39

6.5K 606 13
                                        

Note: Tulisan miring berarti flashback.

.
.
.

Lysander membuka pintu berwarna putih itu perlahan. Pikirannya melayang pada pembicaraan antara dirinya, Calix dan sang papa mengenai masa yang bahkan tidak ia percaya ada. Otak dan hatinya menolak keras dengan segala cerita yang dikatakan oleh Andreas.

"Kita semua menyesal dan terpuruk saat itu. Melampiaskan semua perasaan itu pada berbagai hal, mencoba untuk melepaskan diri dari rasa bersalah karena telah melukainya. Berkali-kali berteriak agar ia kembali, namun kematian Aurelian adalah sebuah kenyataan pahit yang berusaha keras kita telan bersama. Sebuah hukuman yang begitu mengerikan."

"Entah apa yang harus papa katakan sekarang, fakta bahwa papa kembali untuk mengulang semuanya masih terasa seperti mimpi. Melihat Aurelian bersama kita dan tertawa dengan ceria menjadi kekuatan papa supaya kali ini bisa lebih menjaganya, agar hal buruk dari kepergiannya tidak akan terjadi lagi."

"Katakan papa pengecut, karena takut akan rasa sakit dari ditinggalkan oleh Aurelian. Tetapi kenyataan bahwa kini papa menyayanginya tidak bisa diubah- tidak, mungkin sedari awal papa memang menyayangi, sangat menyayanginya hingga rasanya papa akan gila jika Aurelian kembali mati seperti takdir yang terjadi di masa itu."

"Kali ini, papa akan berusaha untuk memastikan bahwa ia akan hidup dengan lama bersama kita. Akan papa pastikan jika semua keinginannya terpenuhi, begitu juga dengan perhatian dan kasih sayang yang dulu sempat hilang."

"Papa akan penuhi kehidupan adik kalian itu dengan kebahagiaan, tanpa ia akan ingat dengan cerita masa lalunya yang mengerikan."

Andreas mengangkat pandangannya pada kedua putra tertuanya, baik Lysander maupun Calix hanya terdiam mencoba untuk mencerna setiap kata demi kata yang diucapkan oleh sang papa.

"Jika papa mengatakan bahwa kini Aurelian adalah putra kesayangan papa, apa kalian akan marah?"

Suasana penuh kehangatan didalam ruang inap itu membuat Lysander dan Calix yang berada di ambang pintu tertegun di buatnya. Rengekan manja dari Aurelian di bahu Orion saat Mikhael dan Emilio kompak menganggunya menjadi pengisi utama, menimbulkan perasaan yang sulit untuk mereka jelaskan.

Rasa marah, kecewa dan sedih menyatu memenuhi rongga dada kedua tuan muda Wilhelm itu. Bukan- perasaan itu bukan ditunjukan pada adiknya, namun pada diri mereka sendiri. Mengacu pada penceritaan sang papa akan perbuatan di lini waktu yang lain, mengingatnya saja sudah membuat Lysander dan Calix ingin menghantam diri mereka sendiri.

Calix yang berada di belakang tubuh si sulung itu menggigit bibir bawahnya pelan dengan tangan terkepal erat, rahangnya mengeras. Ia menunduk saat melihat wajah Aurelian, "kak, rasanya aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya sekarang." Tuturnya terdengar bergetar.

"Jika apa yang dikatakan oleh papa benar dan Aurelian tahu tentang hal ini, apa yang akan dia katakan pada kita nanti? Apa ia akan menjauh? Apa ia akan membenci kita? Sungguh, rasanya akan begitu sulit untukku."

Calix menahan tangisnya, satu tangannya meraih ujung jas yang dipakai sang kakak, membuat Lysander yang tadinya ingin masuk kembali mengurungkan niatnya dan menutup pintu secara perlahan tanpa menimbulkan suara yang membuat mereka didalam sana terdistraksi.

Punggungnya terasa berat dimana Calix kini menyandar saat air mata mulai turun membasahi pipi sedang isakannya berusaha ia tahan membuat tenggorokannya sakit. Lysander juga merasakannya, kekalutan yang ada didalam hati Calix, karena ia juga memikirkan hal yang serupa.

Di lorong yang sepi itu, untuk kedua kalinya Calix mengadukan ketakutannya pada dirinya. Sedang ia, terdiam tidak berbuat apapun dan melihat kedalam ruang yang ditempat Aurelian melalui sebuah kaca dua arah yang terpasang di pintu, memperlihatkan keadaan didalam sana.

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang