuanya terjalin baik kembali, ada rasa takut yang mulai tumbuh dihatinya.

Dulu Hayden berbuat onar sebagai upaya menarik perhatian orang tuanya yang jarang sekali pulang. Tetapi jika sekarang ia melakukan hal serupa disaat orang tuanya bahkan selalu ada bersamanya, Hayden takut jika yang terjadi malah sebaliknya.

Makanya sebisa mungkin semenjak ia memutuskan untuk pindah ke sekolah yang sama dengan Aurelian, Hayden berupaya merubah sikap dan kebiasaan buruknya dulu. Namun, hal itu terasa sulit jika dirinya dihadapkan dengan Orion- musuh berbuyutan paling menyebalkan semenjak lama.

Manik madu itu menyorot datar kearah mereka berdua. Tangannya yang tadi berada diposisi seperti tengah menelpon ia turun kan perlahan. Mulutnya masih bungkam namun hal itu cukup membuat Orion dan Hayden melepaskan cengkeraman mereka dan menunduk.

"Sudah puas berkelahinya?"

Sarkas.

Nada bicara yang digunakan oleh Aurelian terdengar begitu sarkas hingga membuat Orion dan Hayden mengangguk pelan memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Sejak kapan Aurelian menjadi semenyeramkan ini? Batin mereka.

Emilio dan Mikhael yang menyusul hendak menghentikan pertengkaran itu pun dibuat saling bertukar pandang akan pemandangan tersebut. "Nampaknya kita tidak perlu turun tangan untuk memisahkan mereka lagi." Ujar Emilio disetujui oleh Mikhael yang terkekeh.

"Kita akan menjadi pengangguran kalau begitu." Celetuknya.

"Tapi kak, bisa tidak kau lepaskan tangan mu dari dia? Aku risih melihatnya." Ujaran yang dilontarkan oleh Orion malah terdengar seperti mengundang perkara lain, apalagi manik si bungsu Wilhelm terlihat mendelik pada Ezekiel yang menatapnya santai.

"Itu benar. Kan aku yang mengajak kak Lian untuk pergi ke kantin bersama, kenapa malah si Percival itu yang mendapatkannya?" Timpal Hayden.

Orion kembali menoleh kearahnya, "siapa yang kau panggil kakak, bajingan?"

"Sudah jelaskan 'kak Lian' itu berarti kakak Aurelian Wilhelm. Kau tuli?!" Balas Hayden menyentak kesal.

Dan akhirnya pertengkaran yang tadinya sempat reda kembali memanas. Pikiran Emilio dan Mikhael mengenai mereka yang menjadi 'pengangguran' nampaknya tidak benar, karena mereka ternyata harus tetap melaksanakan tugas remeh yang menguras tenaga dan emosional itu.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang