34

8.6K 840 15
                                        

"Bagaimana? Sudah ada kabar dari dokter Frans?" Tanya Lysander yang baru saja sampai setelah mengantar Calix dan Orion, pada Andreas yang masih duduk tertunduk di kursi dekat ER (Emergency Room)

Andreas menggeleng pelan, matanya melirik sekilas pada pintu ER yang masih tertutup itu, "belum. Frans masih belum selesai menanganinya."

"Oh, ya Tuhan."

Kini rasa khawatir yang Lysander tahan sedari tadi tumpah, setelah Andreas yang tadi berjalan mondar mandir di depan pintu ER sekarang bergantian dirinya dengan sesekali melongok mengecek keadaan didalam ruangan perawatan darurat itu.

Leo yang berdiri di samping Andreas menatap bergantian antara tuan besar dan tuan muda pertama itu, dalam benak mengangguk mantap bahwa memang benar jika Lysander merupakan duplikat sempurna dari Andreas.

Hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka, Frans dan seorang perawat keluar dari sana. Mereka mendekat pada Andreas yang berdiri menunggu dengan harap cemas.

"Bagaimana? Anakku baik-baik saja kan?" Tanya Andreas saat berhadapan dengan Frans.

Dokter itu menghela nafasnya sejenak, "mari ikut saya sebentar tuan, saya akan menjelaskan mengenai kondisi tuan muda, sementara perawat akan mengalihkannya ke ruang rawat inap."

Andreas melirik terlebih dahulu putra sulungnya, mengangguk saat Lysander memberikan isyarat bahwa dirinyalah yang akan menjaga Aurelian.

Kini dirinya duduk berseberangan dengan Frans diruangan sang dokter. Seorang perawat yang tadi mengikutinya memberikan sebuah papan catatan dari penanganan kondisi Aurelian sebelum akhirnya izin untuk keluar dari ruangan tersebut.

"Begini, tuan. Seperti yang diketahui, bahwa kemoterapi yang dijalani oleh tuan muda menimbulkan banyak sekali efek samping bagi tubuhnya. Semakin kita masuk ke dalam sesi kemoterapi maka semakin besar juga dampaknya. Cara kerja kemoterapi sendiri adalah dengan menghancurkan mutasi sel didalam tubuh penderitanya. Namun dalam prosesnya obat dari kemoterapi yang digunakan tidak hanya menyerang sel yang ter mutasi, tetapi juga turut menyerang sel sehat hingga banyak sekali efek samping yang terjadi selama proses kemoterapi tersebut."

"Saya tidak bisa mengatakan apapun selain bahwa hal yang terjadi pada tuan muda Aurelian merupakan dampak dari kemoterapi yang dijalaninya. Karena itu tuan, saya harap anda juga putra-putra anda yang lain dapat terus berdoa dan menyemangatinya. Karena terkadang, banyak juga pasien yang putus asa di tengah jalan akibat kurangnya dukungan dari orang-orang disekitarnya yang menyebabkan menurunnya semangat hidup pasien."

"Seperti kata, jika luka tubuh mungkin bisa diobati, tetapi luka psikis tidak hanya membebani pikiran, namun juga tubuh penderitanya."

Andreas masuk kedalam kamar inap itu dengan perasaan campur aduk. Perkataan Frans menampar keras hatinya seolah diingatkan kembali mengenai perlakuan buruknya dahulu pada sosok yang kini terlelap tenang di atas ranjang pesakitan ditemani Lysander yang duduk di kursi samping ranjang.

Si sulung mengalihkan pandangannya menatap pada Andreas di depan sana. Tab di tangannya ia simpan, "bagaimana? Apa yang dokter Frans katakan?" Tanyanya cepat.

Andreas terdiam sejenak dan berjalan mendekat, "efek kemoterapi katanya." Jawabnya singkat dengan tatapan mengarah lurus pada Aurelian.

Lysander mengikuti arah pandangan sang papa, dimana Andreas mengusap lembut dahi itu, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi kening mulus Aurelian. "Sampai kapan?" Pertanyaan singkat yang Lysander mengundang keambiguan, namun Andreas mengerti apa yang di maksud oleh sulungnya itu.

"Efeknya mungkin akan bertahan selama beberapa bulan kedepan mengingat setidaknya ada 2 sesi kemoterapi lagi untuknya. Dan lagi, hal itu juga kemungkinan akan membawa dampak lain pada tubuh Aurelian." Andreas beralih menatap Lysander, "... aku harap setelah ini semua berakhir adik mu tidak perlu lagi menjalaninya. Aku tidak sanggup untuk terus melihatnya berbaring diatas ranjang pesakitan ini berulang kali."

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang