43

5.8K 677 23
                                        

Duduk sendirian di taman, Orion ia minta untuk mengambil minum karena Aurelian kehausan. Cardigan yang menutupi bahunya ia sampirkan pada sandaran tangan kursi rodanya. Kembali menikmati pemandangan dimana pasien tengah dijaga oleh keluarga atau perawat yang bertugas. Hingga matanya menangkap kehadiran dari seseorang yang familiar melintas dengan raut wajah tidak bersahabat.

"Itu... Bukannya lawan bertanding Orion? Papa pernah mengatakan namanya." Gumamnya pelan.

Tanpa diduga pandangan mereka bertemu, Hayden menghentikan langkahnya dan menatap Aurelian. Menyeringai sebelum akhirnya menghampiri sosok kakak dari musuh bebuyutannya.

"Halo."

Aurelian memundurkan wajahnya saat Hayden menundukan tubuhnya hingga sejajar. Kedua tangan pemuda itu dimasukan kedalam saku celana jeans yang dikenakannya, "jika aku tidak salah ingat, kau adalah kakak Orion, iyakan?" Tanyanya.

Terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil membenarkan pertanyaannya Hayden. Aurelian merasa lega saat sosok dihadapannya kembali menegakan tubuh hingga menciptakan ruang kosong yang menjadi pemisah diantara mereka, "sudah aku duga."

Seolah sudah kenal dekat, Hayden duduk di kursi taman yang sebelumnya ditempati oleh Orion. Tatapannya tidak lepas dari Aurelian yang ada di sampingnya, "jadi mengapa kau bisa ada disini?"

Aurelian menatap aneh pemuda itu dalam benak berpikir apa Hayden tidak lihat jika kini ia duduk di kursi roda dengan tangan terinfus? Bertanya mengapa ia ada dirumah sakit dengan kondisi tubuh seperti ini orang normal mana yang tidak akan menyadarinya?

Menatap aneh Hayden, manik madu Aurelian justru terlihat seperti tengah menjudge sosok itu. Memperlihatkan tangannya yang di pasang jarum infus, ia berujar, "sakit." Katanya terdengar ketus.

Ia bukan orang yang mudah dekat jika dengan orang baru. Apalagi Aurelian tahu dengan jeles jika hubungan adiknya dengan Hayden tidaklah baik, jadinya ia memberikan jarak sekaligus perlindungan untuk dirinya sendiri. Karena dalam kondisinya sekarang, jika Hayden sampai melakukan sesuatu Aurelian tidak akan bisa melawannya.

Hayden yang melihat jika kakak dari musuhnya itu nampak memasang perlindungan pun diam-diam menyeringai, "kenapa kau ketus begitu padaku? Rasanya dulu saat aku melihat kau berbicara dengan Orion tidak seperti ini."

Aurelian kembali dibuat heran, "Orion itu adik ku, wajar jika aku berbicara baik padanya. Sedangkan kau..." Ujarnya menatap dengan selidik pada Hayden dari kepala hingga ujung kaki lalu kembali lagi keatas, "...siapa kau? Aku bahkan tidak mengenalmu."

Tanpa Aurelian duga, kekehan samar menguar dari bibir pemuda itu membuat keningnya berkerut halus. Selain karena heran, kini dirinya juga dibuat ketakutan oleh tingkah Hayden.

Berjengit saat pemuda itu mengulurkan tangannya, "kalau begitu perkenalkan, aku Hayden Matarys. Teman Orion saat berada di junior high school."

Aurelian menatap kearah tangan Hayden tanpa mau membalas uluran itu, lantas Aurelian menjawab, "tangan ku terpasang jarum infus. Jika bersalaman akan sakit nanti." Tolaknya secara tidak langsung. Lagian Hayden memperkenalkan dirinya sebagai teman Orion, Aurelian tidak sebodoh itu ya. Ia tahu jika pemuda itu selalu mencari masalah dengan adiknya.

"Owh, sayang sekali." Ujar Hayden. Ia terlihat tidak mempermasalahkannya dan kembali menarik tangannya.

Hening sejenak diantara mereka, manik Aurelian sesekali mencuri pandang kearah Hayden. Beberapa bagian wajah anak itu terlihat lebam, sudut bibirnya bahkan terlihat sobek dengan darah kering disana. Ia pasti habis berkelahi lagi, Hayden memang suka sekali mencari masalah. Batin Aurelian.

"Wajah mu, kau berkelahi?" Aurelian membuka suara meskipun pada awalnya ia tidak berniat untuk bertanya, tetapi hal itu malah menganggu pikirannya.

Hayden yang tadi menatap kedepan kembali menoleh, "kau penasaran?"

HyacinthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang