Calix dan Orion akhirnya tertidur di ranjang tambahan setelah mereka berdua 'terusir' oleh Aurelian. Dengan saling memunggungi satu selimut yang tersedia pun menjadi korban tarik menarik antara dua bersaudara itu sebelum akhirnya Calix memilih untuk pindah ke sofa dan tidur tenang disana.
Sedang Aurelian yang tertidur di ranjangnya nampak bergerak tidak nyaman. Membuat Calix yang memang masih terjaga karena ia pun entah mengapa tidak bisa tidur spontan menghampiri adiknya, memanggil beberapa kali agar Aurelian bisa sadar dari tidurnya disaat tangan anak itu terus saja meremas baju bagian dadanya dengan nafas tersenggal.
Mata madu Aurelian mulai terlihat meskipun tidak terlalu fokus, kernyitan di dahinya nampak dalam seolah tengah mengisyaratkan akan rasa sakitnya. "Kakak, nafas- Lian tidak bisa bernafas." Katanya tercekat.
"Dada Lian sakit sekali." Lanjutnya lirih hampir tidak terdengar.
Calix panik membangunkan Orion dengan serampangan setelah ia menekan brutal tombol emergency yang ada disamping atas ranjang Aurelian. Menahan tangan Aurelian agar tidak terus menekan dadanya dengan satu tangan, sedang tangan lainnya mengelus pelipis adiknya yang basah akibat keringat.
"Lihat kakak, Lian. Fokus! Kau bisa dengar kakak berbicara bukan? Lian?!" Calix menaikan nada bicaranya saat ia tidak melihat respon apapun dari Aurelian yang terus bergerak acak.
Sedang Orion di sampingnya justru malah terpaku saat kakak ketiganya tengah diambang kesakitannya. Anak itu bingung harus berbuat apa, dan otaknya hanya diam mencerna kejadian yang terjadi dihadapannya sekarang sekaligus menolak segala kemungkinan terburuk yang sempat terlintas.
Melirik Orion, alis Calix menukik tajam saat melihat si bungsu yang malah tidak melakukan apapun disituasi genting ini. "Orion!" Panggilannya tidak membuat Orion bergeming hingga ia berdecak.
"Orion Wilhelm!" Ia membentak membuat Orion terperanjat kembali fokus pada Calix, "pergi dan panggil Frans kemari! Cepat!" Titahnya.
Orion langsung berlari menerobos lorong rumah sakit yang sepi tanpa peduli dirinya akan ditegur atau darah akibat dari tindakannya itu, karena yang ia pikirkan sekarang hanyalah membawa Frans agar dokter itu bisa membantu kakaknya.
Calix masih dalam posisinya kembali dibuat semakin panik saat tubuh Aurelian kejang. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk, terjatuh di wajah adiknya kala ia berkedip. Rasa khawatir dan cemas memenuhi benak membuat ia kalut.
"Adik, apa yang terjadi pada mu? Bukankah kau baik-baik saja dan akan segera sembuh? Kenapa jadi seperti ini?" Calix berujar setengah merengek.
Tangannya masih mencoba menahan tubuh Aurelian dan membawa pandangan mereka untuk bertemu meskipun kini manik madu itu terus saja menatap keatas. "Lihat kakak! Ayo lihat kakak, Lian! Apa kau masih marah karena kakak selalu bertengkar dengan Orion, hm? Maka kakak janji tidak akan melakukannya lagi. Tapi kakak mohon jangan seperti ini."
Suaranya bergetar terdengar putus asa memanggil sang adik yang diambang kesadarannya. Calix benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Pengetahuan mengenai ilmu kedokteran masihlah dangkal hingga sekarang hanya bilah bibirnya saja yang bergerak meminta agar sang adik lebih tenang dan kembali seperti sebelumnya.
Entah karena rasa panik yang membuat detik terlalui menjadi sangat lambat, atau memang Frans yang lama hingga membuat Calix merasa frustasi sendiri akan keterlambatan sang dokter.
Hingga saat pintu dibuka kasar, Frans masuk diikuti oleh seorang dua orang perawat jaga dan Orion di belakangnya, mendekat dengan tergopoh-gopoh. Dengan wajah yang memerah, Calix berteriak membentak sang dokter yang baru saja tiba, "kau sedang apa Frans?! Kenapa lama sekali?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
De Todo[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
