Kamar itu terlihat cukup gelap, hanya diterangi oleh lampu belajar dimana Aurelian duduk disana sambil membaca materi untuk persiapan ujian besok. Hapalan adalah kelemahannya karena itu ia terus saja mengulang-ulang materi, membaca beberapa kali dan menandai hal-hal penting untuk diingat tanpa peduli bahwa kini waktu sudah hampir menunjukan tengah malam.
Ketukan di pintu terdengar membuat ia menoleh dengan tangan terburu buru menutup buku pelajarannya. Ia mengacak rambutnya sekilas sebelum melangkah untuk membuka pintu. Aurelian tahu bahwa baik papa atau saudaranya pasti akan marah jika mengetahui dirinya masih terjaga.
Memasang wajah khas bangun tidur, anak itu berpura-pura untuk menutupi kesalahannya. Namun yang salah disini adalah, baik Andreas atau putra-putranya yang lain tidak pernah mengetuk pintu saat masuk kedalam kamar Aurelian di tengah malam dan Aurelian yang saat itu terlelap tidak pernah menyadarinya.
Membuka pintu, ia menguap kecil matanya dibuat sesayu mungkin saat melihat sosok yang kini berdiri di depannya. Calix, kakak keduanya menatapnya datar tanpa ekspresi pada sang adik yang tengah berusaha menipunya.
Meraup pipi Aurelian dan sedikit menekannya hingga bibir itu terlihat sedikit maju, "berusaha menipu ku, huh?" Katanya menatap tajam Aurelian yang kini tersenyum kaku.
Mendorong masuk tubuh adiknya yang nakal itu, Calix menuntunnya kearah ranjang dan mendudukkannya disana. Mata Calix masih menyorot dengan pandangan yang sama membuat Aurelian menunduk sembari memainkan tangan diatas pangkuannya, gugup sekaligus gelisah karena ia yakin jika kini kakaknya itu tengah marah sekarang.
"Kenapa belum tidur?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Calix membuat Aurelian sedikit tersentak dibuatnya.
"Lian tadi sedang belajar." Jawab anak itu terdengar sedikit bergetar.
"Ditengah malam begini? Disaat semua orang tertidur? Apa lagi kau juga mematikan lampunya, mata mu bisa rusak, kau tahu itu?" Calix mencercanya dengan pertanyaan kekhawatiran namun nada rendah yang digunakannya membuat Aurelian terdiam tidak berkutik.
"Maaf, kak. Lian salah."
"Kau memang salah."
Aurelian meringis dengan hal itu. Calix yang menatapnya dari atas menghela nafas pelan, "sudah, sekarang kau tidur! Aku akan disini untuk memastikan mu benar-benar terlelap. Atau mungkin ... kau ingin tidur sembari dipeluk oleh ku semalaman seperti sebelumnya?"
Aurelian mendongak untuk bisa menatap wajah kakaknya, "boleh? Lian tidak akan menolak jika kak Cal memang ingin tidur bersama."
Dalam benak Calix tersenyum tipis, padahal tadi itu hanyalah ancaman saja, tetapi ternyata adiknya itu malah menyetujuinya. "Kalau begitu, geser. Kau ingin kakak tidur dilantai?"
Anak itu menampilkan cengiran khasnya, menggeser tubuhnya ke sisi lain ranjang membiarkan Calix untuk turut merebahkan tubuhnya. Saat satu tangan Calix terlentang, Aurelian langsung mengambil inisiatif untuk membaringkan kepalanya disana, memeluk manja tubuh kakaknya, "maaf karena sudah membuat mu kesulitan kak." Pandangannya yang mengarah pada dada bidang Calix memancarkan rasa bersalah juga tak enak hati yang ditujukan pada sang kakak dan juga anggota keluarganya yang lain. "Tidak hanya kak Cal, tapi juga papa, kak Sander dan Orion. Aku pasti sudah banyak merepotkan kalian." Sambungnya.
Calix membelai kepala adiknya itu, dan tanpa diduga mencubit pipi Aurelian membuatnya meringis seketika, "apa yang kau katakan, hm? Kakak tidak dengar." Ujarnya. Ia memeluk tubuh kecil adiknya erat bahkan kini kakinya juga turut andil membelit kaki Aurelian, "ayo tidur. Kau tidak ingin besok bangun kesiangan kan?" Ia mulai memejamkan matanya.
Calix tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang menurutnya tidak berarti itu. Karena pada dasarnya, bahkan apa yang dirinya berikan sekarang masih belum cukup untuk mengganti waktu lalu dimana mereka mengacuhkan Aurelian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyacinth
Diversos[Brothership, Familyship, & Bromance Area] [Not BL!] . . . Perlakuan kasar juga sikap acuh tak acuh menjadi landasan penyesalan mereka saat melihat tubuh itu terbaring kaku di ranjang pesakitan setelah sebelumnya di tangani oleh dokter. Satu kali...
